Simply A Terimakasih

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Anda tentu masih ingat tentang frase ‘tidak tahu terimakasih’. Sebuah sebutan yang biasa kita gunakan untuk menggambarkan mereka yang melupakan orang-orang yang telah berjasa kepadanya. Tentu, ini bukan karena mereka tidak tahu bahwa seharusnya mereka berterimakasih, tapi; egonya terlampau besar untuk bisa mengakui hal itu. Lagi pula, mengapa harus berterimakasih jika hal itu justru akan menunjukkan seolah-olah kerberhasilan yang selama ini kita raih itu bukan dari hasil usaha kita sendiri. Padahal, sesungguhnya yang namanya ‘hasil usaha sendiri’ itu tidak ada. Hanya gara-gara anda membeli sendiri sayur ke pasar. Lalu mencuci. Dan kemudian memasaknya hingga matang. Anda tidak bisa serta merta menganggap bahwa anda menyediakan makanan itu sendiri. Memangnya, siapa yang bersedia belumur lumpur untuk menanam benih sayuran itu ketika masih berupa biji-bijian. Siapa yang bersedia membebani pundaknya membawa sayuran itu dari tengah sawah menuju kepasar didekat rumah? Dan siapa yang sudah memeras keringat memasangkan saluran air untuk mencucinya dipancuran keran air rumah kita? Continue reading

Apakah Kesuksesan Selalu Berkorelasi Dengan Uang?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Anda orang yang sukses? Jika ya. Berarti anda banyak uang. Setidaknya, begitulah yang ada dalam benak begitu banyak orang. Seseorang layak disebut sebagai orang sukses jika memiliki banyak uang. Jika uang yang dimilikinya tidak banyak, rasanya janggal mengait-ngaitkan orang itu dengan sebuah kesuksesan. Sewaktu saya masih kecil, guru ngaji saya mengatakan bahwa; ”orang kaya itu sungguh beruntung,” katanya. ”Karena, dengan kekayaannya, dia bisa menjadi manusia yang banyak memiliki pahala. Sebab,” lanjut beliau. ”Dengan kekayaannya itu, dia bisa berbuat begitu banyak kebajikan.” Kekayaan bisa membantu manusia menuju tempat terhormat disamping singasana Tuhan, kelak ketika mereka kembali kepada jati diri sesunggunya sesudah mati. Dengan kata lain; orang kaya itu enak didunia dan enak juga diakhirat. Tetapi, benarkah selalu demikian? Continue reading

Perlukah Kita Membawa-bawa Dendam Ini?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dendam nyaris selalu disertai sakit hati. Dan itu sering menjadi dasar untuk melakukan sebuah pembalasan. Saat orang lain melakukan sesuatu yang tidak kita sukai, tiba-tiba saja kita merasa mendapatkan ijin khusus dari Tuhan untuk melakukan pembalasan. Bahkan, tidak jarang kita memberikan ‘bonus’ nya sekalian. Jika anda menampar saya perlahan, maka sebagai bonusnya, tamparan balasan dari saya bisa sangat keras sekali. Kalau perlu, hingga membuat anda pingsan. Jika hari ini saya belum bisa membalas anda, maka semuanya itu akan berubah menjadi utang yang wajib untuk dibayarkan kepada anda dimasa depan. Jika tangan saya sendiri tidak mampu melakukannya, maka saya mengutus orang lain untuk mewakili terlunasinya utang-utang itu. Berikut bunganya sekalian. Bukan begitukah kita mendefinisikan sebuah dendam? Continue reading

Tak Ada Gading Yang Tak Retak

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Tak ada gading yang tak retak. Sebuah kalimat yang tidak lagi asing bagi kita. Didunia ini, tak ada seorang manusia pun yang sempurna. Dan, ’tak ada seorang manusia pun’ itu bermakna semuanya, tanpa kecuali. Segala sesuatu yang disebut sebagai manusia pasti tidak sempurna. Tidak peduli siapapun anda, pastilah anda mempunyai kekurangan. Saya pun demikian. Mereka juga begitu. Kita semua mempunyai kekurangan. Jadi, jika ada orang yang begitu percaya diri sehingga merasa dirinya selalu benar; maka kemungkinan dia lupa bahwa dia adalah seorang manusia. Sebab, yang sempurna itu bukan manusia. Sehingga yang menganggap dirinya selalu benar berarti mengira diri sendiri bukan….. Continue reading

Sekali Lagi Tentang Gajah dan Semut

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Apa yang terjadi jika dipelupuk mata anda ditempelkan seekor gajah? Pasti anda tidak dapat melihat apa-apa, bukan? Oh, tentu saja. Tapi anehnya, anda masih bisa melihat seekor semut yang ada diseberang lautan. Begitulah perumpamaan yang disampaikan oleh para bijak bestari ketika mereka hendak mengingatkan kita yang seringkali dapat dengan mudah menemukan kelemahan dan kekurangan orang lain. Sedangkan, terhadap kelemahan dan kesalahan diri sendiri; seolah-olah tidak dapat melihatnya sama sekali. Maka, semut diseberang lautan kelihatan, gajah dipelupuk mata tak tampak sosoknya. Banyak orang yang begitu bersemangatnya mengungkit-ungkit kelemahan orang lain, tanpa terlebih dahulu berkaca atas dirinya sendiri. Sehingga, mereka tidak sadar bahwa boleh jadi; hal yang dia kritisi dari orang lain adalah sesuatu yang sesungguhnya terjadi pada dirinya sendiri. Continue reading

Saya Menemukan Hati Itu Kembali

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kepada saya pernah dinasihatkan; jangan sampai kamu membiarkan hatimu menjadi buta, tuli, dan bisu. Mungkin nasihat itu terasa seperti sekedar basa-basi. Tetapi jika kita coba cermati, ternyata memang; hati manusia itu menentukan segala tindakan dan perbuatannya. Baik kepada diri sendiri, maupun orang lain. Orang-orang yang hatinya buta, tidak dapat melihat dampak merugikan yang ditimbulkan dari perilakunya yang buruk. Orang-orang yang hatinya tuli, tidak bisa mendengar jerit tangis orang lain. Dan orang-orang yang hatinya bisu, tidak mampu mengatakan bisik kebajikan bahkan sekedar kepada dirinya sendiri. Jadi, sungguh berbahaya jika manusia sampai membiarkan hatinya menjadi buta, tuli, dan bisu. Sebab jika sudah demikian, kita yang menganggap diri sebagai mahluk mulia ini tidak akan malu lagi untuk melakukan apa saja. Seburuk apapun itu. Karena kita pada dasarnya; tidak lagi memiliki hati nurani. Continue reading

Kepada Siapa Penghargaan Itu Layak Diberikan?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dalam kehidupan kita, ada banyak orang baik yang bersedia memberikan penghargaan atas kontribusi orang lain. Dalam konteks pekerjaan, ini diwujudkan mulai dari sekedar ucapan terimakasih dari atasan. Bonus dan insentif dari perusahaan. Atau, mungkin namanya disebutkan dan dituliskan dalam sebuah acara atau media yang bergengsi. Tetapi, tidak semua orang mendapatkan penghargaan, meskipun sesungguhnya mereka memiliki andil. Misalnya, jika perusahaan memberikan penghargaan atas kinerja saya, maka sesungguhnya, bukan hanya saya yang layak mendapatkan penghargaan atau pujian itu. Melainkan, semua orang yang turut berkontribusi pada pencapaian itu. Continue reading

Bersediakah Kita Melapangkan Jalan Sang Lawan?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Melapangkan jalan bagi lawan kita. Tidak terdengar seperti gagasan yang cerdas, bukan? Orang yang mempunyai kecanggihan berpikir pasti tahu bahwa melapangkan jalan bagi lawan-lawan kita hanya akan menyebabkan kita kalah dalam persaingan. Kalaupun kita melakukannya, maka harus dipastikan terlebih dahulu bahwa jalan yang kita lapangkan untuk lawan-lawan kita itu menuju ke sebuah jurang kehancuran. Jika jalan itu menuju kepada kejayaan, mengapa mesti dilapangkan untuk sang lawan? Logika berpikir kita seharusnya justru mengatakan untuk menjegal setiap langkah lawan dijalan itu. Kita harus memastikan bahwa jalan menuju kejayaan semacam itu hanya boleh dilewati oleh kita saja. Continue reading

Disukai Semua Orang: Itukah Yang Kita Inginkan?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Disukai orang lain itu merupakan sebuah kenikmatan. Makanya tidak heran kalau banyak orang berlomba-lomba untuk menyenangkan orang lain, supaya orang-orang itu menyukainya. Lagipula, apa salahnya sih membuat orang lain suka sama kita? Bukankah bagus-bagus saja jika kita membuat orang lain senang? Berarti kita berhasil melakukan sesuatu sesuai keinginan mereka, bukan? Stop. Jangan diteruskan. Apa yang dimaksud dengan ’kita berhasil melakukan sesuatu sesuai keinginan mereka’ itu? Dalam konteks melayani, memang kita dituntut untuk bisa melakukan sesuai keinginan mereka; apalagi jika mereka itu pelanggan kita. Tetapi, apakah segala yang mereka inginkan harus kita penuhi? Saya yakin anda sependapat untuk menjawab ’tidak’. Tidak semua yang mereka inginkan harus kita ikuti dan penuhi. Contohnya apa? Ketika keinginan orang lain melampaui batas-batas etika. Ada yang seperti itu? Banyak. Dan ketika keinginan mereka mengandung unsur kriminal. Adakah? Tak terbilang. Juga ketika keinginan mereka merendahkan martabat kita sebagai seorang manusia. Memangnya bisa terjadi? Mengapa tidak? Betapa banyak orang yang menginginkan sesuatu, meskipun dia tahu bahwa orang lain harus mengorbankan martabatnya demi terpenuhinya keinginan itu. Ada banyak hal yang diinginkan oleh orang lain; dan kita tidak perlu mengikutinya. Tetapi, bukankah kalau kita tidak memenuhi keinginan mereka maka mereka tidak akan menyukai kita? So what? Continue reading

“Ibu……..”

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dipagi hari beberapa waktu yang lalu, saya berbalas email dengan seorang sahabat melalui milist mantan aktivis di kampus. Sahabat saya itu baru saja dikaruniai kelahiran putra keduanya. Nama anaknya bagus sekali. Dan dibelakang nama anak itu ditambahkan nama bapaknya – sahabat saya itu. Saya turut berbahagia, seperti yang saya katakan kepadanya. Saya kemudian berujar; “Para lelaki tidak bisa membuat anak sendirian. Lantas, mengapa kita yang kaum pejantan ini seringkali menyabotase anak yang dilahirkan oleh istri-istri kita dengan menempelkan nama kita dibelakang nama mereka?”. Saya berani bilang begitu karena dia adalah sahabat kental yang sudah sejak jaman kuliah dulu saling canda; dan kami tak pernah tersinggung.

Beberapa jam setelah email di milist itu; saya mendapatkan email dari rekan dikantor. Kakak kelas sewaktu kuliah dulu. Beliau mengabarkan bahwa salah satu sahabat terbaik saya dikelas; meninggal dunia pagi ini, setelah mengalami komplikasi melahirkan akibat eklamsia. Saya tertegun. Pagi itu, mendadak saja saya usil pada ulah para lelaki seperti saya ini. Dan ternyata, pada saat yang sama dibelahan bumi yang lain, seorang perempuan harus meregang nyawa – benar-benar meregang nyawa – dalam usahanya untuk membawa sebuah kehidupan baru. Seorang bayi manusia yang mesti dia tebus dengan nyawanya sendiri. Perempuan itu; menukarkan nyawanya sendiri untuk sebuah kehidupan hasil dari benih kasihnya dengan sang suami. Perempuan itu, rela menutup matanya sendiri dan memberikan mata indah itu kepada mata hatinya. Kemudian menghadiahkannya kepada sang suami. Perempuan itu, seperti banyak perempuan lain dimuka bumi ini; bersedia menyerahkan hidupnya sendiri, sebagai sebuah pengorbanan yang tiada terperikan. Continue reading