<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dadang Kadarusman (DEKA)</title>
	<atom:link href="http://www.dadangkadarusman.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.dadangkadarusman.com</link>
	<description>NatIn™ People Development Training &#38; Consulting</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Apr 2012 03:49:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Natin Meresapi Nilai Luhur Perusahaan</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/27/natin-meresapi-nilai-luhur-perusahaan/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/27/natin-meresapi-nilai-luhur-perusahaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 03:49:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Natural Intelligence]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=3227</guid>
		<description><![CDATA[(Next Batch Public Training &#8220;Natural Intelligence Leadership&#8221; 13-14 Juni Di Jakarta, Hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327) Khoek. Puh! “Ini kopi apa-an sih?!” Teriak Opri. “Elo yang bener dong kalau bikin kopi buat gue.” Matanya melotot kearah Jeanice. &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/27/natin-meresapi-nilai-luhur-perusahaan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">(Next Batch Public Training &#8220;Natural Intelligence Leadership&#8221; 13-14 Juni Di Jakarta, Hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327)</font></marquee></p>
<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/core_values_ymca-pierpointwp.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/core_values_ymca-pierpointwp.jpg" alt="" title="core_values_ymca-pierpointwp" width="300" height="300" class="alignleft size-full wp-image-3228" /></a><br />
Khoek. Puh!<br />
“Ini kopi apa-an sih?!” Teriak Opri. “Elo yang bener dong kalau bikin kopi buat gue.” Matanya melotot kearah Jeanice. </p>
<p>Ini adalah hari melayani. Orang yang kebagian bertugas untuk melayani, harus menyediakan minuman untuk temannya yang sedang kebagian giliran untuk dilayani. Jeanice. Kebagian melayani Opri.</p>
<p>“Elo nggak tahu kalau gula itu yang mana?” hardiknya lagi.<br />
Jeanice hanya bisa mengkerut. Semua orang di kubikal merinding mendengarnya. Tapi mereka juga nggak tega membiarkan kebaikan Jeanice yang dibalas oleh hardikan Opri. Bagaimana pun juga, Jeanice itu bukan pembantu. Dia hanya menjalankan perannya untuk belajar melayani. </p>
<p>“Udahlah Pri, nggak usah marah-marah gitu,” Aiti mencoba menengahi. “Nih, elo ambil aja minuman punya gue,” katanya. Sembari menyodorkan cangkir hangatnya. <span id="more-3227"></span></p>
<p>Opri menolak. Tapi. Akhirnya dia mau juga menerimanya. Meski dengan penerimaan itu dia harus menghentikan kekesalannya kepada Jeanice. “Gue juga kan kalau bikinin minuman buat dia nggak sembarangan.” Begitulah gerutuan terakhir yang keluar dari bibir tebal sensualnya.</p>
<p>Semua orang diam saja. Yang penting setelah itu nggak ada lagi omelan tambahan. Sehingga semua orang. Sekarang sudah bisa kembali ke kubikal masing-masing. Untuk menjalankan pekerjaannya dengan tenang.</p>
<p>Mereka baru menikmati keheningan selama lima belas detik. Ketika bunyi ‘Khoek. Puh!’ itu terdengar lagi.</p>
<p>“Gila kali ya orang-orang ini.” Teriak Opri. “Ti. Siapa yang bikin minuman yang elo kasih ke gue?”</p>
<p>“Fiancy….” Jawab Aiti. “Emangnya kenapa Pri?” dia keheranan.<br />
Orang yang disebut namanya sembunyi dikolong meja kubikalnya. </p>
<p>“Nggak si Fiancy. Nggak si Jeanice. Sama-sama nggak ngerti gula itu kayak apa. Dasar anak mama semua.” Makinya. “Gue mending bikin minuman sendiri aja!” katanya sambil beranjak pergi.</p>
<p>“Eh, eh, eh… jangan gitu dong Pri,” Sekris berusaha mencegahnya. “Kalau elo lakukan itu maka elo bisa ngerusak kebiasaan kita yang sudah susah payah diajarkan Natin.” Katanya.</p>
<p>Memang. Dua kali dalam seminggu, mereka punya hari meyalani di kubikal. Setiap orang mendapatkan giliran melayani. Dan dilayani. Tapi. Sebelumnya nggak pernah kejadian heboh seperti ini. Gara-gara Jeanice dan Fiancy nggak bener bikin minuman untuk temannya.</p>
<p>“Elo nggak pakai gula, Fi?” tanya Aiti. Untung saja dia belum meminumnya.<br />
“Pake kok….” Jawab Fiancy dengan wajah tegang.<br />
“Gue juga tadi udah pake gula kok….” Jeanice nggak mau ketinggalan. Bagaimana pun juga dia nggak mau disalahkan.</p>
<p>“Gue tahu elo pade pake gula,” bentak Opri. “Tapi elo aduk apa nggak tuch gula?”</p>
<p>“Ng-Nggak… he…” Jeanice dan Fiancy nyengir hampir bersamaan.</p>
<p>“Yeeee, elo!” sekarang Aiti juga ikut protes juga. “Pake gula sekilo juga kalau nggak diaduk ya nggak ada artinya dong…” tambahnya.</p>
<p>“Siape lagi yang pake gula tapi nggak diaduk selain dua anak mami ini?” Opri menatap semua orang yang hari itu bertugas untuk melayani.</p>
<p>Diluar dugaan. Semua orang yang tadi pagi membuatkan minuman untuk temannya pada ngacung. Itu artinya. Semua orang pada nggak ngaduk gulanya.</p>
<p>Karuan aja semua orang yang mendapat giliran dilayani pada sewot. Untung baru Opri sendiri yang minum. Coba kalau semua orang udah pada minum. Yang marah bisa setengah dari populasi yang ada. Siapa yang bisa ngelerai kalau begitu caranya?</p>
<p>Maksud elo pade apa?<br />
Itulah pertanyaan yang meluncur dari mulut orang-orang yang dilayani. </p>
<p>Bukannya menjawab. Orang-orang yang melayani malah cuman senyum-seyum aja. Setelah diprotes sekali lagi. Barulah mereka bicara. “Menu hari ini….” Katanya serempak.</p>
<p>Sekarang orang-orang pada tahu kalau itu semua ulah Natin.</p>
<p>“Waah… udah kelewatan nih si Natin,” cetus Opri. “Mesti gue kasih pelajaran dia nih,” Dia langsung menuju ke pantry.</p>
<p>“Eh Pri, sabar Pri…” semua orang berteriak. Namun sia-sia saja. Cewek macho itu kalau udah marah suka susah ngeremnya. Akhirnya semua orang pada berlarian mengejarnya. Takut kalau-kalau kemarahan Opri berlebihan.<br />
“Natin!” begitu teriak Opri ketika tiba di pantry. “Sini lu!” katanya.<br />
Percuma saja. Nggak ada siapa-siapa disana. Mungkin Natin sudah pergi menyelamatkan diri. Orang-orang merasa lega. </p>
<p>“Udahlah Pri. Yok, kita kerja lagi,” bujuk Aiti.<br />
Opri tak bergeming. Dia tetap berdiri mematung. Tanpa sepatah katapun yang terucap dari mulutnya. Matanya lurus menatap ke depan. Membuat orang-orang pada penasaran. Opri sedang melihat apa?</p>
<p>Ternyata. Opri terpaku oleh tulisan yang ada di whiteboard pantry. Begitu juga dengan orang-orang yang tadi sudah pada ke pantry. Sama terpakunya dengan Opri. Seingat mereka. Tulisan itu tadi belum ada.</p>
<p>Tadi. Mereka hanya bertemu dengan Natin. Belum ada tulisan apa-apa disana.<br />
Natin hanya berpesan agar untuk hari itu. Tolong jangan diaduk gulanya. Mereka menurut saja. Karena percaya bahwa Natin melakukan itu untuk satu alasan.</p>
<p>Dan sekarang. Mereka tahu alasan itu.<br />
Di whiteboard itu dituliskan menu hari ini:</p>
<p>LEBURKAHLAH NILAI-NILAI PRIBADIMU<br />
AGAR MENYATU DENGAN  NILAI-NILAI PERUSAHAAN</p>
<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Jika Anda membutuhkan trainer untuk perusahaan Anda, Silakan Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327 </font></marquee></p>
<p>Sekarang mereka mengerti. Seperti gula yang tidak diaduk dalam secangkir minuman. Nilai-nilai pribadi kita yang tidak dileburkan dengan nilai-nilai perusahaan akan terasa tidak enak.</p>
<p>Faktanya. Setiap orang mempunyai system nilai didalam dirinya masing-masing. Sistem nilai itulah yang kemudian menjelma menjadi karakter pribadi. Misalnya. Orang yang percaya bahwa keramahan itu adalah penting. Maka dia akan tampil menjadi pribadi yang ramah.</p>
<p>Orang yang percaya bahwa senyum itu merupakan gambaran pribadi yang menarik. Akan berusaha untuk selalu tampil dengan senyum.</p>
<p>Orang yang meyakini bahwa kedisiplinan itu tidak bisa ditawar-tawar lagi, akan bersikap tegas dalam segala hal di keseharian kerjanya.</p>
<p>Sistem nilai yang sudah mengkristal didalam diri kita. Akan mewujud dalam karakter. Perilaku. Dan tingkah polah kita.</p>
<p>Dan karena setiap pribadi memiliki system nilainya masing-masing. Maka kita menemukan bahwa setiap orang memiliki karakternya yang berbeda-beda. Itulah yang kemudian kita sebut sebagai ‘keunikan’.</p>
<p>Di dinding kubikal itu tertempel poster-poster berisi nilai-nilai luhur perusahaan. Ada Sembilan nilai luhur. Saking banyaknya. Sampai-sampai tak seorang pun yang bisa menghafalnya lebih dari tiga hari. Sudah hafal sih waktu itu. Tapi sekarang sudah lupa lagih.</p>
<p>Lupa karena nilai-nilai itu belum benar-benar mereka mengerti. Apalagi dipahami. Lebih jarang lagi dilaksanakan dalam kehidupan kerja sehari-hari. </p>
<p>“Yang penting kerjaan gue beres. Omong kosong deh nilai-nilai luhur itu!” Ada yang sampai ngomong begitu juga loh. Tapi demi menjaga privasi. Nggak usah disebutin namanya disini.</p>
<p>Kata Natin. Nilai-nilai luhur perusahaan itu tidak ada yang buruk. Semuanya bagus. Misalnya. Nilai nomor satu. “Menjunjung tinggi kejujuran dalam berbisnis”. </p>
<p>Coba itu. Betapa bagusnya nilai itu, kan? Perusahaan ingin agar karyawannya menjunjung tinggi kejujuran saat bekerja. Kalau semua orang di kubikal bersedia meleburkan diri dengan nilai luhur nomor satu itu. Woooh, betapa baiknya hasil kerja mereka. Nggak ada tuch yang minta amplop dibawah meja.</p>
<p>Nilai luhur nomor dua. “Menghargai sesama.” Tuch. Kurang bagus apa, coba? Masih ada kan orang yang suka merendahkan temannya. Nggak sedikit juga atasan yang sok kuasa. Sama sekali nggak mau menghargai bawahannya. Mentang-mentang kedudukan mereka lebih tinggi. Sok mulia sendiri.</p>
<p>Natin bilang. Leburkan dirimu kedalam nilai-nilai luhur perusahaan. Seperti gula melebur didalam air minum kesukaanmu. </p>
<p>Entah siapa yang memulai. Semua orang sudah tidak berada di pantry lagi. Sekarang mereka sudah kembali ke kubilal. Tapi tidak duduk di kursi. </p>
<p>Semuanya pada berjalan menelusuri dinding kantor. Lalu berhenti di setiap poster yang memajang nilai luhur perusahaan. </p>
<p>Kali ini mereka membacanya dengan hikmad sekali. Sambil bertanya-tanya; apakah saya sudah menjalankan nilai luhur itu. Satu demi satu poster sudah mereka lalui. Dan satu demi satu nilai luhur melebur didalam diri. </p>
<p>Sekarang. Sampailah mereka di poster terakhir. Nilai luhur nomor sembilan. “Memupuk rasa peduli.” Ternyata. Apa yang mereka lakukan selama ini. Untuk secara bergantian saling melayani. Merupakan salah satu wujud dari pemahaman terhadap nilai luhur itu.</p>
<p>Natin telah mengajak mereka untuk melakukan tindakan kecil. Yang nyata. Dalam mencerminkan pemahaman mereka. Atas nilai-nilai luhur perusahaan. </p>
<p>Tanpa terasa. Nilai-nilai luhur itu sekarang sudah tertanam lebih dalam dihati mereka. Nilai yang selama ini mereka anggap mengawang-awang. Sekedar hiasan dinding kantor. Yang tidak memiliki arti sama sekali. Selain jargon belaka.</p>
<p>Sekarang. Mereka melihat bahwa semuanya bisa diimplementasikan. Melalui tindakan-tindakan paling sederhana. Dalam kehidupan kerja mereka.</p>
<p>“Kalian lagi pada kesambet ya?” Pak Mergy ujuk-ujuk datang entah dari mana. “Pada bengong ngadep tembok segala.” Lanjutnya. “Emangnya ditembok itu ada foto saya?”</p>
<p>Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..</p>
<p>Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa nilai-nilai luhur perusahaan nggak akan pernah membumi. Selama kitanya sendiri nggak mau menerapkannya dalam kegiatan kerja sehari-hari. Bukan nilai-nilai luhur itu yang tidak kejangkau. Kitalah yang tak mau menjangkaunya. Tidak peduli sebaik apapun nilai luhur itu. Jika kita tidak mau memperdulikannya. Maka tidak akan ada manfaatnya sama sekali. Nilai-nilai luhur itu bukanlah sekedar omong besar top management. Melainkan cita-cita perusahaan. Untuk menciptakan iklim kerja yang jauh lebih baik. Lebih bermartabat. Dan lebih menyenangkan. Sehingga kita. Tidak sekedar mendapatkan sejumlah uang. Melainkan juga bertumbuh. Menjadi pribadi. Yang memiliki nilai-nilai yang terpuji.</p>
<p>Salam hormat,<br />
Mari Berbagi Semangat!<br />
DEKA &#8211; Dadang Kadarusman – 27 April 2012<br />
Next Batch Public Training &#8220;Natural Intelligence Leadership&#8221; 13-14 Juni<br />
Info lebih lanjut: 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327.<br />
<a href="http://www.twitter.com/dangkadarusman"><img src="http://twitter-badges.s3.amazonaws.com/follow_me-a.png" alt="Follow dangkadarusman on Twitter"/></a></p>
<p><strong>Catatan Kaki</strong>:<br />
Seperti gula yang tidak diaduk. Nilai-nilai luhur perusahaan yang tidak diresapi, tidak akan pernah terasa kebaikan manfaatnya.</p>
<p>Ingin tahu kisah-kisah seru Natin &#038; The Cubicle lainnya? Kunjungi dan bergabung di <a href="http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ " target="_blank">http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ </a></p>
<p><strong>BATCH #2 ”NATURAL INTELLIGENCE LEADERSHIP” 13 s/d 14 JUNI:</strong> Teman-teman,<br />
<a href="http://www.dadangkadarusman.com/public-training/" target="_blank">Batch ke-2 Training ”Natural Intelligence Leadership (NatIn™)” </a> dijadwalkan tanggal 13 s/d 14 Juni 2012 Pendaftaran: di 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com</p>
<p><strong>IN-HOUSE TRAINING <a href="http://www.dadangkadarusman.com/new-year-new-spirit-new-hope-topik-baru/" title="New Year – New Spirit – New Hope (Topik Baru!)" target="_blank">&#8220;<strong>ADAPTING to CHANGE</strong>&#8220;</a>. </strong><br />
: Diatas kertas, rencana perubahan itu selalu mudah untuk dibuat. Tapi dalam pelaksanaannya, tidak semua orang bisa diajak untuk berubah. Sikap dan respon karyawan terhadap perubahan itu justru menjadi titik kritisnya. Sehingga membuka kesadaran karyawan untuk menerima perubahan menjadi sangat penting sekali. Kalau perusahaan Anda sedang menerapkan proses perubahan, maka para karyawan Anda perlu mendapatkan training <a href="http://www.dadangkadarusman.com/new-year-new-spirit-new-hope-topik-baru/" title="New Year – New Spirit – New Hope (Topik Baru!)" target="_blank">&#8220;<strong>ADAPTING to CHANGE</strong>&#8220;</a> ini. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com (HANYA UNTUK PERUSAHAAN YANG SEDANG MELAKUKAN PERUBAHAN)</p>
<p>Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
<strong>Subscription:</strong> Jika Anda ingin mendapatkan kiriman Artikel Inspiratif dari DeKa secara GREATIST, gampang kok. Silakan bergabung di Milist Natural Intelligence yang dikelola Deka. Caranya, masukkan email Anda dalam kotak yang disediakan dibawah ini:<br />
<input style="vertical-align: top"<br />
<input type="image" alt="LALU KLIK DISINI" name="Klik Disini"/>
<p style="text-align: center;">
Gambar:pierpoint.wp.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/27/natin-meresapi-nilai-luhur-perusahaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Menjadi Orang Penting</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/26/cara-menjadi-orang-penting/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/26/cara-menjadi-orang-penting/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2012 03:35:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=3223</guid>
		<description><![CDATA[Next Batch Public Training &#8220;Natural Intelligence Leadership&#8221; 13-14 Juni Di Jakarta, Hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 Hore, Hari Baru! Teman-teman. Catatan Kepala: ”Seseorang yang kehadirannya bisa memberi manfaat kepada orang lain, akan selalu dianggap penting. Karena keberadaannya, &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/26/cara-menjadi-orang-penting/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Next Batch Public Training &#8220;Natural Intelligence Leadership&#8221; 13-14 Juni Di Jakarta, Hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327</font></marquee></p>
<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/VIP-kompasianacm.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/VIP-kompasianacm-300x300.jpg" alt="" title="VIP-kompasianacm" width="300" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-3224" /></a> Hore, Hari Baru! Teman-teman.</p>
<p><em><strong>Catatan Kepala:</strong> ”Seseorang yang kehadirannya bisa memberi manfaat kepada orang lain, akan selalu dianggap penting. Karena keberadaannya, penting bagi orang lain.”</em></p>
<p>Salah satu keinginan mendasar setiap orang adalah; dihargai atau dianggap penting oleh orang lain. Sayangnya, kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan itu. Ada kalanya, orang lain tidak peduli akan keberadaan kita. Pergi tak ganjil. Datang tak genap. Mereka tidak menganggap kita ada. Benar. Kita bisa cuek saja. Tetapi sebagai mahluk sosial, kita tidak disiapkan untuk hidup dalam lingkup seperti itu. Kita butuh pengakuan dari orang lain. Pengakuan atas keberadaan diri kita. Kita. Butuh orang lain menganggap diri kita penting. Lantas, bagaimana caranya menjadikan diri kita penting? <span id="more-3223"></span></p>
<p>Ketika gigi sedang ingin iseng, saya membeli 3 bungkus keripik. Lalu menikmatinya bersama istri. Saat mengunyah penganan itu, istri saya berkata; “Kalau keripik yang waktu itu kita beli, bumbunya kerasa banget ya…”.  Dhung! Buat saya, kalimat itu seperti ‘wake up call.’ Ada sesuatu yang kita rindukan. Ketika kehadirannya tidak kita rasakan. Garam, gula, merica dan cabai dalam keripik itu misalnya. Ketika kita merasa mereka tidak ada. Kita merindukannya. Keberadaan diri kita juga demikian. Jika kita bisa memberi kesan yang baik. Berkontribusi positif. Kepada orang lain. Maka tentu orang lain akan menganggap diri kita penting. Gagasannya sesederhana itu ternyata. Nah, bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menjadikan diri kita penting bagi orang lain, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:    </p>
<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Next Batch Public Training &#8220;Natural Intelligence Leadership&#8221; 13-14 Juni Di Jakarta, Hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327</font></marquee></p>
<p><strong>1. Kitalah yang menentukan diri kita penting atau tidak</strong>. Sepenting apa sih pekerjaan Anda bagi Anda? Tentu penting. Jika tidak, mengapa harus mempertahankannya, bukan? Bagi orang lain, apakah sedemikian pentingnya juga? Karena setiap pekerjaan terkait langsung dengan pekerjaan lainnya, maka penting atau tidaknya Anda bagi orang lain sangat bergantung pada bagaimana Anda menyelesaikan pekerjaan itu. Jika kita mengerjakannya dengan baik, maka peran kita menjadi sangat penting bagi mereka. Tapi, jika kita mengerjakannya secara ‘biasa-biasa’ saja; mengapa orang harus menilai kita sedemikian pentingnya? Jadi bukan orang lain yang menentukan apakah kita penting atau tidak. Melainkan diri kita sendiri. Melalui peran yang kita bawakan dalam menyelesaikan tugas-tugas kita.</p>
<p><strong>2. Menyelesaikan bagian kita</strong>. Pekerjaan kita, seringkali sangat bergantung pada pekerjaan orang lain. Misalnya, laporan yang kita buat ditentukan oleh data yang masuk dari departemen lain. Sebaliknya. Pekerjaan orang lain juga ditentukan oleh kualitas kerja dan ketepatan waktu penyelesaian bagian kita. Banyak orang yang kesal kepada temannya karena mereka lelet. Sehingga, mempengaruhi deretan pekerjaan lainnya. Jelas sekali jika kelemahan satu orang dalam mengerjakan bagiannya menjadi titik lemah bersama. Makanya, ada orang yang gampang diterima oleh banyak kalangan. Dan ada yang dijauhi dan ditolak disana sini. So, jika ingin dianggap penting didalam kelompok kerja kita; maka kita harus memastikan bisa menyelesaikan tugas bagian kita dengan sebaik-baiknya. </p>
<p><strong>3. Menjadikan diri kita berguna</strong>. Setiap orang dimotivasi oleh bisikan yang datang dari dalam dirinya sendiri. Dalam hal apapun. Disadari atau tidak. Kita selalu bertanya; apa sih untungnya buat gue? Ini bukan egois. Melainkan pertanda bahwa semakin hari, dunia semakin menuntut efisiensi. Jika kehadiran orang lain tidak berguna buat kita, mengapa dia jadi sedemikian pentingnya bagi kita? Sebaliknya, hanya jika kita bisa berguna bagi orang lain saja; mereka akan menilai kita penting.  Jika tidak, maka kita tidak akan mendapatkan tempat dihati mereka. Makanya, menjadikan diri kita berguna bagi orang lain itu adalah aspek yang sangat penting. Untuk menjadikan diri kita penting dimata orang lain. Tunjukkan kepada mereka bahwa kehadiran kita benar-benar berguna. Tentu. Kita menjadi penting bagi mereka.</p>
<p><strong>4. Memainkan peran kita sebaik-baiknya</strong>. Kita berbagi peran dan tanggung jawab dengan orang-orang yang berhubungan dengan kita. Dengan atasan. Dengan bawahan. Dengan teman. Ketika peran dan tanggungjawab itu sudah dibagi-bagi, maka penyelesaian peran masing-masing sangat menentukan kinerja team secara keseluruhan. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, semua anggota team akan mengevaluasi. Kenapa kinerja kita buruk begini? Pada saat itu akan ketahuan; siapa yang tidak bisa menyelesaikan perannya dengan baik. Selanjutnya, sudah bisa ditebak. Seseorang harus sanggup memainkan perannya sebaik-baiknya. Atau disingkirkan. Maka jika kita ingin dianggap penting orang lain. Kita, harus bisa memainkan peran kita sebaik-baiknya. </p>
<p><strong>5. Menunaikan misi hidup kita</strong>. Apa sih alasan utama Anda melakukan sesuatu? Mungkin gaji. Bonus. Pujian. Kemenangan. Semuanya itu; wajar saja.  Tetapi tubuh kita ini diciptakan melampaui semua ukuran material itu. Kita lahir dengan satu misi; untuk memberi manfaat kepada lingkungan. Bisa berarti perusahaan. Teman-teman. Tetangga. Semuanya. Kita selalu punya pilihan untuk mengurung diri. Yang penting kerjaan selesai. Habis perkara. Tetapi dengan misi hidup itu; kita tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat pekerjaan. Tingkatan. Maupun golongan. Kita akan terus memacu diri untuk secara konsisten berkontribusi kepada orang lain. Ajaibnya. Hukum alam tetap jalan. Ketika banyak berkontribusi. Maka kehadiran kita menjadi sangat penting sekali. So, perbanyaklah kontribusi. Maka Anda menjadi pribadi yang penting. </p>
<p>Ketika kita merasa terisih dari lingkungan. Hal pertama yang perlu kita lakukan bukanlah mempertanyakan mengapa mereka memandang kita sebelah mata. Melain merenungkan; apa yang belum saya lakukan untuk berkontribusi kepada mereka? Karena dengan kontribusi itu, kita menjadi penting bagi mereka. Dan ketika kita menjadi penting. Mereka bersedia menerima kita. Pantaslah jika Rasulullah mengingatkan dengan kalimat indahnya; “Sebaik-baiknya seorang hamba. Adalah dia yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” Bisakah kita menjadi sebaik-baiknya hamba itu? Insya Allah.</p>
<p>Salam hormat,<br />
Mari Berbagi Semangat!<br />
DEKA &#8211; Dadang Kadarusman –  26 April 2012<br />
<strong>Next Batch Training ”Natural Intelligence Leadership” 13-14 Juni 2012</strong><br />
Info lebih lanjut: 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327.</p>
<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Follow DEKA on Twitter @dangkadarusman </font></marquee></p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Bukan pandangan orang lain yang menentukan apakah kita ini penting bagi mereka atau tidak. Melain tindakan yang kita lakukan untuk memberi manfaat kepada mereka.</p>
<p><strong>NEXT BATCH PUBLIK TRAINING “NATURAL INTELLIGENCE LEADERSHIP”:</strong> Leaders, saya ajak Anda untuk mengikuti training kepemimpinan yang lain dari yang lain. “Natural Intelligence Leadership”. Tanggal 13 s/d 14 Juni 2012 di Hotel Menara Peninsula Jakarta. Training ini menawarkan PARADIGMA BARU tentang kepemimpinan. Training leadership ini: BEDA. Para leaders, daftar yok di 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com (DIBATASI MAKSIMUM 30 ORANG)</p>
<p><strong>IN-HOUSE TRAINING “ADAPTING TO CHANGE”: </strong>Diatas kertas, rencana perubahan itu selalu mudah untuk dibuat. Tapi dalam pelaksanaannya, tidak semua orang bisa diajak untuk berubah. Sikap dan respon karyawan terhadap perubahan itu justru menjadi titik kritisnya. Sehingga membuka kesadaran karyawan untuk menerima perubahan menjadi sangat penting sekali. Kalau perusahaan Anda sedang menerapkan proses perubahan, maka para karyawan Anda perlu mendapatkan training “Adapting To Change“ ini. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com (HANYA UNTUK PERUSAHAAN YANG SEDANG MELAKUKAN PERUBAHAN)</p>
<p>Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
<strong>Subscription: </strong>Jika Anda belum namun ingin mendapatkan kiriman artikel inspiratif langsung dari Dadang Kadarusman – GREATIST! – silakan bergabung dengan milist yang baru saja kami buat. Daftar di link ini: http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
<marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Next Batch Public Training &#8220;Natural Intelligence Leadership&#8221; 13-14 Juni Di Jakarta, Hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327</font></marquee></p>
<p>Gambar : kompasiana.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/26/cara-menjadi-orang-penting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Natin Membawa Ilmu Ke Tempat Kerja</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/24/natin-membawa-ilmu-ke-tempat-kerja/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/24/natin-membawa-ilmu-ke-tempat-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 02:37:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Natural Intelligence]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=3218</guid>
		<description><![CDATA[Next Batch Public Training &#8220;Natural Intelligence Leadership&#8221; 13-14 Juni Di Jakarta, Hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 Tambah item. Itu yang pasti. Kulit semua orang sudah pada lebih gelap dari sebelumnya. Selain Opri, semua gadis disitu pada menggerutu. &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/24/natin-membawa-ilmu-ke-tempat-kerja/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Next Batch Public Training &#8220;Natural Intelligence Leadership&#8221; 13-14 Juni Di Jakarta, Hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327</font></marquee><br />
<a href="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/Definisi-Belajar-pajriactivatedbp.gif"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/Definisi-Belajar-pajriactivatedbp-291x300.gif" alt="" title="Definisi Belajar-pajriactivatedbp" width="291" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-3219" /></a> Tambah item.<br />
Itu yang pasti. Kulit semua orang sudah pada lebih gelap dari sebelumnya. Selain Opri, semua gadis disitu pada menggerutu. Kayaknya. Nggak rela kulit yang sudah diputih-putihin selama berbulan-bulan itu langsung menjadi coklat tua hanya dalam waktu  dua hari saja.</p>
<p>Sudah resiko lah itu.<br />
Berani pergi ke pantai. Mesti berani juga mengambil resiko kulit terbakar matahari.<br />
“Item itu seksi, lageee,” begitu kata Opri.</p>
<p>Gadis-gadis yang lain nggak berselera untuk menanggapi. Mereka hanya saling memandang satu sama lain. Sambil saling berkedip penuh arti. Bagi mereka. Opri adalah seorang cewek yang mempunyai hormon testosterone lebih banyak daripada estrogen. Jadi. Ya, gitu deh. Nggak ada anggun-anggunnya sama sekali. <span id="more-3218"></span></p>
<p>Semua orang di kubikal belum benar-benar siap untuk bekerja. Pikiran mereka masih dipenuhi oleh kenangan-kenangan yang menyenangkan. Badan mereka. Masih diserang oleh kepenatan. Jadi. Meskipun secara fisik mereka sudah tiba kembali di kubikal. Tapi secara mental. Mereka belum siap memulai kerja kembali.</p>
<p>Biasanya kan memang begitu.<br />
Kalau kita terlalu lama meninggalkan kantor. Kita jadi malas sekali ketika hari pertama kembali ke kantor. Seperti mesin mobil yang terlalu lama diparkir. Butuh waktu yang lama untuk memanaskannya kembali. </p>
<p>Walhasil. Mereka pada nyangkut di pantry.<br />
Seperti mengerti keadaan itu. Natin juga belum menuliskan apapun di whiteboard pagi itu. Mungkin dia paham kalau semua orang masih pada belum ‘in’ lagi.</p>
<p>Dari dalam diri, mereka masih males-malesan. Dari luar, nggak ada yang ngingetin. Lengkap sudah deh. Hari itu menjadi hari males sedunia. Apa lagi membayangkan kerjaan yang menumpuk setelah ditinggal 2 hari outing itu. Eerrrgghh… </p>
<p>Cuma bibir-bibir seksi mereka aja yang masih bersemangat untuk bercerita tentang ini dan itu. Cerita-cerita yang tak akan pernah habis-habisnya dibahas. Soal pasir. Pantai. Ikan-ikan yang manja ketika diving. Pernak-pernik yang mereka temukan. Semuanya. </p>
<p>Sudah hampir jam sembilan.<br />
Mereka masih belum mengerjakan apapun. Memang. Sebagian sudah ada yang kembali ke kubikal masing-masing. Tetapi. Dengan langkah gontai. Dan gerakan lamban seperti orang-orang  kelaparan.</p>
<p>“Mohon perhatian,” suara resepsionis terdengar di speaker yang menempel di langit-langit seluruh penjuru ruangan. Semua orang di kubikal memasang telinganya tajam-tajam.</p>
<p>“Dengan ini diumumkan bahwa tahun depan,” lanjutnya. “Outing dan Training ditiadakan.”</p>
<p>Telinga orang-orang tersengat oleh kata ‘ditiadakan’ yang diucapkan oleh resepsionis itu. Sekarang mereka bersiap-siap untuk mendengarkan penjelasan berikutnya. Mesti jelas dong. Apa alasannya.</p>
<p>“Demikan pengumuman ini untuk diperhatikan. Terimakasih.” Setelah itu. Tak ada suara apapun yang mengikutinya.</p>
<p>“Ya nggak bisa gitu dong!” teriak orang-orang di kubikal.<br />
“Alasannya apa?” kata yang lain.<br />
“Nggak adil!” yang lainnya lagi menimpali.<br />
“Kita kan butuh outing,” yang lain-lainnya lagi meneriaki.<br />
“Training kan sangat penting!” Semua orang menumpahkan unek-uneknya masing-masing.</p>
<p>Nggak nyangka. Outing dan training akhir pekan kemarin itu akan menjadi yang terakhir kalinya dalam karir mereka. Menyebalkan.</p>
<p>Ketika mereka sedang pada ribut itu. Tiba-tiba ada bunyi ‘kling’ dari gadget mereka. Karena berbunyi secara bersamaan, maka suaranya terdengar jadi nyaring. Seperti zombie saja. Alam bawah sadar orang-orang kubikal sudah terprogram untuk langsung menyambar gadgetnya masing-masing. Lalu membukanya secara bersamaan.</p>
<p>Ada sebuah pesan masuk. Dari ‘unknown’. Pengirimnya nggak dikenal. Pasti nggak penting. Setidaknya. Nggak perlu dilihat sekarang. Tapi. Karena semua orang sedang pada kesal. Maka sambil menggerutu mereka memencet tombol ‘read’ atau ‘view’ juga.</p>
<p>Pada saat bersamaan itu pula. Di layar gadget mereka muncul sebuah pesan. Yang diawali dengan sebuah kalimat yang mereka kenal betul: “Menu hari ini.”</p>
<p>Maka dalam waktu sepersekian detik otak mereka langsung nyambung dengan Natin. Pantesan dia nggak nulis apapun di whiteboard. Rupanya. Kali ini pesannya dikirim lewat texting.</p>
<p>Soal pembatalan outing dan training itu sudah tidak lagi menjadi fokus pikiran mereka. Setidaknya untuk sementara. Sekarang mereka berfokus kepada menu hari ini yang disampaikan oleh Natin. Dilayar monitor itu. Mereka membaca menu hari ini yang Natin kirim berbunyi begini:</p>
<p>KEBANYAKAN OUTING &#038; TRAINING<br />
HANYA MEMBERIKAN DAMPAK SESAAT SAJA</p>
<p>Serta merta saja pikiran mereka kembali tersambung dengan isi pengumuman yang dibacakan oleh resepsionis tadi pagi. Sekarang mereka mulai menemukan kaitannya. Mengapa managemen memutuskan untuk menghentikan semua aktivitas outing dan training tahun depan. Karena seperti kata Natin. Kebanyakan Outing dan Training hanya memberikan dampak sesaat saja.</p>
<p>Tiba-tiba saja. Hasrat untuk protes kepada managemen langsung padam. Nggak perlu diperdebatkan lagi. Perilaku mereka sepanjang pagi ini menunjukkan jika apa yang dikatakan oleh Natin itu benar. Hanya dalam waktu 2 hari. Semangat. Motivasi. Antusiasme. Tekad. Semua yang didapat dalam outing dan training itu. Pudar begitu saja.</p>
<p>Bukannya tambah semangat. Setelah outing semua orang malah menjadi malas memulai pekerjaan. Masih capek, katanya. Yang nggak kecapean. Sibuk dengan warna kulitnya yang menjadi hitam legam. </p>
<p>Apa ya. Yang bisa dibawa pulang dari kelas training yang diisi oleh trainer mahal itu? Setelah kembali ke kubikal. Perilaku kerja mereka sama saja dengan sebelum mengikuti training itu. Nggak ada dampaknya sama sekali.</p>
<p>Apakah salah. Jika managemen memutuskan untuk menghentikan outing dan training tahun depan? </p>
<p>Semua orang hanya bisa terdiam. Pupus sudah harapan mereka untuk mendapatkan kegiatan serupa itu lagi. Padahal. Itu bisa menjadikan sarana refreshing yang menyenangkan. Tapi. Jika managemen sudah memutuskan. Siapa yang bisa melawan.</p>
<p>“Tunggu dulu,” kata Fiancy.<br />
Semua orang menatap kearahnya. Dalam wajah yang gundah. Tentu saja.<br />
“Bukankah Natin hanya bilang ‘Kebanyakan’?” sambungnya. </p>
<p>Orang-orang pada bengong. Nggak benar-benar menangkap apa maksudnya.<br />
“Berarti nggak semua outing dan training dampaknya sesaat,” Aiti yang mulai memahami maksud Fiancy langsung menyahut.</p>
<p>“Betul!” balas Fiancy.<br />
“Jadi, keputusan menghentikan outing dan training itu nggak tepat dong…” Jeanice nggak mau ketinggalan.</p>
<p>“Cerdas elo Fi…,” ceplos Opri. Dia kalau memuji. Beneran. Nggak sekedar basa-basi. “Kita mesti kasih masukan kepada managemen.” Lanjutnya. “Jangan sampai mereka mengambil kebutusan yang keliru. Sampai merugikan karyawan dan perusahaan.”</p>
<p>“Bener banget!” Sekris menimpali. “Kalau nggak ada training, gimana kita mau berkembang?” terusnya.</p>
<p>“Kalau karyawan nggak berkembang,” Aiti menyambung. “Gimana perusahaan mau terus maju?” </p>
<p>“HYYYES!” kepalan tangan Opri mengacung.<br />
“Hiyes sih, hiyes, Pri.” Nada suara Fiancy menyiratkan keraguan. “Tapi kalau kelakuan kita seperti hari ini… ya susah juga kita mau ngomong ke managemen.”</p>
<p>Mendengar ucapan Fiancy. Semua orang dikubikal langsung pada terdiam. Bener apa yang dikatakannya. Bukannya tambah semangat. Pagi ini semua orang malah males-malesan. Banyak banget alesan untuk menunda pekerjaan.</p>
<p>Udah deh. Malu nyebutinnya satu per satu.<br />
Bener kata Natin. Kebanyakan outing cuman bisa memberi dampak sesaat. Sewaktu sedang outing. Kita kompak banget sama teman. Saling menolong. Saling menyokong. Tapi waktu balik ke kantor. Perilaku kita kembali seperti semula. Cuek bebek. Seneng liat teman susah. Sikut sana lagi. Sodok sono meneh. Elo, elo. Gue, gue. Seperti biasenye.</p>
<p>Bener kata Natin. Kebanyakan training nggak memberikan efek jangka panjang. Di kelas training kita mangut-mangut. Semangat menggelora. Tekad membara. Trainernya ngomong yang sedih. Kitanya sampai berurai air mata. Setelah keluar dari kelas training? Eh. Kita kembali seperti sedia kala. Seolah nggak pernah mengikuti kelas training itu.</p>
<p>Lantas. Apa bedanya kita. Dengan mereka yang tidak mengikuti acara-acara serupa itu? Bener dong logika managemen. No more outing. Nggak ada lagi training. Kalau kelakuan kita nggak ada bedanya.</p>
<p>“Ya udah,” suara Opri memecah kebekuan. “Kalau gitu. Kita fokus aja kepada kata-kata Natin yang tadi dibilangin sama Fiancy,” lanjutnya.</p>
<p>“S-sory Pri. Yang mana ya….?” Wajah Sekris meringis. Antara nggak ngerti, dan takut diketawain yang lain. Untungnya semua orang terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Jadi pada nggak sempat menangkap sinyal tulalit.</p>
<p>“Kata ‘kebanyakan’ itu,” jelas Opri. “Berarti ada outing dan training yang nggak begitu, iya kan?” suaranya penuh dengan energy.  </p>
<p>Memang. Tidak semua outing dan training seburuk itu.<br />
“Tugas kita. Adalah untuk menemukan training seperti itu.” Tambahnya. </p>
<p>“Emangnya, trainer kemarin itu jelek Pri…?” sergah Aiti. Kata-katanya membuat Opri surut ke belakang.</p>
<p>Semua orang sepakat jika trainer yang kemarin malah lebih baik dan lebih mengesankan dari yang diundang tahun-tahun sebelumnya. Acara outingnya juga seru banget. Lebih dari itu. Di outing tahun ini ada tambahan yang nggak pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.</p>
<p>Tambahan yang secara khusus dilakukan oleh Natin. Lewat pesan-pesan jarak jauh yang dikirimkannya. Di outing tahun ini. Mereka mendapatkan lebih banyak hikmah daripada sebelumnya. Khususnya hikmah yang tak henti-hentinya ditebarkan olah Natin.</p>
<p>Sewaktu berangkat dengan naik pesawat. Natin mengirim pesan tentang betapa beruntungnya orang-orang yang berada di ketinggian derajat pribadinya. Terbukti jika di posisi yang lebih tinggi itu bahkan awan dan badai pun tidak bisa menjangkau kedamaian dalam diri kita.</p>
<p>Sewaktu bermain di pinggir pantai. Natin mengajarkan tentang betapa beruntungnya orang-orang yang memiliki hati seluas samudera. Mereka akan terbebas dari kekeruhan hidup. Merdeka dari dendam. Bersih dari dengki dan iri hati.</p>
<p>Saat menyelam di sesi diving. Natin mengajak mereka untuk menemukan bahwa potensi diri mereka itu sedemikian dalam dan beragamnya. Kitanya saja yang sering ketakutan untuk menjelajahi dan mengeksplorasi hingga menjadi sesuatu yang produktif.</p>
<p>Jadi. Apa yang menyebabkan outing dan training itu tidak berguna sama sekali? Ternyata bukan trainer atau materinya yang menjadi penyebab utama. Toh kehadiran pesan-pesan moral Natin telah lebih dari cukup untuk menutupi bolong-bolong bobot materinya. Kalaupun trainernya biasa-biasa aja. Pelajaran dari Natin sudah bisa mengkompensasinya. </p>
<p>Jadi. Apa sebenarnya yang menyebabkan outing dan training itu tidak berguna? Ternyata. Kitanya. Yang sering mengira bahwa. Semua yang kita dapatkan itu tidak ada sangkut pautnya dengan keseharian kerja kita. Makanya. Training sering nggak nyambung dengan perilaku kerja. Yang penting bisa ketawa aja di kelas. Asal trainernya lucu aja. Yang penting. Bisa dapat sertifikatnya saja. </p>
<p>Cukup lama mereka terpaku. Merenungkan. Betapa mereka telah salah menempatkan kesempatan yang sudah mereka dapatkan. Mereka merenung sedemikian dalamnya. Sehingga hampir saja mereka tidak menyadari jika seseorang datang sambil mengendap-endap. Seolah tidak ingin ketahuan siapapun. Jika dia datang.</p>
<p>Sayang. Kunci pintu tidak bisa diajak kompromi. Ketika kunci diputar. Dia mengeluarkan bunyi ‘Cekrek!’.</p>
<p>Bunyi pelan itu menjadi terasa nyaring ketika semua orang berada di tengah keheningan. Membuat semua mata berpaling kearah datangnya suara.</p>
<p>“Baru datang, Pak…?” Ceplos Opri seperti biasanya.<br />
Pak Mergy mematung. Lalu membalikkan badannya sambil nyengir. Terlihat sekali jika beliau agak tengsin. Ketahuan terlambat datang nyaris satu jam.</p>
<p>“Eh, ihiyya…..” katanya. “Engh…, anu… saya ketiduran…” lanjutnya. Semua mata memandang tajam kepada beliau.</p>
<p>“M-maklum. Masih capek baru pulang outing…….”</p>
<p>Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..</p>
<p>Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa outing dan training adalah kesempatan emas untuk mengembangkan diri mereka. Baik sebagai pribadi. Secara individu mereka bisa menjadi orang yang lebih baik. Lebih terampil. Lebih profesional. Maupun secara kolektif. Sebagai sebuah team. Mereka bisa lebih kompak lagi. Lebih menghargai sesama. Lebih nyambung. Dan lebih berbesar hati untuk saling menolong. Demi pencapaian bersama yang lebih baik. Outing. Dan training. Bisa sangat besar dampaknya. Jika kita. Bersedia membawa dan mempraktekkan ilmu yang didapatkan didalamnya. Ke tempat kerja.</p>
<p>Salam hormat,<br />
Mari Berbagi Semangat!<br />
DEKA &#8211; Dadang Kadarusman – 24 April 2012<br />
Next Batch Public Training &#8220;Natural Intelligence Leadership&#8221; 13-14 Juni<br />
Info lebih lanjut: 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327.</p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Tak ada trainer yang bisa membantu Anda menjadi pribadi yang lebih baik, tanpa kesediaan diri Anda sendiri untuk melakukan perbaikan itu.</p>
<p>Ingin tahu kisah-kisah seru Natin &#038; The Cubicle lainnya? Kunjungi dan bergabung di <a href="http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ " target="_blank">http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ </a></p>
<p><strong>NEXT BATCH PUBLIK TRAINING “NATURAL INTELLIGENCE LEADERSHIP”:</strong> Tanggal 13 s/d 14 Juni 2012 di Hotel Menara Peninsula Jakarta. Training ini menawarkan PARADIGMA BARU tentang kepemimpinan. Training leadership ini: BEDA. Para leaders, daftar yok di 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com (DIBATASI MAKSIMUM 30 ORANG)</p>
<p><strong>IN-HOUSE TRAINING “ADAPTING TO CHANGE”:</strong> Diatas kertas, rencana perubahan itu selalu mudah untuk dibuat. Tapi dalam pelaksanaannya, tidak semua orang bisa diajak untuk berubah. Sikap dan respon karyawan terhadap perubahan itu justru menjadi titik kritisnya. Sehingga membuka kesadaran karyawan untuk menerima perubahan menjadi sangat penting sekali. Kalau perusahaan Anda sedang menerapkan proses perubahan, maka para karyawan Anda perlu mendapatkan training “Adapting To Change“ ini. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com (HANYA UNTUK PERUSAHAAN YANG SEDANG MELAKUKAN PERUBAHAN)</p>
<p>Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Subscription: Jika Anda belum namun ingin mendapatkan kiriman artikel inspiratif langsung dari Dadang Kadarusman – GREATIST! – silakan bergabung dengan milist yang baru saja kami buat. Daftar di link ini: <a href="http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ " target="_blank">http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ </a></p>
<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Next Batch Public Training &#8220;Natural Intelligence Leadership&#8221; 13-14 Juni Di Jakarta, Hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327</font></marquee></p>
<p>Gambar: Fajriactivated.bp.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/24/natin-membawa-ilmu-ke-tempat-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Bertumbuh Di Tempat Statis</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/23/cara-bertumbuh-di-tempat-statis/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/23/cara-bertumbuh-di-tempat-statis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 03:01:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=3211</guid>
		<description><![CDATA[Next Batch Public Training &#8220;Natural Intelligence Leadership&#8221; 13-14 Juni Di Jakarta, Hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 Hore, Hari Baru! Teman-teman. Catatan Kepala: ”Tumbuh itu tidak selalu berarti tubuh kita semakin besar. Atau jabatan kita semakin tinggi. Tumbuh &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/23/cara-bertumbuh-di-tempat-statis/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Next Batch Public Training &#8220;Natural Intelligence Leadership&#8221; 13-14 Juni Di Jakarta, Hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327</font></marquee></p>
<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/grow-pbasecm1.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/grow-pbasecm1-225x300.jpg" alt="" title="grow-pbasecm" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-3214" /></a> Hore, Hari Baru! Teman-teman.</p>
<p><strong>Catatan Kepala:</strong> <em>”Tumbuh itu tidak selalu berarti tubuh kita semakin besar. Atau jabatan kita semakin tinggi. Tumbuh berarti kualitas pribadi kita menjadi lebih baik.”</em></p>
<p>Jika Anda bersepeda di kelas RPM (Raw Power in Motion) di fitness center, Anda tidak akan pernah ketinggalan oleh orang lain. Selama bersepeda itu, semua orang ada di ruangan yang sama. Dan tetap diposisi yang sama. Kantor kita, kira-kira seperti ruang RPM itu. Selama bertahun-tahun, setiap orang berada di ruangan dan posisi yang sama dengan kita. Lalu kita merasa bahwa, seperti halnya orang-orang itu; karir ini sudah mulai ‘mandek’. Benarkah begitu?  <span id="more-3211"></span></p>
<p>Sesekali, pergilah ke kelas RPM di fitness center. Saat mengayuh sepeda statis itu, sekalian Anda renungkan. Betapa keberadaan kita bersama orang lain sama sekali bukanlah penanda bahwa pertumbuhan kita sama dengan orang lain. Di kelas RPM. Anda akan menemukan bahwa, meskipun Anda tetap berada di tempat dan ruang yang sama dengan orang lain. Namun hakekatnya, setiap orang telah menempuh jarak dan ketinggian tanjakan yang berbeda. Seperti itulah pula sesungguhnya perkembangan karir kita. Ditempat paling statis sekalipun, kita bisa loh tetap bertumbuh. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar bagaimana caranya untuk bisa terus bertumbuh di tempat kerja yang statis, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:    </p>
<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1"> Untuk bantuan in-house training dan pemberdayaan karyawan Anda, hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327. </font></marquee>	</p>
<p><strong>1. Mengambil beban yang menantang.</strong> Di kelas RPM, setiap orang menentukan sendiri beban tanjakan yang akan ditempuhnya. Ada orang yang hanya mau menempuh tanjakan ringan-ringan saja. Mereka memasang resisten sepedanya rendah saja. Nyaman dan tidak harus ngos-ngosan. Keringat pun hanya sedikit menetes dari tubuhnya. Ada juga orang yang berani menantang kekuatan dirinya. Dipasangnya resisten yang cukup berat. Lalu dia mengayuh dengan susah payah. Sekarang keringatnya bercucuran seperti air yang tertumpah. Di kantor juga begitu. Ada orang yang hanya mau mengerjakan tugas-tugas mudah. Dan ada yang bersedia menantang pekerjaan yang sulit untuk ditangani.  Sama seperti di kelas RPM, mereka yang berani mengambil tanggungjawab lebih besar, memperoleh reward ‘kebugaran’ yang lebih besar. Dan mereka, terus bertumbuh lebih baik.</p>
<p><strong>2. Mengayuh lebih cepat, menempuh lebih jauh</strong>. Di kelas RPM, jika Anda mengayuh lebih cepat dari orang lain. Maka Anda akan menempuh jarak yang lebih jauh daripada orang lain. Meskipun secara fisik Anda dan mereka tetap berada di ruang yang sama. Di kantor pun demikian. Jika Anda bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari orang lain. Maka dalam rentang waktu yang sama; Anda bisa menghasilkan lebih banyak dari mereka. Meskipun kelihatannya Anda dengan mereka tetap berada di ruangan yang sama. Namun tingkat produktivitas Anda, jauh lebih tinggi daripada orang lain. Dan Anda menjadi pribadi yang unggul disana.</p>
<p><strong>3. Memanfaatkan waktu yang ada</strong>. Berbeda dengan sepeda biasa. Sepeda statis di kelas RPM itu tidak pernah berhenti berputar. Sehingga mau tidak mau Anda harus terus mengayuh. Walhasil, tidak ada sedikitpun waktu Anda yang terbuang percuma tanpa ada kalori yang dibakar. Itulah yang menjadikan kelas RPM sangat efektif dan efisien. Di kantor juga sama. Waktu tidak pernah berhenti berputar sehingga mau tidak mau, Anda mesti terus menjalaninya. Namun kebanyakan orang membuang-buang waktunya untuk hal-hal yang tidak produktif. Jika teman Anda begitu, maka itu adalah kesempatan bagus buat Anda untuk mengungguli mereka. Manfaatkanlah waktu yang ada untuk mengerjakan hal-hal produktif. Maka Anda bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari orang lain.</p>
<p><strong>4. Menghindari komplain soal penugasan</strong>. Di kelas RPM, tidak pernah ada orang yang mempermasalahkan; mengapa orang lain memasang resisten rendah dan mengayuh dengan perlahan? Di kantor, sebaliknya. Banyak orang yang komplain. Mengapa pekerjaan orang lain lebih ringan daripada dirinya. Di kelas RPM, setiap pribadi menantang dirinya hingga ke puncak kemampuan kayuhan tertingginya. Mereka penasaran jika belum sampai pada batas maksimal kekuatan dirinya. Di kantor. Anda perlu bersikap seperti itu. Yaitu, tidak ikut-ikutan komplain soal penugasan lebih ringan yang didapatkan orang lain. Melainkan berusaha keras untuk menantang diri sendiri dengan penugasan yang bisa membawa Anda kepada puncak kemampuan kinerja tertinggi Anda. Dijamin. Anda akan unggul disana.</p>
<p><strong>5. Posisi sekarang, latihan untuk posisi mendatang.</strong> Kelas RPM itu, hanyalah latihan. Kebugaran yang sesungguhnya akan dirasakan oleh setiap orang, setelah mereka keluar dari ruang latihan itu. Ketika mereka menjalani aktivitasnya sehari-hari. Begitu pula halnya dengan tugas-tugas Anda saat ini. Semua itu tidak lain adalah arena latihan bagi Anda, agar kelak jika Anda mendapatkan kesempatan untuk memperoleh tanggungjawab yang lebih besar; Anda sudah siap. Semakin tangguh seseorang di kelas RPM, semakin bugar dia dikesehariannya. Semakin tangguh Anda di posisi saat ini, semakin siap Anda untuk menghadapi peluang penugasan yang lebih besar kelak. Makanya, perlakukanlah penugasan Anda saat ini sebagai sarana latihan dalam menyiapkan diri Anda untuk menghadapi penugasan yang lebih besar. </p>
<p>Kata ‘mandek’ hanya cocok bagi mereka yang tidak bertumbuh lagi. Sedangkan kita tahu bahwa tumbuh itu tidak selalu berarti tubuh kita semakin besar. Atau jabatan kita semakin tinggi. Tumbuh berarti kualitas pribadi kita menjadi lebih baik. Dan untuk bisa bertumbuh, Anda tidak membutuhkan teori-teori yang rumit. Untuk bertumbuh, Anda hanya membutuhkan kesungguhan dalam menyelesaikan tugas-tugas harian. Karena didalam tugas-tugas harian kita itu, ada kesempatan untuk membangun keunggulan.</p>
<p>Salam hormat,<br />
Mari Berbagi Semangat!<br />
DEKA &#8211; Dadang Kadarusman –  23 April 2012<br />
<strong>Next Batch Training ”Natural Intelligence Leadership” 13-14 Juni 2012</strong><br />
Info lebih lanjut: 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327.</p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Ditempat paling statis pun kita masih bisa terus bertumbuh. Jika kita terus gigih untuk membangun keunggulan pribadi. Tanpa henti.</p>
<p><strong>NEXT BATCH PUBLIK TRAINING “NATURAL INTELLIGENCE LEADERSHIP”: </strong>Tanggal 13 s/d 14 Juni 2012 di Hotel Menara Peninsula Jakarta. Training ini menawarkan PARADIGMA BARU tentang kepemimpinan. Training leadership ini: BEDA. Para leaders, daftar yok di 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com (DIBATASI MAKSIMUM 30 ORANG)</p>
<p><strong>IN-HOUSE TRAINING “<a href="http://www.dadangkadarusman.com/adapting-to-change-in-house-training/" title="Adapting 2 Change" target="_blank">ADAPTING TO CHANGE</a>”:</strong> Diatas kertas, rencana perubahan itu selalu mudah untuk dibuat. Tapi dalam pelaksanaannya, tidak semua orang bisa diajak untuk berubah. Sikap dan respon karyawan terhadap perubahan itu justru menjadi titik kritisnya. Sehingga membuka kesadaran karyawan untuk menerima perubahan menjadi sangat penting sekali. Kalau perusahaan Anda sedang menerapkan proses perubahan, maka para karyawan Anda perlu mendapatkan training “Adapting To Change“ ini. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com (HANYA UNTUK PERUSAHAAN YANG SEDANG MELAKUKAN PERUBAHAN)</p>
<p>Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Subscription: Jika Anda belum namun ingin mendapatkan kiriman artikel inspiratif langsung dari Dadang Kadarusman – GREATIST! – silakan bergabung dengan milist yang baru saja kami buat. Daftar di link ini: <a href="http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ " target="_blank">http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ </a></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
<marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Follow DEKA on Twitter @dangkadarusman </font></marquee></p>
<p>Gambar :  pbase.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/23/cara-bertumbuh-di-tempat-statis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Natin Menyelami Potensi Diri</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/20/natin-menyelami-potensi-diri/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/20/natin-menyelami-potensi-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 09:10:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Natural Intelligence]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=3206</guid>
		<description><![CDATA[Potensi diri. Itulah frase yang sering digadang-gadang oleh para ahli motivasi. Dan pakar-pakar psikologi. Malah ada yang mengatakan kalau potensi manusia itu nggak terbatas. Sulit dipercaya sih. Apa iya, ya. Potensi diri kita ini nggak terbatas. Nggak selalu langsung bilang &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/20/natin-menyelami-potensi-diri/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/under-the-sea-artcm.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/under-the-sea-artcm-300x237.jpg" alt="" title="under-the-sea-artcm" width="300" height="237" class="alignleft size-medium wp-image-3207" /></a> Potensi diri.<br />
Itulah frase yang sering digadang-gadang oleh para ahli motivasi. Dan pakar-pakar psikologi. Malah ada yang mengatakan kalau potensi manusia itu nggak terbatas. Sulit dipercaya sih. Apa iya, ya. Potensi diri kita ini nggak terbatas.</p>
<p>Nggak selalu langsung bilang begitu sih. Kadang dibilanginnya suka kayak gini; “Anda bisa melakukan apa saja!!!!!” sambil ngacungin kepalan tangan ke atas. Outing taon lalu trainernya bilang gitu. Meskipun kenyataannya nggak seperti itu. </p>
<p>Hari ini. Acaranya nggak kalah seru dari kemarin. Diving!<br />
Mengerikan juga sih. Khususnya buat mereka yang belon pernah melakukannya. Terlebih lagi buat orang-orang yang anti air seperti Fiancy. Sungguh menyeramkan kalau harus nyebur ke dalam laut yang begitu dalam itu. <span id="more-3206"></span></p>
<p>“Gue dengerin bunyi deburan ombak aja udah ketakutan,” katanya. “Apa lagi nyebur kesitu.” Lanjutnya. “Gue cukup nganterin elo pade sampai ke pantai aja….” Tambahnya. Pantai dangkal sudah cukup membuat Fiancy puas. Dan. Itulah tamasya bahari terhebat baginya.</p>
<p>Percuma membujuknya. Dia sudah kadung takut dengan kedalaman. Nggak seorang pun yang tahu apa. Atau mahluk apa. Yang ada didalam air seluas itu. Iya kan? Bujukan macam apapun nggak ada yang mempan.</p>
<p>“Oke Guys…., listen up!” Opri berteriak. “Pagi ini petugas hotel memberi tahukan kalau ada fax dari kantor pusat.” Diangkatnya amplop tertutup dengan logo hotel. “Siap-siap aja. Kemungkinan ada tugas mendadak, nih. Jadi acara diving kita belum tentu jadi dilakukan.”</p>
<p>Terdengar bunyi ‘huuuuuuuu…’ senyaring deburan ombak menghempas batu karang. Hanya Fiancy yang kegirangan. Dia mendingan kerja. Daripada diving.</p>
<p>“Emangnya para boss nggak bisa ngerjain tanpa kita?” protes Jeanice. “Please deh. Cuman 2 hari aja kan?” tambahnya.</p>
<p>“Yeaaah! Bener banget!!!” orang-orang berteriak antara girang dan garang.</p>
<p>“Gue ngerti. Gue ngerti,” balas Opri. “Tapi kan namanya orang kerja. Mesti selalu siaplah. Kan untuk kebaikan kita-kita juga….” Hiburnya.</p>
<p>“Ya udah. Kalo gitu biar elo aja sendiri yang ngerjain. Kita-kita sih mau diving!” timpal Aiti. Hanya Fiancy yang nggak setuju sama dia.</p>
<p>“Nggak apa-apa.” Tukas Opri. “Kalau elo pade tega berlaku begitu sama teman sendiri….”</p>
<p>Nggak ada yang menjawab lagi. Mereka kesal. Tapi bukan kepada sahabat baiknya. Kekesalan kepada keputusan managemen. Atau pada kebijakan atasan. Nggak boleh menyebabkan persahabatan mereka terganggu. Mereka harus terus hepi. Meski kegembiraan mereka kadang terpotong oleh tugas-tugas adhoc dan dadakan. </p>
<p>“Ya udah. Kita baca sama-sama ya….” Opri merobek pinggiran amplop itu. Lalu mengeluarkan kertas fax didalamnya. Sementara semua orang berharap tugas dadakan itu nggak terlalu banyak menyita waktu. </p>
<p>Wajah tegang Opri segera berubah ketika dia membuka kertas fax itu.<br />
“Ini dari Natin!” lonjaknya. Semua orang yang kadung menduga-duga ikut gembira. Ternyata ketakutan mereka nggak terjadi. Soalnya. Kebisaan boss-boss kalau nggak pernah rela membiarkan anak buahnya tenang. Ada aja tugas yang mereka berikan. Khususnya disaat-saat yang kurang tepat seperti ini. </p>
<p>Sekarang. Semua orang pada antusias untuk mengetahui isi fax itu. Mereka berteriak-teriak biar Opri segera membacakannya. </p>
<p>“Oke, dengerin dong…” kata Opri. Semua suara langsung menghilang.</p>
<p>“Gue bacain menu hari ini dari Natin ya,” teriaknya. “Dengerin nih…”</p>
<p>KETAHUILAH, BAHWA:<br />
POTENSI DIRIMU SEDALAM LAUTAN</p>
<p>Begitulah isi pesan dari Natin.</p>
<p>“Ada tambahan lagi nih,” kata Opri. Orang-orang kembali tenang. “Kata Natin: Selamat ber-diving ria!” suaranya langsung hilang ditelan sorak sorai orang-orang kubikal yang sedang outing itu.</p>
<p>“Masih ada lagi nih…” teriak Opri sekali lagi. Suara orang-orang kembali menghilang. “Yang ini khusus buat Fiancy,” katanya.</p>
<p>“Cieeeeee, Fiancy……,” orang-orang mulai terusik buat ngusilin. “Khusus buat <em>Fi</em> dari <em>Aa</em>….. Cieeeee……”</p>
<p>Yang digodain. Sewot setengah mati. Tapi tak kuasa melawan suara teman-temannya yang nggak kalah gemuruh dengan gelegar ombak.</p>
<p>“Mau gue bacain gak nih?” Opri kesal banget. Semua orang buru-buru membungkam.</p>
<p>“Khusus buat Fiancy dari Natin,” katanya. “Jangan takut untuk menyelam. Karena di kedalaman lautan akan engkau temukan keindahan……”</p>
<p>“Yiiihiiiii…”<br />
“Cieeee….. Cieeeee…., Cieeee….”<br />
“Sit suwiw. Sit suwiiiiiiw…..oho… too twiiiit….”</p>
<p>“Apaaa-an sih….!!?” Nggak bisa disembunyikan lagi. Pipi Fiancy merah. Nggak tahu ya. Perasaan sih nggak pernah ada perasaaan aneh pada Natin. </p>
<p>Emang ada sih. Tapi cuma sekedar mengagumi. Nggak lebih dari itu. Sama seperti teman-teman lainnya mengagumi dia. Tapi. Kenyataan jika Natin mengetahui dia takut kedalaman membuat dirinya bertanya-tanya; Apakah Natin memiliki perhatian khusus kepadanya?</p>
<p>Fiancy buru-buru memupus pikiran aneh itu. Dia sadar jika Natin bukan hanya memperhatikan dirinya. Natin. Nyaris tahu setiap hal yang terjadi disini. Itu menunjukkan jika Natin memang memperhatikan semua orang.</p>
<p>Anehnya. Kata-kata Natin memberi pengaruh seperti Mantra. Meski takut-takut. Akhirnya Fiancy mau juga naik ke perahu menuju ke diving spot di tengah laut. “Tapi, gue nunggu di perahu aja ya…” katanya.</p>
<p>Ditengah laut. Ceritanya berbeda. Orang-orang yang tadi berani pun banyak yang nyalinya ciut. Kepercayaan diri mereka juga banyak yang mengkerut. Bagaimana pun juga. Berada di tempat luas seperti itu sungguh sangat mendebarkan. Sejauh mata memandang. Hanya lautan. Seolah tidak ada hal lain di muka bumi ini selain laut.</p>
<p>Kata Natin. Manusia tidak akan pernah berhenti takjub. Jika dia bisa melihat betapa besarnya potensi diri mereka. Namun. Memang tidak mudah melakukannya. Bahkan. Ada orang-orang yang hanya memandang dirinya tidak lebih dari sekedar baskom mandi seorang bayi. Bukan seperti lautan yang teramat luas.</p>
<p>Itu baru permukaannya. Bagaimana dengan gagasan untuk menyelam kedalamnya? Lebih mengerikan lagi. Gimana kalau ada hiu? Gimana jika ada gurita raksasa? Gimana kalo kesetrum belut listrik? Hiiiiiy…. Amit-amit. </p>
<p>Untungnya kantor menyewa para instruktur diving profesional. Jadi mereka tidak perlu terlalu takut. Selain ada yang mendampingi. Mereka menyelam di tempat yang aman. Jadi. Sebenarnya ketakutan mereka tidak cukup beralasan.</p>
<p>Sama halnya ketika kita sedang berusaha untuk mengenali. Dan menggali potensi diri kita bersama seorang mentor. Atau atasan yang memahami anak buahnya. Mereka bisa membantu kita ‘menyelam’ ditempat yang aman.</p>
<p>Nggak ada orang yang langsung berani. Ketika pertama kali menceburkan diri ke laut dalam. Makanya. Nggak heran jika orang-orang yang terbiasa berada di zona aman kubikal itu pada deg-degan. Bahkan cewek semacho Opri sekalipun. Tetapi. Sekali ini. Sekali ini saja. Mereka harus mencobanya.</p>
<p>Maka….<br />
Byur….. satu demi satu manusia kubikal itu terjun ke laut. Termasuk Fiancy yang tak henti-hentinya menjerit-jerit. Rasa percaya dirinya sedang dipertaruhkan. Terutama ketika dia harus melompat dari perahu itu. </p>
<p>Ajaib sekali.<br />
Ketika sudah beradi di air. Dia merasakannya hampir sama seperti ketika berada di kolam renang. Kakinya secara refleks digerakkan. Dan tubuhnya. Bisa mengapung. Ada sedikit tenteram dirasakannya sekarang.</p>
<p>Sama seperti ketika kita akan mencoba hal-hal baru. Yang belum pernah kita alami sebelumnya. Kita diselimuti oleh ketakutan. Yang kadang nggak beralasan. Namun begitu kita mencobanya. Tenyata semua baik-baik saja. Itu menunjukkan jika sebenarnya kita bisa. Kita mampu. Kita sanggup. Tetapi kita terlampau takut.</p>
<p>Semua orang sudah nggak kelihatan di permukaan. Sudah pada masuk kedalam laut. Kecuali Fiancy. Tentu saja. Bersama instruktur divingnya yang mendampinginya dengan sabar. </p>
<p>“Kapan pun jika Mbak siap…” kata instruktur itu.<br />
“Aman kan Mas…..?” tanya Fiancy setengah memelas.</p>
<p>“Dijamin Mbak…” balasnya. Pintar juga ya instruktur itu. Dia cuman bilang ‘dijamin’. Nggak ada terusannya. Dia nggak bilang ‘dijamin nggak ada hiu’. Juga nggak bilang ‘dijamin nggak bakal basah…”. Bagus. Instruktur itu nggak ngomong yang muluk-muluk. Seperti kebanyakan motivator yang doyan mengumbar jargon.</p>
<p>Sedari tadi. Mata Fiancy ditutupnya rapat-rapat. Tak kuasa membayangkan betapa menyeramkannya lautan. Tetapi. Mengingat pesan Natin yang khusus ditulis untuk dirinya. Menjadikan dia seperti seorang gadis istimewa.</p>
<p>Perlahan tapi pasti. Fiancy. Akhirnya memiliki keberanian untuk menyelusupkan kepalanya ke bawah air. Menarik dan membuang nafas lewat mulut yang terhubung ke selang dengan tabung oksigen di punggungnya. </p>
<p>Turun. Dan terus turun. Hingga instruktur membimbing tangannya untuk menggapai batu karang di dasar laut. </p>
<p>“Buka matanya Mbak…” kata instruktur lewat isyarat.<br />
Ada perasaan tenteram ketika tangannya berpegangan kepada batu karang yang kokoh didasar laut. Lalu Fiancy membuka matanya perlahan-lahan. Dan….</p>
<p>Iiiiih… tahu nggak siiih….. Dia nyaris menangis menyaksikan pemandangan bawah laut yang dilihatnya. Terlalu indah untuk digambarkan dengan kata-kata. Nggak bisa. Hanya bisa dilihat. Dan dirasakan ketakjubannya.</p>
<p>Benar kata Natin. Ketika kita mau menyelami kedalam samudera. Kita bisa melihat keindahannya yang tidak pernah terungkap. Benar kata Natin. Ketika kita mau menyelami kedalaman potensi diri kita. Kita bisa mengenali. Betapa mengagumkannya penciptaan diri kita.</p>
<p>“Sekarang pegang ini,” kata instruktur lagi. Seraya menyerahkan kantung pelastik berisi roti.  Dia membuatkan sebuah lubang kecil di pelastik itu. Lalu mencontohkan. Bagaimana caranya mengeluarkan sedikit demi sedikit remah-remah roti.</p>
<p>Fiancy. Mencoba menirunya. Bisa.<br />
Oh. Sungguh diluar dugaan. Beberapa detik setelah remah-remah roti itu keluar dari kantung pelastik. Lalu berhamburan dibawa air laut. Entah dari mana datangnya. Tiba-tiba saja. Tanpa diduga. Ratusan ikan laut berebut. Mengerubuti Fiancy.</p>
<p>Diantara takut dan takjub. Fiancy nyaris terpekik. Menyaksiksan betapa indahnya warna warni mereka. Nggak disangka. Mahluk laut yang selama ini dikira liar itu. Seolah sedemikian jinaknya. Bahkan ada yang sedemikian nakalnya hingga berani menyentuh tangannya yang memegang kantung pelastik berisi roti.</p>
<p>Benar apa yang Natin bilang. Kita. Tidak pernah benar-benar tahu sehebat apa potensi diri kita. Hingga kita mengeksplorasinya sendiri. Kita nggak pernah benar-benar tahu batas kemampuan diri kita. Sampai kita menyelaminya sendiri.</p>
<p>Sama seperti keindahan alam bawah laut ini. Yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang berani menyelam kekedalamannya. Maka seperti itu jugalah potensi diri kita. Yang hanya bisa dinikmati dampaknya. Oleh mereka yang memiliki keberanian. Dan kesediaan. Untuk menyelam kedalam dirinya sendiri.</p>
<p>Instruktur memberi isyarat untuk naik ke permukaan lagi. Nggak kerasa. Oksigen dalam tabung sudah hampir habis. Berarti. Sudah hampir 30 menit mereka berada dikedalaman lautan. Sungguh. Nggak kerasa. Sama sekali. Fokus mereka tersedot oleh keindahan alam bawah laut yang menakjubkan.</p>
<p>Setelah semuanya naik. Perahu membawa mereka kembali ke daratan. Disepanjang perjalanan itu. Tak ada satu pun yang diam membisu. Semua pada bercerita tentang apa yang dialaminya saat diving. Semuanya senang. Termasuk Fiancy. Yang sedari tadi tak henti-hentinya memamerkan kegembiraan. Terutama ketika ikan-ikan itu menyentuh tangannya. Mereka semua ketagihan.</p>
<p>Di pantai. Pak Mergy sudah menunggu dengan baju longgar bergambar bunga-bunga. Sama sekali nggak ada tanda-tanda jika beliau sudah menyentuh air.</p>
<p>“Lho, kok Pak Mergy masih kering begitu?” tanya orang-orang. Nyaris bersamaan.<br />
“Sudahlah anak-anak,” balasnya. “Tugas saya adalah untuk memastikan kalian semua ikut menyelam.” Tambahnya. “Bukan ikut nyebur kelaut.”</p>
<p>Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..</p>
<p>Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa hanya orang-orang yang tahu keindahan bawah laut yang selalu rindu untuk menyelam. Dan hanya orang-orang yang tahu keindahan proses penciptaan dirinya yang selalu rindu untuk menggali potensi diri lebih dalam. Mereka yang pernah menyelam. Selalu ingin kembali menyelam. Dan mereka yang pernah mencapai puncak potensi dirinya. Yang selalu ingin menapakinya lebih tinggi. Seperti kata Natin. Potensi dirimu itu sedalam lautan. Meski pasti ada batasnya. Namun kita bisa menjelajahinya. Tanpa pernah ada habis-habisnya.</p>
<p>Salam hormat,<br />
Mari Berbagi Semangat!<br />
DEKA &#8211; Dadang Kadarusman – 20 April 2012<br />
<strong>Batch #2 Public Training &#8220;Natural Intelligence Leadership&#8221; 13-14 Juni</strong><br />
<a href="http://www.twitter.com/dangkadarusman"><img src="http://twitter-badges.s3.amazonaws.com/follow_me-a.png" alt="Follow dangkadarusman on Twitter"/></a></p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Potensi diri kita itu bukannya tanpa batas. Ada batasnya. Tapi lebih dari cukup untuk memastikan hidup kita baik-baik saja.</p>
<p>Ingin tahu kisah-kisah seru Natin &#038; The Cubicle lainnya? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ </p>
<p><strong>BATCH #2 ”NATURAL INTELLIGENCE LEADERSHIP” 13 s/d 13 JUNI:</strong> Teman-teman,<br />
<a href="http://www.dadangkadarusman.com/public-training/" target="_blank">Batch ke-2 Training ”Natural Intelligence Leadership (NatIn™)” </a> dijadwalkan tanggal 13 s/d 14 Juni 2012 Pendaftaran: di 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com (DIBATASI MAKSIMUM 30 ORANG)</p>
<p><strong>IN-HOUSE TRAINING “ADAPTING TO CHANGE”: </strong>Diatas kertas, rencana perubahan itu selalu mudah untuk dibuat. Tapi dalam pelaksanaannya, tidak semua orang bisa diajak untuk berubah. Sikap dan respon karyawan terhadap perubahan itu justru menjadi titik kritisnya. Sehingga membuka kesadaran karyawan untuk menerima perubahan menjadi sangat penting sekali. Kalau perusahaan Anda sedang menerapkan proses perubahan, maka para karyawan Anda perlu mendapatkan training “ADAPTING TO CHANGE” ini. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com (HANYA UNTUK PERUSAHAAN YANG SEDANG MELAKUKAN PERUBAHAN)</p>
<p>Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
<strong>Subscription:</strong> Jika Anda ingin mendapatkan kiriman Artikel Inspiratif dari DeKa secara GREATIST, gampang kok. Silakan bergabung di Milist Natural Intelligence yang dikelola Deka. Caranya, masukkan email Anda dalam kotak yang disediakan dibawah ini:<br />
<input style="vertical-align: top"<br />
<input type="image" alt="LALU KLIK DISINI" name="Klik Disini"/>
<p style="text-align: center;">
<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Jika Anda membutuhkan trainer untuk perusahaan Anda, Silakan Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327 </font></marquee></p>
<p>Gambar: art.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/20/natin-menyelami-potensi-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hati Natin Seluas Samudera</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/19/hati-natin-seluas-samudera/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/19/hati-natin-seluas-samudera/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 11:36:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Natural Intelligence]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=3202</guid>
		<description><![CDATA[Nyentrik. Atau mungkin sedeng. Salah satu dari dua kemungkinan itulah yang cocok untuk menggambarkan trainer itu. Beda banget dengan trainer-trainer yang jadi pembicara di outing tahun tahun-tahun sebelumnya. Trainer yang ini nggak sama. Anehnya. Anak-anak manut aja sama si Bapak &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/19/hati-natin-seluas-samudera/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/letterbottle-etelescopegr.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/letterbottle-etelescopegr-300x285.jpg" alt="" title="letterbottle-etelescopegr" width="300" height="285" class="alignleft size-medium wp-image-3203" /></a> Nyentrik.<br />
Atau mungkin sedeng.<br />
Salah satu dari dua kemungkinan itulah yang cocok untuk menggambarkan trainer itu. Beda banget dengan trainer-trainer yang jadi pembicara di outing tahun tahun-tahun sebelumnya. Trainer yang ini nggak sama.  </p>
<p>Anehnya. Anak-anak manut aja sama si Bapak bertubuh kecil itu. Disuruh apapun juga mau aja. Lagian. Seru juga. Ada banyak tertawanya. Meskipun kadang diselingi dengan debaran-debaran dan ketegangan saat melakukan kegiatan yang dimintanya. Cuman 2 jam ketemu dia. Tapi. Kayaknya bakal susah untuk melupakannya. Ada kesan mendalam yang ditinggalkannya.</p>
<p>Jam sepuluh pagi.<br />
Semua orang sudah siap dengan karungnya masing-masing. Orang-orang kubikal akan melakukan penyirisan di sepanjang pesisir. Lalu memunguti sampah yang berserakan disana. Sesuai tema outing tahun ini; “Bersihkan bumi, Bersihkan hati”.  <span id="more-3202"></span></p>
<p>Setelah mendapatkan briefing dari Pak Mergy. Semua orang mulai bergerak. Tapi. Supaya kesannya tetap santai. Nggak ada pembagian kelompok atau pun teritori. Juga nggak ditentukan sampah apa yang boleh diambil dan yang tidak. </p>
<p>Pokoknya. Kita fun aja. Menikmati pemandangan pantai sambil membersihkannya dari sampah. Atau bisa juga dibalik. Membersihkan pantai dari sampah yang berserakan, sambil menikmati pemandangannya. Ah. Sama saja.</p>
<p>Inti dari outing kan ada 3. Pertama, mempererat persahabatan dengan sesama teman kubikal biar tambah kompak. Kedua, melakukan refreshing biar nggak suntuk sehingga jadi segar lagi sewaktu kembali bekerja. Dan ketiga, refleksi diri. Artinya, harus ada sesuatu yang bisa kita renungkan untuk meningkatkan kualitas diri. </p>
<p>Tanpa ketiga hal itu. Outing cuman sekedar buang-buang waktu dan uang perusahaan aja. Mesti dapet ketiganya dong. Tambah kompaknya dapet. Hepi-hepinya dapet. Refleksi dirinya juga dapet. Baru boleh disebut outing yang produktif. </p>
<p>Aturan mainnya cuman ada 2. Penuhi karung yang dibawa itu dengan sampah. Dan. kumpul lagi di titik pertemuan yang sudah ditentukan tepat jam 12.00.</p>
<p>Di pantai. Kadang-kadang ada sampah yang tidak terduga juga. Misalnya. Botol kecil berisi gulungan kertas. Dari bentuk botolnya. Kelihatannya sih asing sekali. Nggak seorang pun pernah melihat botol seperti itu. Tutup botol yang terbuat dari gabus itu terlihat sudah sangat tua sehingga menambah rasa penasaran semua orang.</p>
<p>Aiti yang menemukannya pertama kali. Sebenarnya. Semua pada penasaran untuk melihat isi pesan yang tertulis didalam gulungan kertas itu. Tapi. Demi menjaga kebersamaan, mereka sepakat untuk membukanya bersama teman-teman lain di titik pertemuan nanti.</p>
<p>Ternyata tambah seru juga loh. Soalnya semua orang jadi menebak-nebak apa isinya. Mungkin peta harta karun. Mungkin ada puteri cantik yang terdampar di pulau terpencil. Atau mungkin ada petualang tampan yang kehabisan bahan bakar di tengah laut. Suka-suka yang mikir aja deh pokoknya.</p>
<p>Tepat jam 12.00.<br />
Semua orang sudah berkumpul dengan karungnya masing-masing. Tugas selanjutnya adalah prosesi penyerahan tumpukan sampah itu kepada petugas pengawas pantai untuk diproses berikutnya. Nah yang itu. Terserah mereka. </p>
<p>Nggak nyangka. Tindakan kecil itu besar sekali dampaknya. Sepanjang pantai jadi bersih. Nggak ada lagi sampah berceceran meski cuman botol platik bekas air mineral.</p>
<p>Setelah serah terima itu berlangsung. Para petugas pantai menaikkan semua karung berisi sampah itu kedalam perahu boat. Kemudian mereka menghidupkan mesin. Dan pergi ke tengah laut. </p>
<p>Tak berapa lama setelah itu. Perahu berhenti. Lalu para petugas pantai itu melakukan sesuatu yang aneh. Dari kejauhan orang-orang kubikal memandang mereka sambil bertanya-tanya; “Apa yang mereka lakukan?”</p>
<p>Karena jaraknya cukup jauh, mereka sampai harus memicingkan mata. Untungnya ada beberapa orang yang membawa kamera video. Jadi bisa melihat jelas dengan memainkan zoomingnya. </p>
<p>“G3BL3K!” maki Opri. “Apa-apa-an sih mereka itu?”<br />
Semua terperanjat ketika tahu apa yang dilakukan oleh petugas pantai itu. Mereka membuang sekarung sampah yang sudah cape-cape dikumpulkannya di tengah laut!</p>
<p>“WOOOOOIIIY….MAU GUA TONJOK YA LU!!!” Opri mengacungkan tinjunya. “SINI KALAU LU BERANI!!!!” teriaknya. Kesal banget rasanya. Tapi percuma aja. Mereka langsung pergi dengan perahunya.</p>
<p>Tak lama setelah itu. Sampah-sampah yang dibuang di laut itu tiba di bibir pantai. Lalu. Sambil bersungut-sungut mereka kembali memungutinya.</p>
<p>“Oke. Kita langsung menuju ke restoran,” teriak Sekris. Gara-gara sampah yang ditumpahin itu jadwal makan siang jadi mundur sekitar setengah jam. Makanya. Tanpa diperintah 2 kali. Semua langsung bersiap-siap.</p>
<p>Makan siang itu sangat istimewa. Karena mereka akan makan di restoran terapung di tengah laut. Seru banget. Sebuah pilihan tempat yang berkelas. Dikombinasikan dengan lelah dan rasa lapar. Semuanya berubah menjadi NAFSU MAKAN yang nyaris sulit dikendalikan.</p>
<p>Semua perut sudah pada membuncit. Biarin!<br />
Ini bukan hari yang cocok untuk diet. Nikmati aja. Sambil menyandar di kursi yang dibelai-belai angin semilir. Hmmmh… nikmatnya.</p>
<p>“Minta perhatian ya teman-teman….” Aiti berdiri.<br />
Semua orang melirik dengan malas kearahnya. Berat untuk bangkit dengan perut penuh seperti ini. Tapi mata mereka yang sudah 5 watt itu berubah jadi melotot ketika Aiti menunjukkan botol berisi gulungan kertas itu. </p>
<p>“Ini sampah istimewa yang nggak gue buang…” katanya.<br />
Semua orang nggak sabar lagi untuk mengetahui isinya. Nggak ada yang nyandar lagi. Leher mereka sudah kuat untuk menyangga kepala masing-masing lagi.</p>
<p>Tutup botol dari gabus itu sudah lapuk. Bukannya copot. Malah merutul waktu ditarik. Akhirnya. Aiti menggunakan tusuk gigi untuk mencungkilnya sedikit demi sedikit.</p>
<p>Gulungan kertas kecoklatan itu sudah berada ditangan Aiti sekarang.<br />
Orang-orang menatapnya dengan penuh debaran. Dan rasa penasaran. Apakah isinya gerangan?</p>
<p>Pelan-pelaaaan sekali Aiti membuka gulungan itu. Dia nggak mau kalau sampai kertas itu lapuk hingga isinya tidak bisa kebaca lagi.</p>
<p>Dan ketika gulungan itu sudah dibuka seperempatnya. Aiti melihat tulisan ini: “JIKA HATIMU LUAS SEPERTI SAMUDERA,”</p>
<p>Aiti kembali menarik gulungan kertas itu. Hingga terlihat baris yang kedua. “MAKA TIDAK ADA YANG BISA MEMBUATNYA KERUH”</p>
<p>Aiti menarik gulungan kertas itu sekali lagi: JIWAMU AKAN TETAP BENING. </p>
<p>Sekali lagi dibukanya gulungan itu: SEPERTI SAMUDERA RAYA.</p>
<p>Sekarang dia bisa membaca semuanya. Dia tercenung sendiri. Tidak bisa berkata-kata.<br />
“Apa sih isinya, Ti?” orang-orang yang tidak sabar meneriakinya. Meminta Aiti membacakannya untuk mereka. Bagaimanapun juga. Botol misterius itu Aiti yang menemukannya. Dan itu sudah menjadi miliknya.</p>
<p>Setelah menarik nafas panjang. Aiti membacanya dengan lantang:  </p>
<p>JIKA HATIMU LUAS SEPERTI SAMUDERA </p>
<p>MAKA TIDAK ADA YANG BISA MEMBUATNYA KERUH </p>
<p>JIWAMU AKAN TETAP BENING </p>
<p>SEPERTI SAMUDERA RAYA </p>
<p>Semua orang tercenung. Bukan hanya oleh makna yang terkandung didalam nasihat yang tertulis di gulungan kertas dalam botol itu. Melainkan juga oleh sebuah pertanyaan yang sama-sama melintas di benak mereka;”Mungkinkah Natin yang menulis pesan itu?”</p>
<p>Jika benar gulungan kertas itu ditulis oleh Natin. Bagaimana bisa sampai ke tempat sejauh ini. Disaat dan lokasi yang tepat pula. </p>
<p>Benar. Samudera raya tidak pernah bisa dikeruhkan oleh sampah apapun. Semua sampah yang dibuang ke samudera selalu disingkirkannya. Sehingga air samudera tetap bersih dan jernih.</p>
<p>Setiap sampah yang mengapung disamudera. Dikirimnya kembali ke daratan. Hingga terdampar di bibir pantai. </p>
<p>Setiap sampah yang berat. Ditenggelamkannya hingga ke palung yang paling dalam. </p>
<p>Tak ada yang bisa membuat samudera menjadi keruh. Juga tak ada yang bisa membuat keruh hati yang luasnya seperti samudera. Karena hati yang luas seperti samudera sanggup membersihkan dirinya sendiri. Dari sampah apapun yang mengotorinya.</p>
<p>Kata-kata yang menyakiti hati. Perlakuan-perlakuan yang tidak menyenangkan. Tindakan-tindakan yang menyebalkan. Semua hal buruk yang orang lain lakukan kepada kita. Nggak bakalan mempengaruhi suasana hati kita. Jika kita memiliki hati yang lapang. Luas. Dan dalam. Seperti samudera.</p>
<p>Begitu pula dengan cobaan yang menerpa kita. Apapun itu. Hanya akan membuat jiwa kita tertekan. Sedih. Perih. Pedih. Jika dan hanya jika hati kita terlampau kerdil untuk bisa menampungnya.</p>
<p>Luaskan hatimu. Seperti luasnya samudera. Maka dia akan bisa menampung beban seberat apapun yang menghunjam kedalamnya.</p>
<p>Lapangkan jiwamu. Seperti lapangnya samudera. Maka dia akan bisa menetralisir sekotor apapun pengaruh yang datang dari luar. Kita akan tetap tegar. </p>
<p>Bahkan sekalipun seseorang sengaja menumpahkan setumpuk perkataan atau perilaku sampah. Jika hati kita seluas samudera. Maka sampah itu tidak akan mengotorinya. Malah akan disingkirkannya keluar dari samudera. Persis seperti yang dicontohkan oleh para petugas penjaga pantai itu. Sesaat setelah sekarung sampah ditumpahkan dari perahu boat mereka. Sampah itu dikirim kembali ke daratan.</p>
<p>Samudera yang bersih tidak sudi menerima sampah apapun mencemarinya. Maka seperti itulah hati yang luas seperti samudera. Dia tidak akan membiarkan bahkan setitik kecil kotoran menodainya. Itulah sebabnya. Mengapa. Orang-orang yang memiliki hati seluas samudera. Selalu bisa melihat hikmah dalam setiap peristiwa.  </p>
<p>“Bagaimana Natin bisa mengirimkan pesan seakurat itu?” demikianlah pertanyaan yang mengganggu semua orang kubikal. Bagaimana pun juga. Nggak mungkin Natin melemparkan botol itu di Ancol. Lalu gelombang laut membawanya ke tempat yang tepat. Di pantai ini.</p>
<p>“Bagaimana Natin mengendalikan para petugas pantai itu?” Sampai mereka mau berkesperimen dengan sampah yang ditumpahkannya di tengah laut siang itu? Jangan-jangan. Natin ada di sekitar sini…….</p>
<p>Sungguh, teka-teki yang sangat sulit sekali untuk dipecahkan.<br />
Ketika mereka tengah berkasak-kusuk tentang Natin yang misterius itu. Terdengar suara seseorang berteriak-teriak minta tolong. Sambil menggedor-gedor pintu.</p>
<p>Dari arah toilet.<br />
“Tolong bukakan pintu dari luar, dong. Please…” teriaknya. Seseorang terjebak didalam toilet. </p>
<p>Petugas restoran segera berlari kearahnya. Lalu membukakan pintu dari luar. Seseorang melompat dari dalam sesaat setelah pintu terbuka.</p>
<p> “Hadduh. Saya kebanyakan makan kepiting saus pedas tadi. Nggak tahan….” Kata orang itu. Semua orang sudah mengenalnya. Jadi nggak terlalu heran dengan kelucuannya.</p>
<p>“Gimana. Apakah kita sudah bisa membuka gulungan kertas didalam botol itu?” lanjutnya.</p>
<p>Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..</p>
<p>Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa hati kita bisa dibuat sedemikian sempitnya sehingga kita gampang sekali sakit hati. Mudah terpengaruh oleh cobaan dan godaan kecil. Mudah menjadi korban dari perkataan, tindakan dan cemoohan, nggak senonoh orang lain. Tapi. Kita juga bisa membuat hati kita seluas samudera. Sehingga kita. Tetap tangguh. Ogah mengeluh. Dan tetap menjadi pribadi yang bisa menjaga kebersihan hati. Meskipun kita menghadapi tantangan yang berat sekali.</p>
<p>Salam hormat,<br />
Mari Berbagi Semangat!<br />
DEKA &#8211; Dadang Kadarusman – 19 April 2012<br />
Batch #2 Public Training &#8220;Natural Intelligence Leadership&#8221; 13-14 Juni</p>
<p>Catatan Kaki:<br />
Di hati yang sempit, hal baik pun bisa menjadi buruk. Di hati yang luas seperti samudera. Segala sesuatu tetap mengandung hikmah penuh makna.</p>
<p>Ingin tahu kisah-kisah seru Natin &#038; The Cubicle lainnya? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ </p>
<p>BATCH #2 PUBLIK TRAINING “NATURAL INTELLIGENCE LEADERSHIP”: Dijadwalkan tanggal 13 s/d 14 Juni 2012 di Hotel Menara Peninsula Jakarta. Training ini menawarkan PARADIGMA BARU tentang kepemimpinan. Training leadership ini: BEDA. Para leaders, daftar yok di 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com (DIBATASI MAKSIMUM 30 ORANG)</p>
<p>IN-HOUSE TRAINING “ADAPTING TO CHANGE”: Diatas kertas, rencana perubahan itu selalu mudah untuk dibuat. Tapi dalam pelaksanaannya, tidak semua orang bisa diajak untuk berubah. Sikap dan respon karyawan terhadap perubahan itu justru menjadi titik kritisnya. Sehingga membuka kesadaran karyawan untuk menerima perubahan menjadi sangat penting sekali. Kalau perusahaan Anda sedang menerapkan proses perubahan, maka para karyawan Anda perlu mendapatkan training “ADAPTING TO CHANGE” ini. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com (HANYA UNTUK PERUSAHAAN YANG SEDANG MELAKUKAN PERUBAHAN)</p>
<p>Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Subscription: Jika Anda belum namun ingin mendapatkan kiriman artikel inspiratif langsung dari Dadang Kadarusman – GREATIST! – silakan bergabung dengan milist yang baru saja kami buat. Daftar di link ini: http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ </p>
<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Jika Anda membutuhkan trainer untuk perusahaan Anda, Silakan Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327 </font></marquee><br />
gambar: etelescope.gr</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/19/hati-natin-seluas-samudera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Natin Naik Ke Posisi Yang Lebih Tinggi</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/18/natin-naik-ke-posisi-yang-lebih-tinggi/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/18/natin-naik-ke-posisi-yang-lebih-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 02:57:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Natural Intelligence]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=3198</guid>
		<description><![CDATA[Semua orang sudah pada datang. Kecuali si Bongsor yang masih belon keliatan. Maklum dia harus mampir dulu ke kubikal karena ada perlengkapan yang harus diambil dari kantor. Biasalah. Kadang-kadang ada aja yang keselip kalau lagi ada acara kayak gini. Kesian &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/18/natin-naik-ke-posisi-yang-lebih-tinggi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/smiling-plane-coloringcm.png"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/smiling-plane-coloringcm-276x300.png" alt="" title="smiling-plane-coloringcm" width="276" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-3199" /></a>Semua orang sudah pada datang.<br />
Kecuali si Bongsor yang masih belon keliatan. Maklum dia harus mampir dulu ke kubikal karena ada perlengkapan yang harus diambil dari kantor.  </p>
<p>Biasalah. Kadang-kadang ada aja yang keselip kalau lagi ada acara kayak gini. Kesian juga sih Sekris itu sebenarnya. Untungnya dia itu orang yang gesit. Dan hepiiii aja kalau ngerjain apa-apa. Aneh banget deh. Dia itu orang yang paling seneng disibukkin kalau ada acara untuk semua orang. Mungkin dasarnya dia itu orang baik dan suka melayani kali ya. Cocok banget jadi sekretaris.</p>
<p>Tak sabar menanti. Akhirnya Opri menelepon Sekris. ”Elo udah sampe mana?” katanya.<br />
”Gue udah masuk taksi nih,” jawaban dari seberang sana.<br />
”Hah? Elo baru naik taksi?” Opri terperanjat. ”Elo kan mesti check in Kris&#8230;.” wajahnya terlihat cemas. <span id="more-3198"></span></p>
<p>”Tenang aja Pri&#8230;” Sekrisnya sendiri malah santai aja.<br />
”Lima belas menit lagi elo mesti check in. Kalau nggak, elo ketinggalan pesawat,” balasnya.</p>
<p>”Habis gimana dong?” Sekarang Sekris juga ikutan panik.<br />
”Ya udah, elo SMS aja deh kode booking tiket elo. Ntar gue yang check inin&#8230;” katanya.<br />
Urusan check in selesai. Untungnya masih bisa diwakilkan pada orang lain. Maklum keberangkatan group. </p>
<p>Masalahnya, sampai sekarang Sekris belum juga nongol. Padahal sebentar lagi udah harus boarding. Yang ini kan nggak bisa diwakilkan kepada orang lain. Mesti orangnya sendiri yang datang. </p>
<p>”Mohon perhatian. Pesawat dengan nomor penerbangan DK-451 akan segera diberangkatkan.” begitu suara petugas bandara. ”Para penumpang silakan naik pesawat melalui pintu nomor 9.”</p>
<p>Semua orang kubikal semakin cemas.<br />
Nggak tega kalau Sekris sampai ketinggalan. Bisa hambar deh acara outing kantor ini kalau sampai orang yang paling merhatiin kebutuhan orang lainnya malah ketinggal. Nggak ada wajah yang ceria ketika masuk ke pesawat. Semua orang kubikal sedang mengkhawatirkan Sekris.</p>
<p>”Elo dimana?” telepon Opri udah nggak ada basa-basinya lagi.<br />
”Udah keluar tol nih&#8230;” jawabnya. </p>
<p>Aduh aduh&#8230;. semua orang udah didalam pesawat. Kecuali Sekris.<br />
”Bilangin sopir taksi elo cepetan dong&#8230;.” kata Opri.</p>
<p>”Maaf Bu, hand phone-nya mohon segera dimatikan. Kita akan segera take-off,” pramugari itu mengingatkan.</p>
<p>”Udah sampai nih,” Suara Sekris masih bisa didengar samar-samar. ”Tapi gue mesti cari porter dulu. Barang bawaannya segede gajah hamil tau gak sih&#8230;” tambahnya.</p>
<p>”HAAAH!?!?” Opri bangkit dari tempat duduknya.<br />
”Fi&#8230;” Sekarang dia memandang Fiancy yang duduk di sebelahnya. ”Bilangin sama pilotnya ya, jangan pergi dulu.” katanya. Dia berlari di lorong pesawat.</p>
<p>”Elo mau kemana, Pri?” Fiancy tak kalah galaunya.<br />
”Gue mau bantuin Sekris,” teriaknya sambil terus berlari. Menerobos pintu pesawat yang hampir ditutup. Suara pramugari yang memanggilnya nggak digubris sama sekali.</p>
<p>Sia-sia saja. Pilot nggak mau menunggu. Akhirnya mereka memutuskan untuk take off sesuai jadwal. Tidak ada penumpang yang segundah orang-orang kubikal. Kalau gini caranya, outing tahun ini bakal kacau balau. </p>
<p>Pramugari bersiap menutup pintu pesawat. Namun pada detik-detik terakhir itu terekam dalam gerakan lambat. Seorang cewek macho berlari sambil menggendong tas besar. Beberapa langkah dibelakangnya ada gadis modis yang setiap langkahnya bisa membuat ruang tunggu bandara bergetar.</p>
<p>Pramugari mengurungkan niatnya menutup pintu pesawat. Sampai kedua gadis itu melompat. Masuk kedalamnya. </p>
<p>Keriuhan nggak bisa dicegah ketika semua orang pada melonjak sambil bersorak kesenengan. Ributnya sama seperti di kubikal. Untungnya penumpang lain pada maklum. Hingga tak lama kemudian, pesawat pun tinggal landas. Terbang menembus angkasa.</p>
<p>”Para penumpang sekalian.” terdengar suara pilot dari kokpit. ”Kita telah meninggalkan Bandara Soekarno Hatta.” lanjutnya. ”Cuaca dilaporkan berawan dan hujan dibeberapa bagian. Dipersilakan untuk tetap mengenakan sabuk pengaman Anda. Terimakasih.”</p>
<p>Tak lama setelah itu. Sekris berdiri. Lalu pergi ke depan.<br />
”Mau ngapain lagi tuch si embem?” tanya Jeanice. Semua orang menggeleng. Nggak ada yang tahu kenapa Sekris bicara dengan pramugari di bagian depan.</p>
<p>Ketika pramugari menggeleng, orang-orang tahu kalau Sekris meminta sesuatu yang mustahil. Dengan wajahnya yang lucu. Sekris terlihat kembali merayu. Oh&#8230;, nggak ada yang bisa menolak wajah imut itu.</p>
<p>Pramugari itu menatap lekat Sekris. Lalu dia masuk ke kokpit pilot. Nggak ada yang tahu apa yang dikatakan atau diminta oleh Sekris. Yang jelas, beberapa saat kemudian pramugari keluar dari kokpit dan dengan senyumnya yang ramah mengatakan sesuatu. Entah apa. Tapi itu membuat Sekris kegirangan.</p>
<p>Tak lama kemudian, pengeras surara di pesawat dibunyikan.<br />
”Para penumpang sekalian&#8230;.” kata suara itu. Seperti suara pramugari gemulai. Tapi juga seperti suara yang sudah sangat familiar di telinga orang-orang kubikal.</p>
<p>”Terimakasih telah terbang bersama kami&#8230;..” katanya. Semua orang kubikal pada bengong. Nggak nyangka kalau Sekris bisa menggunakan pengeras suara itu.</p>
<p>”Apa yang dia lakukan&#8230;&#8230;?” Tanya Aiti. Setengah terpekik. Setengahnya lagi nggak percaya kalau si bongsor melakukannya.</p>
<p>”Gue juga nggak tahu, Ti,” balas Jeanice. Matanya nggak berkedip menatap Sekris.<br />
”Sebentar lagi hidangan akan kami sajikan untuk Anda,” lanjut Sekris. ”Namun menu hari ini berbeda dari biasanya,” katanya.</p>
<p>Semua penumpang siap-siap mendengarkan penjelasan lebih lanjut tentang menu baru itu. Bagaimanapun juga, makan di pesawat itu asyik. ”Menu hari ini khusus dibuat oleh Natin,” katanya. </p>
<p>Haaah?! Semua penumpang pesawat bingung. Orang-orang kubikal bingung karena nggak nyangka kalau Sekris sedemikian nekatnya hanya untuk menyampaikan pesan Natin. Orang-orang yang tidak kenal Natin bingung juga. Sambil pada berbisik. ”Siapa sih Natin? Pemenang kontes Master Chef? Pemilik restoran top?”. Percuma aja mereka bertanya. Mereka pada nggak tahu. Kecuali orang-orang kubikal.</p>
<p>”Menu hari ini adalah&#8230;” Sekris melanjutkan. Sambil membuka kertas kecil yang sedari tadi digenggamnya. </p>
<p>Semua orang menanti dengan tidak sabar. Tentu dengan harapan dan dugaan masing-masing.</p>
<p>”Menu hari ini adalah: DI POSISI YANG LEBIH TINGGI, MENDUNG SUDAH TIDAK ADA LAGI.”</p>
<p>Bersamaan dengan itu. Pesawat tiba-tiba terguncang. Ada turbulence dan siraman air hujan yang sangat deras. Untungnya Sekris dan pramugari sudah duduk di kursi khusus di lorong depan. </p>
<p>Untuk beberapa saat berikutnya. Pesawat seperti di ombang-ambing. Kilat sesekali pamer cahaya mengerikan di kiri dan kanan pesawat. Seperti hendak memecut-mecut dengan bunyinya yang menyeramkan.</p>
<p>”Para penumpang sekalian. Disini pilot Anda bicara,” terdengar seseorang di pengeras suara. ”Kita menghadapi cuaca yang buruk dengan turbulence. Pastikan sabuk pengaman Anda terpasang dengan baik.”</p>
<p>Gujrak!<br />
Badan pesawat seperti menabrak gulungan awan tebal. Lalu turun secara mendadak. Membuat hati semua orang terkesiap. </p>
<p>Gruduk. Gruduk. Gruduk. Wrrrererererere&#8230;.gruduk. Grok!<br />
Lalu stabil lagi. Tapi hanya beberapa saat. Gruduk. Gruduk. Gruduk. Gujrak.<br />
Sepertinya pesawat itu dikelilingi oleh tumpukan awan hitam pekat yang mengerikan. </p>
<p>Orang-orang pada komat kamit. Sambil berpegangan dengan temannya. Keandannya sangat menegangkan sekali.</p>
<p>”Kita akan menuju kepada ketinggian jelajah 10,000 ribu kaki,” kata pilot. Sambil mengarahkan pesawatnya untuk naik lebih tinggi. Masih terasa gujrakan-gujrakan yang mendebarkan. Tetapi. Semakin lama, semakin berkurang. </p>
<p>Semua kembali tenang.<br />
Tak ada lagi getaran yang mendebarkan. Apalagi gujrakan badan pesawat yang tiba-tiba turun secara mendadak. Sekarang. Pesawat itu terbang dengan mulus dan halus.</p>
<p>Orang-orang pada menengok ke luar jendela. Benar saja. Cuaca di luar cerah sekali. Seolah nggak ada awan yang menutupinya sama sekali.</p>
<p>Yang sebenarnya terjadi. Bukanlah tidak ada awan. Tapi sekarang. Mereka berada di atas awan. Sehingga tidak ada lagi hujan. Tidak ada petir. Tidak ada yang menghalangi cahaya matahari yang tengah bersinar cerah.</p>
<p>”Para penumpang sekalian,” pengeras suara kembali diaktifkan. Jelas bukan lagi suara pilot. Atau pramugari. Suara Sekris lagi. ”Khususnya para penghuni kubikal,” lanjutnya. Kemudian dengan PEDE-nya dia menyampaikan pesan-pesan Natin.</p>
<p>Seperti kata Natin. Di tempat yang lebih tinggi. Mendung sudah tidak ada lagi. Sama seperti hidup kita juga. Jika kita menghadapi kesulitan apapun. Mendung menyebabkan muram di hati. Hujan menyisakan basah di pipi. Petir membuat kita emosi. Halilintar membuat sekujur tubuh hidup kita gemetar. </p>
<p>Semua orang seksama mendengarkan. Nggak ada acara seminar motivasi seperti itu di pesawat manapun yang pernah mereka tumpangi. Apa lagi yang menjadi pembicara dadakan itu seorang gadis modis. Yang meskipun pipinya tembem. Tapi tetap terlihat cantik dengan balutan senyumnya yang manis.</p>
<p>Hidup kita. Tidak selamanya indah. Urusan kita. Tidak selamanya mudah. Kadang kita takut. Kawatir. Sedih. Kecewa. Bahkan juga kehilangan. </p>
<p>Seperti pesan Natin. Jangan terlalu terpengaruh. Jangan terlampau terbawa suasana. Sebaliknya. Naiklah ke tempat yang lebih tinggi. Iman kita yang mesti lebih tinggi. Keyakinan kita yang harus lebih tinggi. Kesabaran kita juga lebih tinggi. Ketabahan. Kegigihan. Kemauan. Kualits diri kita. Semuanya kita buat lebih tinggi.</p>
<p>Karena seperti kata Natin. Jika kita berhasil menaikkan diri kita sendiri ke posisi yang lebih tinggi. Maka kita akan menemukan bahwa disana. Mendung sudah tidak ada lagi.</p>
<p>”Selamat menikmati perjalanan Anda,” kata Sekris. ”Dan&#8230;.” berhenti sejenak. ”Terima kasih.” lanjutnya.</p>
<p>Seluruh isi pesawat itu riuh rendah dengan tepuk tangan para penumpang. Opri bahkan sampai bersuit-suit segala. Beberapa penumpang yang mengenakan dasi dan jas berdiri. Lalu menyalami Sekris. </p>
<p>”Bagus. Bagus.” kata mereka. Untuk sesaat. Sekris menikmati pengalaman baru menjadi selebritis.</p>
<p>”Tunggu dulu,” kata Aiti. Semua orang seperti membeku. Semua menengok kearahnya. ”Ada yang kurang,” lanjutnya. ”Tapi&#8230;, apa ya?” Wajahnya menampakkan keraguan.</p>
<p>Semua orang mengerutkan dahi. Lalu orang-orang kubikal berteriak serempak:”Pak Mergy!” </p>
<p>Iya. Pak Mergy kemana? Mengapa beliau tidak menyela seperti biasanya?<br />
Pramugari segera menyahut ;”Mohon maaf,” katanya. ”Penumpang atas nama Bapak Mergy ketinggalan pesawat&#8230;&#8230;” lanjutnya.</p>
<p>Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..</p>
<p>Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa semakin tinggi pesawat terbang. Semakin tidak terjangkau dia oleh awan. Semakin tinggi kualitas diri kita. Semakin tidak terjangkau kita oleh masalah dan kesulitan hidup. Dan semakin tinggi iman kita. Semakin tabah. Semakin sabar. Semakin bijaksana kita dalam menjalani hidup. Sehingga semakin tinggi kualitas diri kita. Semakin cerah suasana didalam hati kita. Insya Allah. Amin.</p>
<p>Salam hormat,<br />
Mari Berbagi Semangat!<br />
DEKA &#8211; Dadang Kadarusman – 18 April 2012<br />
Author, Trainer, &#038; Public Speaker ”Natural Intelligence”  </p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Posisi yang lebih tinggi tidak selalu berarti jabatan tinggi. Melainkan kualitas diri, yang terus bertumbuh dan bertambah. Dari hari ke hari.</p>
<p>Ingin tahu kisah-kisah seru Natin &#038; The Cubicle lainnya? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ </p>
<p><strong>BATCH #2 PUBLIK TRAINING “NATURAL INTELLIGENCE LEADERSHIP”: </strong>Teman-teman, Training Natural Intelligence Leadership (NatIn™) batch ke-2 dijadwalkan tanggal 13 s/d 14 Juni 2012 di Hotel Menara Peninsula Jakarta. Training ini menawarkan PARADIGMA BARU tentang kepemimpinan. Daftar yok di 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com (DIBATASI MAKSIMUM 30 ORANG)</p>
<p>Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
<strong>Subscription:</strong> Jika Anda ingin mendapatkan kiriman Artikel Inspiratif dari DeKa secara GREATIST, gampang kok. Silakan bergabung di Milist Natural Intelligence yang dikelola Deka. Caranya, masukkan email Anda dalam kotak yang disediakan dibawah ini:<br />
<input style="vertical-align: top"<br />
<input type="image" alt="LALU KLIK DISINI" name="Klik Disini"/>
<p style="text-align: center;">
<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Jika Anda membutuhkan trainer untuk perusahaan Anda, Silakan Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327 </font></marquee></p>
<p>Gambar: coloring.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/18/natin-naik-ke-posisi-yang-lebih-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Natin Mengharapkan Lebih Dari Sekedar Gaji</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/16/natin-mengharapkan-lebih-dari-sekedar-gaji/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/16/natin-mengharapkan-lebih-dari-sekedar-gaji/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2012 00:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Natural Intelligence]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=3194</guid>
		<description><![CDATA[Berkabung. Itulah yang sedang terjadi. Bukan hanya di rumah keluarga yang ditinggalkan. Tetapi juga di kubikal. Dan seluruh kantor cabang perusahaan. Sebagian besar orang di kubikal baru mendapatkan beritanya tadi pagi. Ketika mereka memasuki kantor. Namun ada beberapa orang yang &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/16/natin-mengharapkan-lebih-dari-sekedar-gaji/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/spiritual-riding-the-astralplanecm.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/spiritual-riding-the-astralplanecm-295x300.jpg" alt="" title="spiritual-riding the astralplanecm" width="295" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-3195" /></a> Berkabung.<br />
Itulah yang sedang terjadi. Bukan hanya di rumah keluarga yang ditinggalkan. Tetapi juga di kubikal. Dan seluruh kantor cabang perusahaan. </p>
<p>Sebagian besar orang di kubikal baru mendapatkan beritanya tadi pagi. Ketika mereka memasuki kantor. Namun ada beberapa orang yang sudah tahu sejak tadi malam. Salah seorang pegawai mengalami kecelakaan lalu lintas ketika pulang kerja. Saking parahnya. Jiwanya nggak tertolong lagi.</p>
<p>Seolah nggak percaya.<br />
Semua orang hanya bisa bengong. Bukan hanya teman-teman dekatnya. Tetapi juga teman yang hanya mengenalnya selintas. Bahkan mereka yang belum mengenalnya. Pagi itu. Semua orang tercenung. Sambil merenungkan; Apakah seseorang harus sampai meninggal ketika sedang berjuang mencari nafkah buat keluarganya? <span id="more-3194"></span></p>
<p>Pertanyaan yang menggugat.<br />
Tetapi begitulah kenyataannya. Bukan sekali itu saja kejadiannya. Di koran. Sudah berkali-kali peristiwa serupa itu diberitakan. Ada pegawai yang jatuh ketika sedang membersihkan gedung. Ada teknisi yang terkena sengatan listrik saat memperbaiki instalasi. Ada operator yang tergencet mesin penggiling. Ada yang&#8230;. Macam-macam.</p>
<p>Kematian juga nggak pilih kasih. Nggak cuma pegawai kecil yang direnggut hidupnya. Pegawai kelas atas pun demikian. Ada direktur yang meninggal di ruang kerjanya. Ada boss besar yang tengah berdinas di luar kota, dan pulang tinggal jasadnya. Ada top eksekutif yang tiba-tiba jatuh di ruang rapat. Lalu pulang ke rumah dengan keranda.</p>
<p>Kematian itu adil.<br />
Tidak memilih. Dan tidak memilah. Semuanya mendapatkan kesempatan yang sama. Tapi kenapa harus orang yang sedang bekerja?</p>
<p>Ada begitu banyak pertanyaan yang memenuhi benak semua orang di kubikal. Untuk sehari itu. Mereka menyadari jika hidup tidak pernah bisa diprediksi kapan berakhirnya. Namun karena kita menghabiskan sekitar setengah dari hidup kita di tempat kerja. Maka peluang untuk mengalaminya pada saat bekerja selalu terbuka.</p>
<p>Ada gundah di hati mereka.<br />
Namun ada penghiburan yang menyertainya. Sebuah kalimat kecil yang dituliskan Natin di whiteboard yang menempel di dinding pantry. Menu hari ini. Begitu seperti biasanya tertulis. ”HARAPKAN LEBIH DARI SEKEDAR GAJI”.</p>
<p>Dengan menu itu Natin seolah hendak mengingatkan orang-orang di kubikal bahwa bekerja itu. Tidak peduli berapapun gajinya. Tetap tidak sepadan dengan resikonya. Jangankan ngomong soal resiko. Soal tenaga. Soal kesal. Soal lelah di hati. Soal ganjalan didada. Soal perasaan tertekan. Semuanya. Sungguh. Gaji yang kita terima itu nggak bakal pernah sepadan. Meski dinaikkin jumlah berkali-kali lipat.</p>
<p>”Gaji kita emang dari dulu kurang besar,” bisik Opri. Seolah mengiyakan menu hari ini itu. Seolah mencemooh juga.</p>
<p>”Di kali sepuluh juga akan tetap kurang, Pri.” begitu sergah Fiancy. ”Jiwa kita masih terlalu berharga untuk dibayar berapapun.” lanjutnya. </p>
<p>”Jadi kita nggak usah kerja aja, kaleeee&#8230;.” balas Opri. Emosional. Tapi bisa dimaklumi. Tak ada orang yang dengan senang hati menerima kepergian sahabatnya ketika dia sedang menjalankan tugas. </p>
<p>”Bukan begitu,” sela Aiti.<br />
”So?” mulut Opti bulat agak memonyong.<br />
”Bener yang dibilang Natin,” balas Aiti. ”Kita mesti mengharapkan lebih dari sekedar gaji.” katanya.</p>
<p>”Jadi kita demo aja?” lonjaknya. ”Biar top managemen tahu kalau pekerjaan kita semua beresiko?”</p>
<p>”Nggak ada pekerjaan yang nggak beresiko, Pri.” Fiancy menimpali. ”Ini nggak semata-mata soal pekerjaan. Ini soal hidup kita yang sedemikian berharga.” </p>
<p>”Elo sembunyi di rumah juga tetap saja bakal mati juga,” ceplos Sekris.<br />
”Jadi kita ini sebenarnya ngomongin apa-an sih?” Opri makin sewot. ”Ngomongin pekerjaan atau ngomongin soal kematian?”</p>
<p>”Diiih, kok jadinya serem amat sih&#8230;.” Jeanice merinding. ”Ngomongin yang lain aja yuuuukk&#8230;..hhh&#8230;”</p>
<p>”Coba elo renungkan menu hari ini yang Natin tulis Jean,” Fiancy berbalik menatap Jeanice. ” Natin mengajak kita untuk mulai ngebenerin niat kita dalam bekerja.” lanjutnya.</p>
<p>Semua teman-teman di kubikal pada bengong.<br />
”Gue rasa, Natin pengen kita kalau kerja nggak cuman mikirin gaji doang.” katanya. ” Natin pengen kita semua kalau kerja itu mengharapkan lebih dari gaji, Galz&#8230;”</p>
<p>”Apakah kita bisa berharap lebih dari itu?” tanya Opri.<br />
”Bonus, maksudnya? Kan kita udah dapet?” Jeanice ikut mempertanyakannya.</p>
<p>”Gaji, bonus, tujangan, asuransi, fasilitas, semua sama saja.” jawab Fiancy. ”Semua yang kita dapatkan secara materi dari kantor. Itulah yang dimaksud oleh Natin.”</p>
<p>Matanya Fiancy memandang berkeliling. ” Natin mengajak kita untuk mengharapkan lebih dari sekedar imbalan-imbalan material begitu.” lanjutnya. ”Dia ingin kita semua belajar mengharapkan sesuatu yang&#8230; hakiki. Emh&#8230; maksud gue&#8230; yang benar-benar sepadan dengan resiko dan pengorbanan kita dalam bekerja.”</p>
<p>”IYYA TAPI APPPPAAAAAAA?” semua orang serempak meminta kejelasan.<br />
Fiancy terdiam untuk beberapa saat. Lalu. Dia berkata; ”Gue rasa.” katanya ”Natin ngajak kita untuk meniatkan setiap pekerjaan yang kita lakukan untuk Tuhan.”</p>
<p>Tuhan? Rasanya. Kata itu jarang sekali disebut-sebut disitu. Padahal tidak ada sesuatu pun yang terjadi dengan hidup kita tanpa seizin-Nya. Padahal. Dia Yang Maha Kuasa menjanjikan balasan yang terbaik untuk setiap kebaikan yang kita lakukan. Padahal. Tak ada satu pun tindakan kita yang tidak tercatat. Lalu diperhitungkan-Nya di hari kemudian.</p>
<p>Sungguh berbahagialah. Orang yang mempersembahkan setiap tindakan dan hasil karyanya hari ini. Bagi Tuhannya. Beruntung karena orang itu pasti mendapatkan balasan yang setimpal. Dia sudah mendapatkan gaji atau bonus untuk pekerjaannya itu. Namun lebih dari itu. Dia mendapatkan kebaikan dan pahala yang diharapkannya dari Tuhannya.</p>
<p>Maka harapkanlah balasan yang terbaik kepada Tuhan. Begitu kata Natin. Agar untuk setiap pekerjaan yang kita lakukan. Kita bisa mendapatkan lebih dari sekedar gaji. </p>
<p>Jika kita hanya mengharapkan gaji. Ya cuman gaji itu doang yang kita dapatkan. Tapi jika kita juga berharap Tuhan mencatatkannya sebagai kebaikan. Maka niat kita itu pasti kesampaian.</p>
<p>Orang itu juga beruntung, kalau meniatkan pekerjaannya untuk melayani Tuhan. Karena. Dengan niat yang bernilai tinggi itu. Dia nggak mungkin kerja asal-asalan. Malu dia kalau bertindak demikian. Bukan malu pada teman. Atau pada atasan. Tapi malu pada Tuhan. Masa sih melayani Tuhan asal-asalan. Jadi. Pasti dia bekerja lebih baik di sepanjang hari itu.</p>
<p>Prestasinya pasti bagus. Kualitas kerjanya. Pasti memuaskan. Karena dia malu pada Tuhan jika hanya menghasilkan sesuatu yang berkualitas rendah.</p>
<p>Orang itu juga akan tahan banting. Karena meskipun menghadapi situasi sulit. Diomelin pelanggan yang bawel. Dimarahin atasan yang sok kuasa. Dia percaya. Bahwa dia sedang melayani Tuhan. Jadi. Mengapa pusing dengan gangguan-gangguan kecil seperti itu. Fokus saja pada usahanya melayani Tuhan. Maka dia akan dengan khusyu. Dan khidmat. Dalam menjalani pekerjaannya.</p>
<p>”Can we not to talk about the thing doesn’t exist, please?” suara itu datang dari belakang. ”Gue nggak percaya kalau Tuhan itu ada,” lanjutnya.</p>
<p>Semua orang terperangah. Tetapi hanya sebentar saja. Karena mereka percaya jika keyakinan adalah hak asasi manusia. Nggak ada yang boleh memaksa seseorang yang mengimani ini atau itu. Jadi. Mereka santai aja menyikapinya.</p>
<p>”Nah&#8230;, kalau elo nggak percaya Tuhan itu ada,” giliran Opri yang berdiri sekarang. Lalu berjalan menghampirinya. ”Setidaknya elo bisa meniatkan bekerja itu untuk melayani sesama. Oke?” telapak tangan Opri sudah ada di bahunya. Nggak ada pilihan lain bagi orang itu selain mengangguk. ”Hidup elo singkat. Pastikan elo berguna buat orang lain.”</p>
<p>”Anak-anak, dengarkan sebentar. Ada pengumuman penting,” suara Pak Mergy membuyarkan pembicaraan mereka. Semua bersiap untuk mendengarkan pengumuman yang kata Pak Mergy penting itu.</p>
<p>”Pagi ini saya mendapatkan kabar jika tadi malam terjadi kecelakaan lalu lintas. Dan teman kita&#8230;&#8230;” lanjutnya.</p>
<p>”Meninggal dunia kan Pak.” Opri dengan cekatan memotongnya.</p>
<p>”Lho, kok kamu tahu sih?” Pernyataan Opri benar-benar membuat Pak Mergy bengong. </p>
<p>Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..</p>
<p>Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa apapun yang kita dapatkan sebagai imbalan dari pekerjaan yang kita lakukan sungguh tidak sepadan dengan pengorbanan. Dan resiko yang kita hadapi selama bekerja itu. Maka bukan imbalan berupa materi yang bisa mengimbanginya. Melainkan imbalan yang kita harapkan dari Dzat yang maha membalas kebaikan. Tenteram hati mereka setelah mengganti niatnya. Sekarang. Mereka bukan sekedar mengharapkan gaji dan imbalan lainnya. Dalam bekerja. Mereka juga mengharapkan pahala dari sisi Tuhannya. </p>
<p>Salam hormat,<br />
Mari Berbagi Semangat!<br />
DEKA &#8211; Dadang Kadarusman – 16 April 2012<br />
Author, Trainer, &#038; Public Speaker ”Natural Intelligence”<br />
<a href="http://www.twitter.com/dangkadarusman"><img src="http://twitter-badges.s3.amazonaws.com/follow_me-a.png" alt="Follow dangkadarusman on Twitter"/></a></p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Setiap kali mengerjakan tugas-tugas harian kita, harapkanlah kebaikan di dunia dan diakhirat. Agar kita mendapatkan kedua-duanya.</p>
<p>Ingin tahu kisah-kisah seru Natin &#038; The Cubicle lainnya? Kunjungi dan bergabung di <a href="http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ " target="_blank">http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ </a></p>
<p><strong>BATCH #2 PUBLIK TRAINING “NATURAL INTELLIGENCE LEADERSHIP”:</strong> Teman-teman, Training Natural Intelligence Leadership (NatIn™) batch ke-2 dijadwalkan tanggal 12 s/d 13 Juni 2012 di Hotel Menara Peninsula Jakarta. Training ini menawarkan PARADIGMA BARU tentang kepemimpinan. Daftar yok di 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com </p>
<p>Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
<strong>Subscription:</strong> Jika Anda belum namun ingin mendapatkan kiriman artikel inspiratif langsung dari Dadang Kadarusman – GREATIST! – silakan bergabung dengan milist yang baru saja kami buat. Daftar di link ini: http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ </p>
<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Jika Anda membutuhkan trainer untuk perusahaan Anda, Silakan Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327 </font></marquee></p>
<p>Gambar:ridingtheastralplane.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/16/natin-mengharapkan-lebih-dari-sekedar-gaji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Natin Melayani Orang Lain</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/05/natin-melayani-orang-lain/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/05/natin-melayani-orang-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Apr 2012 03:24:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Natural Intelligence]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=3191</guid>
		<description><![CDATA[Tidak semua orang diizinkan ke pantry. Ini beneran. Ada orang-orang yang boleh pergi ke pantry. Dan ada juga orang yang tidak boleh. Keputusan itu sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Wajib dijalankan dan dipatuhi oleh orang-orang di kubikal. Biasa. Kalau &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/05/natin-melayani-orang-lain/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/serving-jessywoozlebp.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/serving-jessywoozlebp-204x300.jpg" alt="" title="serving-jessywoozlebp" width="204" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-3192" /></a>Tidak semua orang diizinkan ke pantry.<br />
Ini beneran. Ada orang-orang yang boleh pergi ke pantry. Dan ada juga orang yang tidak boleh. Keputusan itu sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Wajib dijalankan dan dipatuhi oleh orang-orang di kubikal.</p>
<p>Biasa. Kalau terjadi gejolak atau penolakan.<br />
Khususnya untuk keputusan yang membeda-bedakan. Orang yang kadang-kadang menyebutnya sebagai diskriminasi. Malah ada yang membawa-bawa isyu SARA segala. Makanya, hampir dianggap lumrah kalau di banyak tempat terjadi protes dan demo.</p>
<p>Di kubikal tidak begitu.<br />
Khususnya terhadap keputusan bahwa tidak semua orang boleh ke pantry. Semua orang menerima keputusan itu dengan bulat. Tanpa protes sama sekali. <span id="more-3191"></span></p>
<p>Orang juga sering keliru mengira bahwa kalau pegawai ’nggak protes’ itu artinya nunut seperti kerbau dicocok hidungnya. Nggak ada pilihan lain. Pasrah aja. Soalnya karyawan berada pada posisi yang paling lemah. Selalu begitu.</p>
<p>Di kubikal tidak begitu.<br />
Keputusan itu justru dibuat oleh mereka sendiri. Yang menyepakati bahwa tidak semua orang boleh ke pantry setiap hari, ya mereka sendiri. </p>
<p>Komite perwakilan kubikal sudah mengidentifikasi. Apa saja sih yang diperlukan oleh orang-orang dari pantry? Air putih, jelas. Kopi, oke. Teh, boleh. Susyu, tentu. Tissyu, tak masalah. Semua sudah di buatkan listnya. Daftar kebutuhan orang dari pantry itulah yang dibawa dalam rapat kubikal kemarin. Keputusannya; setiap hari Selasa dan Kamis; tidak semua orang boleh ke pantry.</p>
<p>Lha semua kebutuhan itu? Gimana?<br />
Nggak usah khawatir. Karena semua orang kubikal telah berkomitmen untuk menjalankan menu terbaru dari Natin. Seperti biasa. Menu yang aneh. Tapi layak untuk diikuti. Bunyinya:”MELAYANI ORANG LAIN.”</p>
<p>Semua orang di kubikal dibagi dua. Kelompok pertama menyebut diri mereka sebagai team ’Penyayang’. Sedangkan kelompok ke dua menamakan diri mereka sendiri sebagai team ’Pengasih’. Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih. Maha Penyayang. Mereka bertekad untuk belajar saling mengasihi. Dan saling menyayangi. Mulai hari ini.</p>
<p>Group ’Penyayang’ bertugas pada hari selasa. Untuk melayani semua keperluan kelopok ’Pengasih’ yang behubungan dengan urusan pantry. Sedangkan team ’Pengasih’ bertugas setiap hari Kamis untuk melayani team ’Penyayang’.</p>
<p>Jadi, satu hari dalam satu minggu. Setiap orang punya kesempatan untuk menjadi raja dan ratu di kubikal. Nggak perlu mengurusi apapun yang berkaitan dengan pantry. Karena temannya dari kelompok lain yang akan menjadi pelayan bagi mereka.</p>
<p>Apapun yang mereka inginkan. Tinggal teriak saja. ”Kopi!”<br />
Maka seseorang akan segera berlari untuk mengambilkannya kopi. Persis seperti yang dia inginkan. Nggak perlu membayar 4 dollar loh untuk secangkir kopi nikmat.</p>
<p>Malah kopi dari pantry itu terasa lebih nikmat lagi kini. Tahu kenapa?<br />
Karena kopi itu disajikan oleh seseorang yang tidak menginginkan uang kita. Kopi itu disajikan oleh seseorang yang mengasihi kita. Atau seseorang yang menyayangi kita.</p>
<p>”Gue nggak minum kopi. Teh manis aja,” seseorang juga boleh berteriak begitu.<br />
Lalu seseorang yang lainnya segera bangkit dari kursi di kubikal. Pergi menuju ke pantry. Kemudian datang lagi dengan secangkir teh yang dipesan oleh seseorang yang dikasihinya. Atau yang diminta oleh seseorang yang disayanginya.</p>
<p>Oooh&#8230;. lezaaaatnya&#8230;&#8230;<br />
Seperti jadi raja dan ratu beneran.<br />
Minimal. Seperti sedang berada di restoran yang dilayani oleh waitress paling ramah sedunia.</p>
<p>Di hari pertama. Agak terasa janggal memang.<br />
Rasanya gimanaaa gitu ya. Secara semua orang dikubikal kan termasuk orang yang relatif mapanlah. Di rumahnya masing-masing ada pembantu. Semuanya serba dilayani oleh orang lain. Eh. Sekarang malah harus melayani orang lain.</p>
<p>Tapi setelah dicoba. Ternyata asyik juga loh. Fun, lagi.<br />
Cuma ada 1 orang yang kelihatannya kurang senang. Nggak apa-apalah. Kalau cuman satu orang. Bukan nggak apa-apa maksudnya menihilkan keberadaan orang itu. Tapi. Kan kita nggak bisa maksa orang lain. Kalau sudah menjadi konsensus bersama, ya orang itu yang harus belajar menyesuaikan diri.</p>
<p>Tapi tetap jadi pertanyaan juga sih. Soalnya yang kelihatan kurang senang itu justru pentolan kubikal juga. Seseorang yang selama ini selau proaktif. Dan bersikap positif. Terhadap inisiatif. Maupun gagasan inovatif. Yang datang dari orang-orang kubikal.</p>
<p>Sekris. Si cewek modis itu.<br />
Wajah buletnya nggak bisa menyembunyikan perasaan itu. Kelihatannya dia kurang nyaman dengan gagasan itu. Dia masuk kedalam kelompok ’Pengasih’. Jadi. Hari selasa itu dia kebagian menjadi ratu. Tapi kayaknya dia nggak suka tuch.</p>
<p>”Elo nggak suka ya Kris&#8230;” Fiancy deh yang kena tugas buat bujukin dia. ”Ini kan untuk kepentingan bersama juga Kris&#8230; Seminggu cuman sekali pula&#8230;” katanya.</p>
<p>”Bukan itu masalahnya Fi&#8230;.” tukas Sekris.<br />
”Emh?!” Fiancy menarik tubuhnya ke belakang. Jawaban Sekris agak diluar dugaan. ”Jadi&#8230;.?” wajahnya kembali condong ke depan.</p>
<p>”Gue&#8230;.” kata Sekris. Ada keraguan di wajahnya.<br />
”Kris&#8230;.” Fiancy meyakinkan Sekris jika dia boleh berkata apa aja. Aman. Nggak bakal dibocorin kepada siapapun jika dia menginginkannya demikian.</p>
<p>”Gue punya kebiasaan aneh, Fi&#8230;.” katanya.<br />
Fiancy makin mendekat. Sadar jika temannya menginginkan pembicaraan yang tidak didengar oleh yang lain.</p>
<p>”Gue suka kepengen&#8230;.” Sekris berhenti.<br />
Fiancy menatapnya. Tapi tidak ada tambahan kata-kata yang diucapkannya.<br />
”Kepengen apa-an Kris?” akhirnya Fiancy menanyakannya langsung. Percuma. Ditunggu lama juga nggak ada jawaban. </p>
<p>Sekris malah kelihatan gelisah dengan duduknya.<br />
”Gue pengen&#8230;..” terhenti lagi.</p>
<p>”Pipis&#8230;.?” Tak sabar. Fiancy asal nebak saja.<br />
”Yeeee&#8230;., bukan itu kaleee,” protes Sekris. ”Ngapain gue pake ngomong-ngomong segala kalau cuman pengen pipis doang mah&#8230;”</p>
<p>”Ya elo nggak jelas gitu sih&#8230;.” balas Fiancy.<br />
”Iya deeeeh&#8230; iya,” manja Sekris. ” Emh&#8230; anu Fi. Gue&#8230;. sering bolak balik ke pantry untuk&#8230;..” yah. Brenti lagih.</p>
<p>”Percuma deh Kris. Elo nyiksa gue tau nggak sih.” Fiancy mulai sewot. ”Please deh, Kris!”</p>
<p>”I-iya, iya Fi. Iya.” gantian Sekris yang merasa bersalah. ”Gue punya sindrom cuci tangan Fi&#8230;.” katanya. Mata belonya seolah hendak bersembunyi dibalik pipi tembemnya.</p>
<p>”Oh, Kris&#8230; gue pikir elo kenapa-napa. Kalau cuman itu doang, elo nggak usah malu lageee &#8230;” Fiancy memeluk sahabatnya.</p>
<p>”Bukan begitu Fi&#8230;.” balas Sekris. ”Sekarang gue nggak boleh masuk ke pantry. Itu siksaan berat buat gue&#8230;&#8230;..”</p>
<p>Nggak banyak orang yang tahu jika didunia ini ada orang yang punya sindrom seperti Sekris. Dia sering sekali mencuci tangan. Padahal. Tangannya bersih. Orang lain mungkin mengira itu lucu. Padahal nggak. Sama sekali nggak lucu.<br />
Orang yang mengalaminya sendiri kepengennya tidak begitu. Tapi dorongan dari dalam dirinya selalu memaksa dia untuk melakukan hal itu. Lagi. Dan lagi. </p>
<p>”Kris. Elo tinggal bilang aja.” Fiancy berusaha menenangkannya. ”Gue bawain baskom kesini biar elo bisa cuci tangan.” katanya.</p>
<p>”Ini beda Fi. Cuci tangan itu nggak sama seperti minum teh taukkk&#8230;.” bantah Sekris.</p>
<p>Bener juga. Semangat melayani ternyata tidak selamanya harus membabi buta. Nggak kena. </p>
<p>”Begini aja,” kata Fiancy ketika sebuah ide cemerlang melintas di kepalanya. ”Gue bakal ngomong sama orang-orang kalau buat elo. Khusus buat elo. Aturan nggak berlaku. Semacam pengecualian gitu loh&#8230;” Fiancy bahagia sekali bisa memberi solusi terbaik.</p>
<p>”Aduh Fiiiiii, gimana sih lo!” Mata belo Sekris melompat dari persembunyiannya. ”Itu sama aja elo ngasih tahu orang-orang kalau gue ini sakkkit!” pekiknya dengan tertahan. </p>
<p>O-ow.<br />
Salah lagi. ”Tapi&#8230;. Buat gue&#8230; elo nggak sakit Kris&#8230;.” katanya.</p>
<p>”Gue sakit, Fi. Namanya penyakitnya OCD. OOOO – CEEEE – DE!” Sekris seperti tengah menumpahkan kekesalannya.</p>
<p>”Oke Kris. Oke. Gue ngerti sekarang.” Fiancy jadi kalang kabut. ”Gimana kalau&#8230;” kalimatnya berhenti sampai disitu. Lalu Dia melihat ke kiri dan kanan.</p>
<p>Seolah tidak yakin kata-katanya tetap rahasia. Fiancy mendekatkan bibirnya ke telinga Sekris. Lalu dia membisikkan sesuatu. </p>
<p>Wajah Sekris perlahan mengendur. Lalu muncul seulas senyum. Kemudian mengangguk-angguk. Setelah itu mereka saling memeluk.</p>
<p>Tampaknya mereka telah menemukan solusi yang hanya mereka sendiri yang tahu. Keduanya tertawa sumeringah. Sayangnya keceriaan mereka malah menimbulkan muka cemberut orang-orang dikubikal. Yang sedari tadi pada menguping. Mereka agak kesal. Karena nggak bisa dengar apa solusi atas masalah yang dihadapi oleh Sekris.</p>
<p>”E-e-eeeh.. semua kembali kerja lagi&#8230;” Teriak Fiancy. ”Semua sudah beres.” tambahnya.</p>
<p>”Kopi! Hitam pekat. Nggak pake gula!” seseorang berteriak diujung kubikal. Seseorang yang lainnya bangkit lalu pergi ke pantry. </p>
<p>”KOPI SATU YA. Pakai krimer sedikit aja. Gulanya setengah sendok.” suara yang ini datang dari pojok ruangan. Tidak perlu menoleh siapa yang teriak. Dari suaranya orang tahu jika itu Pak Mergy.</p>
<p>Semua orang mendengarkan teriakan Pak Mergy. Tapi nggak ada seorang pun yang berdiri. Oh&#8230;, Pak Mergy belum punya buddy.</p>
<p>Untungnya beliau segera menyadari hal itu. Wajahnya tiba-tiba mengkerut. Sambil mengangkat bahu, Pak Mergy melirik ke langit-langit. Lalu berjalan menuju ke pantry sendiri. ”Nggak ada orang yang mau melayani saya&#8230;&#8230;” katanya.</p>
<p>Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..</p>
<p>Mereka lalu berlari mengejar Pak Mergy. Lantas menemani beliau menuju ke pantry.</p>
<p>Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari betapa indahnya ketika kita memiliki seseorang yang peduli. Yang mau melayani kita. Ketika menjalani hari-hari. Seseorang yang bersedia mendengar. Dan memberikan apa yang kita butuhkan. Seseorang yang dengan tulus berani menyebut diri mereka sebagai ‘Pengasih’ bagi teman-temannya. Seseorang yang iklas memposisikan diri mereka sebagai ‘Penyayang’ bagi kolega-koleganya. Mereka. Seperti menegaskan kehadiran Tuhan. Yang Maha Pengasih. Dan Maha Penyayang. Bisakah kita menjadi teman yang seperti itu? Mari. Kita belajar melayani orang lain.</p>
<p>Salam hormat,<br />
Mari Berbagi Semangat!<br />
DEKA &#8211; Dadang Kadarusman –  5 April 2012<br />
Ini hari terakhir Pendaftaran Training  ’Natural Intelligence Leadership’  </p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Bahkan para Nabi suci pun mendedikasikan seluruh hidup mereka untuk melayani orang lain.</p>
<p>Ingin tahu kisah-kisah seru Natin &#038; The Cubicle lainnya? Kunjungi www.dadangkadarusman.com atau http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ </p>
<p><strong>PUBLIK TRAINING TGL 11 s/d 12 APRIL:</strong> Teman-teman,<br />
<a href="http://www.dadangkadarusman.com/public-training/" target="_blank">Training Natural Intelligence Leadership (NatIn™) </a> dijadwalkan tanggal 11 s/d 12 April 2012 (direvisi dari semula tanggal 2 s/d 3 April 2012), di Jakarta. Saya mengundang Anda untuk mengikuti training tersebut. Pendaftaran: di 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com</p>
<p>Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. </p>
<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Jika Anda membutuhkan trainer untuk perusahaan Anda, Silakan Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327 </font></marquee><br />
Gambar: jessiewoozle.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/05/natin-melayani-orang-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Natin Memotivasi Diri Sendiri</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/04/natin-memotivasi-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/04/natin-memotivasi-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 03:45:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Natural Intelligence]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=3188</guid>
		<description><![CDATA[Susana jadi dingin. Bukan dingin sejuk. Tapi dingin membeku. Keadaan yang tidak memancarkan kehangatan. Segalanya serba kaku. Dan orang-orang di kubikal pada membisu. Ternyata benar. Mendung tidak selalu disebabkan oleh awan. Tidak juga karena sedang turun hujan. Sedang panas terik &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/04/natin-memotivasi-diri-sendiri/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/motivateyourself-twylahcm.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/deka1/wp-content/uploads/2012/04/motivateyourself-twylahcm-300x219.jpg" alt="" title="motivateyourself-twylahcm" width="300" height="219" class="alignleft size-medium wp-image-3189" /></a>Susana jadi dingin.<br />
Bukan dingin sejuk. Tapi dingin membeku. Keadaan yang tidak memancarkan kehangatan. Segalanya serba kaku. Dan orang-orang di kubikal pada membisu.</p>
<p>Ternyata benar.<br />
Mendung tidak selalu disebabkan oleh awan. Tidak juga karena sedang turun hujan. Sedang  panas terik seperti ini pun bisa terjadi mendung hingga suasana dingin mencekam seperti itu.</p>
<p>Semua orang sedang pada bete. Padahal hanya soal sepele.<br />
Ada seorang pejabat tinggi di perusahaan – tidak usah disebut namanya – yang mengeluarkan kata-kata tidak patut. Yang nggak pantes diucapkan oleh seorang pemimpin. Yang menyinggung perasaan orang-orang di kubikal.<span id="more-3188"></span></p>
<p>Setelah selama beberapa hari ini suasana di kubikal menjadi sedemikian harmonis dan indahnya. Tiba-tiba saja berubah 180 derajat seketika ’beliau’ kembali dari perjalanan dinasnya di luar negeri. Nampaknya. Suasana kondusif yang dalam beberapa hari terakhir sudah terbentuk itu akan sirna. Lalu kubikal kembali kepada wujudnya yang nyaris menyerupai kuburan seperti sebelumnya.</p>
<p>”Kenapa pada heran sih!” Sengit Opri. ”Dia kan emang orang kayak gitu dari dulu.” tegasnya.</p>
<p>Semua orang sudah mengenal betul perangai orang itu. Maksudnya, orang yang satu itu. Namanya&#8230;. nggak etislah kalau menyebut namanya. Lagian, sudah lama sekali orang-orang di kubikal nggak pernah lagi menyebut nama beliau. Orang-orang lebih suka menyebutnya ’YKW’.</p>
<p>YKW itu bukan inisial seperti halnya JK untuk Jusuf Kalla. Dan DK untuk Dadang Kadarusman. YKW itu singkatan dari ’You Know Who’. Elo tahulah siapa yang dimaksud. Ya&#8230; orang yang itu. Orang yang orang lain sudah enggan untuk sekedar menyebut namanya. Seperti sebutan untuk Voldermort dalam novel Harry Potter deh.</p>
<p>”Gue ngerti Pri,” tukas Fiancy. ”Tapi kok YKW nggak berubah juga sih. Berubbbaaaah gitu loh&#8230;.”</p>
<p>”Elo bener,” balas Opri. ”Tapi elo bisa apa?” sergahnya.<br />
”Emangnya elo nggak sakit hati diomongin kayak gitu sama YKW, Pri?” selidik Fiancy.<br />
”Banget.” Wajah Opri merengut. ”Kalau bukan boss, udah gua aaaarrrrggghhh&#8230;.” katanya. Sambil mengepalkan tangannya seperti hendak nonjok.</p>
<p>”Gue jadi males ngapa-ngapain,” Aiti menyela dari belakang.<br />
”Gue juga.” keluh yang lain.</p>
<p>Sedari tadi mereka cuman bisa manyun aja di depan komputernya masing-masing. Sepertinya nggak ada gairah untuk mengerjakan apapun.</p>
<p>Benar sekali.<br />
Sikap. Perkataan. Dan perlakukan atasan itu sangat besar sekali pengaruhnya kepada bawahan. Sayangnya, kita nggak selalu bisa memilih atasan. Jadi, seringnya ya kita mesti terima saja sebagai satu paket apa adanya.</p>
<p>Tapi ya.. itu tadi.<br />
Pemimpin seperti YKW itu lebih bagus dalam memimpin ketika sedang tidak ada di tempat. Sedangkan ketika berada di tempat. YKW lebih banyak menyinggung dan menyakiti perasaan orang-orang yang dipimpinnya. Sia-sia semua usaha yang dilakukan oleh orang-orang kubikal untuk mengikuti nilai-nilai Natin selama ini. Semangat yang sudah terbentuk itu harus hancur lagi terlindas oleh perilaku pemimpin seperti YKW.</p>
<p>Hasilnya?<br />
Boro-boro tambah rajin bekerja. Orang-orang dikubikal malah jadi malas melakukan apapun. Jangankan bekerja lebih baik dari biasanya. Untuk mengambil minuman di pantry pun mereka nggak punya selera.</p>
<p>”Mohon perhatian&#8230;.” suara merdu resepsionis terdengar melalui pengeras suara. Ada pengumuman. Dan semua orang di kubikal wajib mendengarnya tanpa kecuali. Semua orang harus berhenti untuk mendengarkan alunan suara resepsionis yang dibuat seperti panggilan masuk ke bioskop itu.</p>
<p>”Mohon perhatian seluruh karyawan&#8230;” katanya.<br />
”Menu hari ini&#8230;” demikian resepsionis meneruskan. Semua orang mendengarkan. Tiba-tiba saja mereka ingat jika selain minuman, di pantry ada menu yang selalu mereka rindukan. </p>
<p>”Adalah&#8230;” lanjut resepsionis. Semua orang di kubikal sadar jika Natin tahu tak seorang pun pergi ke pantry pagi itu. Jadi dia minta resepsionis membacakannya lewat pengeras suara.</p>
<p>”MEMOTIVASI DIRI SENDIRI.” resepsionis mengakhiri bunyi pengumumannya.</p>
<p>Orang-orang di kubikal temangu untuk beberapa waktu. Lalu mereka saling pandang. Tak lama kemudian wajah tegang mereka mulai mencair. Lantas mereka membayangkan satu hal yang sama;” Natin tidak pernah kehabisan jalan untuk menginspirasi&#8230;&#8230;”</p>
<p>”YYEEAAAAAAAHHHHHH&#8230;.!” teriak Opri sambil mengacungkan kepalan tangannya. ”MOTIVASI DIRI KALIAN SENDIRI!” pekiknya.<br />
Semua orang di kubikal pada diam aja. Agak risih juga dengan gaya Opri yang mirip para motivator di panggung seminar paling heboh.</p>
<p>”Eh&#8230; gue&#8230;. gue salah ya?” Gantian Opri yang jadi gugup.</p>
<p>Setelah beberapa detik berlalu. Semua orang di kubikal mengerubutinya. Mengelu-elukannya. Persis seperti para penggemar musik tengah mengelilingi bintang pop pujaannya.</p>
<p>”Yeeeeaaaaaa&#8230;&#8230; Motivasi diri sendiri yeaaaa&#8230;&#8230;” semua orang berteriak dan melompat.</p>
<p>”Pengumuman lanjutan&#8230;” demikian resepsonis meneruskan. Sungguh diluar dugaan. Natin ternyata belum berhenti dengan kalimat pendek menu hari ini yang dititipkannya kepada resepsionis. Lalu mereka mendengarkan dengan seksama.</p>
<p>Jangan terlalu berharap kepada orang lain untuk memotivasi dirimu. Karena tak seorang pun bisa melakukan itu. </p>
<p>Termasuk motivator yang dibayar mahal sekalipun?<br />
Emmmmh&#8230; kelihatannya sih begitu. </p>
<p>Meskipun motivasi bisa datang dari luar. Tapi nggak ada yang bisa melebihi kekuatan motivasi yang datang dari dalam dirimu sendiri.</p>
<p>Atasanmu. Bawahanmu. Bisa memotivasi dirimu. Ketika mereka berperilaku seperti apa maumu. Tapi. Ketika atasanmu memutuskan sesuatu yang tidak berkenan dihatimu. Atau ketika bawahanmu tidak menuruti keinginan kamu. Maka, mereka berubah menjadi orang-orang yang dengan mudah membuat motivasimu runtuh.</p>
<p>Istrimu. Suamimu. Pacarmu. Bisa memotivasi dirimu. Ketika perangai dan perilaku mereka sesuai dengan seleramu. Namun ketika istrimu menuntut sesuatu yang kamu tidak mampu memenuhinya. Ketika suamimu tidak  memujimu seperti ketika tubuhmu masih seksi dulu. Ketika pacarmu membuatmu cemburu. Mereka bisa berubah menjadi pribadi-pribadi yang meluluh lantakkan motivasimu.</p>
<p>Temanmu pun begitu.<br />
Tak ada orang yang bisa menjadi motivator abadi bagimu. Karena semua orang mempunyai keterbatasan. Karena setiap insan memiliki kelemahan. Karena setiap pribadi mempunyai kepentingannya sendiri-sendiri. Maka tidak elok jika kita menggantungkan motivasi diri kita sendiri kepada orang lain. Sebab tak seorang pun sanggup selama 24 jam mendapingi dirimu. </p>
<p>Sungguh.<br />
Hanya dirimu sendiri yang bisa begitu. Maka. Belajarlah untuk selalu memotivasi dirimu sendiri. Jika kamu bisa begitu. Maka kamu akan tetap termotivasi dalam keadaan seberat apapun. Dalam situasi sesulit apapun. Dalam suasana yang paling menyebalkan sekalipun.</p>
<p>Belajarlah untuk memotivasi diri sendiri.<br />
Karena. Hanya dirimu sendiri. Yang bisa begitu.</p>
<p>Resepsionis mengakhiri pengumumannya.<br />
Ajaib sekali. Semua wajah sudah kembali cerah. Semua senyum sumeringah. Dan suasana di kubikal sudah kembali meriah.</p>
<p>”Eh&#8230;, Pak Mergy kok nggak muncul ya&#8230;” seseorang nyeletuk dari belakang. Dibalas oleh cekikikan beberapa orang lainnya. Tapi, guyonan itu hanya terjadi sesaat. Karena sesaat kemudian, mereka merasakan keanehan. Aneh jika Pak Mergy tidak tiba-tiba muncul seperti biasanya.</p>
<p>Nggak ada yang memerintahkan. Tapi semua orang di kubikal bergerak menuju ke ruang kerja Pak Mergy. Mereka khawatir jika terjadi apa-apa dengannya.</p>
<p>Benar saja. Dari kaca mereka mengintip. Pak Mergy sedang mengusap air mata yang membasahi pipinya.</p>
<p>”Ngapain kalian pake ngintip kayak gitu!” tanpa menoleh, Pak Mergy membentak dari dalam.</p>
<p>Semua orang pada terkejut. Tapi nggak ada gunanya untuk lari. ”B-Bapak mendengarkan pengumuman dari Natin ya&#8230;.” imbuh Sekris.</p>
<p>”Ho-ouh&#8230;” Pak Mergy mengangguk sambil menyembunyikan wajahnya yang sembab. Oh, lelaki tinggi besar itu ternyata memiliki perasaan yang halus. Beliau terharu dengan isi pengumunan dari Natin yang dibacakan oleh resepsionis.</p>
<p>Semua orang di kubikal merasakan hal yang sama. Pengumuman dari Natin itu benar-benar sangat berpengaruh kepada mereka. Dan sekarang. Mereka sudah tidak sedih lagi atas perlakukan dan kata-kata tak senonoh YKW. Semua kembali semangat lagi. Karena mereka percaya. Bahwa motivasi terbaik itu datang dari dirinya sendiri. Bukan dari atasan. Bukan dari motivator. Bukan dari orang manapun.</p>
<p>Semua orang di kubikal merasa lega. Ternyata Pak Mergy pun terinspirasi juga. Mereka segera balik kanan. Dan bersiap untuk kembali ke kubikalnya masing-masing. Dengan semangat baru. Untuk mengerjakan karya terbaik hari itu. </p>
<p>Namun sebelum mereka melangkah. Suara Pak Mergy terdengar dari dalam ruang kerjanya. “Seandainya orang-orang mau mendengar nasihat saya seperti mereka mendengar  nasihat Natin…..” katanya.</p>
<p>Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..</p>
<p>Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa motivasi memang tidak bisa didapatkan dari siapapun selain dari diri kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa. Orang-orang yang mampu memotivasi dirinya sendiri tidak pernah bisa dihempaskan oleh situasi apapun. Mereka tetap saja ceria. Tetap antusias. Tetap bersemangat. Dan tetap. Fokus. Pada. Kontribusi. Terbaiknya. Di hari itu. </p>
<p>Salam hormat,<br />
Mari Berbagi Semangat!<br />
DEKA &#8211; Dadang Kadarusman –  4 April 2012<br />
Pendaftaran Training  ’Natural Intelligence Leadership’ terakhir tgl 5 April </p>
<p>Catatan Kaki:<br />
Belajarlah memotivasi diri sendiri. Karena selama kita memilikinya, tidak ada yang bisa  melemahkan diri kita.</p>
<p>Ingin tahu kisah-kisah seru Natin lainnya? Kunjungi www.dadangkadarusman.com atau http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ </p>
<p>PUBLIK TRAINING TGL 11 s/d 12 APRIL: Teman-teman, Training Training Natural Intelligence Leadership (NatIn™) dijadwalkan tanggal 11 s/d 12 April 2012 di Hotel Menara Peninsula Jakarta. Saya mengundang Anda untuk mengikuti training tersebut. Pendaftaran: di 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 atau email: dkadarusman@yahoo.com atau dadang@dadangkadarusman.com   (Pendaftaran ditutup tanggal 5 April).</p>
<p>Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Subscription: Jika Anda belum namun ingin mendapatkan kiriman artikel inspiratif langsung dari Dadang Kadarusman – GREATIST! – silakan bergabung dengan milist yang baru saja kami buat. Daftar di link ini: http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/ </p>
<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Jika Anda membutuhkan trainer untuk perusahaan Anda, Silakan Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327 </font></marquee></p>
<p>gambar: twylah.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2012/04/04/natin-memotivasi-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

