Saturday , June 25 2022
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Bekal Untuk Sebuah Perjalanan

Bekal Untuk Sebuah Perjalanan

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Sebelum memulai sebuah perjalanan, biasanya kita mempersiapkan bekal secukupnya. Kita selalu ingin memastikan bahwa bekal yang kita bawa cukup untuk memenuhi semua kebutuhan selama dalam perjalanan itu. Kita tidak ingin kehabisan bekal sebelum benar-benar menyelesaikan perjalanan itu, bukan? Ada banyak perjalanan yang pernah kita lakukan. Dan ada lebih banyak lagi perjalanan lain yang kita rencanakan. Namun, semua perjalanan itu terintegrasi dalam perjalanan utama yang paling hakiki. Dan kita menyebutnya perjalanan hidup. Untuk sebuah perjalanan yang sederhana saja, kita menyiapkan bekal yang sangat banyak. Maka – sejatinya – untuk pejalanan hidup; lebih banyak lagi bekal yang harus kita persiapkan. Tetapi, benarkah kita benar-benar telah mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan panjang itu? Padahal, jika kita gagal mempersiapkan bekal yang memadai; bisa jadi kita akan gagal menyelesaikan perjalanan ini. Sebab, bekal itu, tidak jarang bagaikan bensin bagi kendaraan yang kita gunakan untuk menempuhnya. Jika kita mempunyai bensin yang cukup, maka kita memiliki peluang untuk menyelesaikannya. Dan jika tidak, maka kita hanya akan teronggok disebuah tempat yang boleh jadi; kita tidak ingin berada disana.

Jika anda tinggal di kota besar yang lalu lintasnya kurang tertata seperti seperti Jakarta, anda pasti mengerti; betapa serunya berkendara pada jam-jam sibuk seperti ini. Begitu anda keluar dari halaman kantor, anda akan disuguhi keelokan arus lalu lintas yang dihiasi lampu dari mobil-mobil yang tidak bisa bergerak. Semuanya menyalakan lampu. Semuanya meraung-raung. Dan semuanya nyaris diam ditempat. Dan jika anda berkantor didaerah three in one seperti saya, maka tantangan itu menjadi sempurnalah adanya; Anda harus memutar mencari jalan lain sekedar untuk mematuhi aturan itu. Menghabiskan lebih banyak bensin. Membuang lebih banyak waktu. Menghambur-hamburkan banyak hal yang semestinya bisa dihemat. Jikapun anda bersedia menunggu sampai jam three in one itu berakhir; maka anda akan mendapati semua kendaraan berebut masuk. Dan karena hanya sedikit yang mau mengalah, maka jalanan menjadi nyaris tersumbat. Anda hampir tidak punya pilihan lain; kecuali jika anda bersedia pulang kantor jam satu dini hari. Mungkin jalanan sudah mulai sepi.

Bagaimana jika hari ini anda mendapati kemacetan lebih parah dari biasanya? Sehingga butuh lebih dari sekedar segelas kerja keras dan setandan kesabaran untuk bisa mencapai pintu masuk jalan tol. Dan ketika akhirnya anda berhasil memasuki ruas jalan tol, ternyata anda hanya bisa bergerak sejauh lima ratus kilometer saja; dan kemudian terdiam. Sekarang anda terjebak dijalan tol yang macet total. Mobil anda benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali. Bahkan, ketika dijalur arteri mobil-mobil lain bisa bergerak beberapa senti secara perlahan tapi pasti; di jalan tol, anda masih terjebak dalam dunia tanpa gerak. Jika anda berada pada situasi seperti ini, apa yang akan anda lakukan? Anda mundur? Tidak ada cara untuk mundur, karena kendaraan anda dikawal mobil-mobil lain; disebelah kanan, kiri, depan, dan belakang. Terbang? Jika anda bisa terbang, kenapa tidak dari tadi saja? Jadi, anda hanya bisa pasrah saja, bukan?

Bagaimana jika anda teringat bahwa bensin anda hanya akan cukup untuk perjalanan yang normal? Kalau Anda tahu bahwa bensin itu tidak akan cukup jika terjebak dalam kemacetan yang tidak biasa seperti itu; Anda masih bisa menikmati perjalanan itu? Baguslah jika anda masih bisa seolah-olah tetap tenang. Namun, masihkah anda setenang itu jika sekarang, anda sudah terjebak selama hampir 2 jam sambil hanya bisa beringsut-ingsut? Dan, bagaimana jika sekarang anda didera keinginan untuk pipis? Hah? Dijalan tol? Macet total? Dan anda ingin pipis? Bisakah anda menahannya? Baiklah, jika anda masih bisa menahannya. Bagaimana jika sekarang anda melihat lampu indikator bahan bakar dimobil anda menyala? Ha! Anda tahu artinya itu, bukan? Mobil anda benar-benar nyaris kehabisan bensin; sehingga tidak ada cara lagi bagi anda untuk sok yakin seolah semuanya akan baik-baik saja. Sekarang sekujur tubuh anda menjadi panas dingin. Meriang mulai menjalar dari ujung jari kaki anda, kemudian naik hingga menembus ubun-ubun. Seribu sesal memenuhi seluruh bagian tubuh. Anda menyesal, mengapa masuk jalan tol. Anda menyesal mengapa tidak mengisi bensin hingga penuh tadi pagi. Anda menyesal mengapa tidak membawa pispot. Anda menyesali semua hal. Ngomong-ngomong…, masihkah anda bisa menahan air pipis agar tidak sampai menyembur?

Bagaimana dengan mobil anda ? Ingat, bensin sudah benar-benar hampir habis. Aha, anda matikan saja mesinnya. Sebuah langkah briliant. Tetapi tunggu dulu. Tahukah anda bahwa; jika anda mematikan mesin mobil dalam keadaan bensin yang sangat menipis akan menyebabkan kerak dan kotoran dalam tangki bensin mengapung, lalu kembali mengendap menutupi saluran bensin yang menuju kepada pusat perapian? Jika anda lakukan itu, maka resikonya: mobil anda akan mogok, gorok, gok, gok. Tetapi, jika anda hidupkan terus mesin mobil anda; sampai kapan bisa bertahan? Anda tidak tahu kapan arus kendaraan bisa bergerak lagi sehingga bisa dipastikan bahwa cepat atau lambat anda akan kehabisan bensin. Sungguh sebuah akhir yang memilukan.

Marilah kita perjelas situasinya; anda terjebak dalam kemacetan total. Apapun pilihan anda: terus menghidupkan mesin mobil, atau anda mematikannya; mobil anda tetap akan mogok juga. Dan… anda kebelet pipis.

Marilah kita bayangkan. Apa yang terjadi seandainya mesin mobil anda benar-benar berhenti menyala? Bisakah anda menelepon perusahaan asuransi agar mengirimkan mobil derek untuk menariknya? Tidak. Mobil derek tak mungkin bisa mendekati anda. Bisakah anda meminta pengendara lain untuk menyumbangkan sedikit bensinnya agar mobil anda bisa hidup kembali? Tidak. Ini bukan soal kekurangan air minum, dimana setiap orang bisa dengan mudah saling berbagi. Bisakah anda meninggalkan mobil itu dan pergi ke pom bensin terdekat? Tidak mungkin. Anda tidak tahu dimana pom bensin terdekat berada. Tidak ada ojek yang bersedia mengantarkan anda. Tidak ada angkot. Tidak ada apapun yang bisa menolong anda. Dan bayangkan ini: jika penyebab kemacetan sudah berakhir didepan sana, sekarang kemacetan akan berpindah ketempat dimana mobil anda mogok. Dan, ingat; anda ingin pipis!

Apa yang anda lakukan sekarang?
Ini terdengar seperti sebuah dongeng bukan? Tidak. Ini bukan dongeng. Jika anda belum pernah mengalami situasi seperti itu, ketahuilah bahwa: didunia ini ada sekurang-kurangnya satu orang yang pernah mengalami hal itu. Dan orang itu adalah manusia yang menulis artikel ini.

Mari kita andaikan; orang itu adalah anda. Sekarang, bagaimana seandainya anda terjebak dalam kemacetan serupa. Tetapi, bensin yang ada didalam tangki mobil anda, lebih dari cukup untuk melewati semuanya itu. Anda tidak perlu takut, bukan? Anda boleh menghidupkan mobil sepanjang waktu, sampai arus lalu lintas mengalir kembali. Atau anda boleh mematikan mesinnya selama menunggu tanpa resiko mobil anda tidak bisa dihidupkan lagi. Hey, lihat: begitu banyak pilihan yang bisa anda buat. Tahukah anda mengapa anda bisa berbuat begitu banyak? Exactly. Anda mempunyai bekal bahan bakar yang memadai. Dengan sejumlah bekal bahan bakar yang menjamin anda untuk sampai ketempat tujuan; anda akan merasa tenang. Anda tidak mengkhawatirkan apapun. Dan anda dapat menjalani semuanya itu dengan penuh percaya diri. Bahkan, anda masih bisa melakukan banyak hal sesuka hati.

Bukankah perjalanan hidup kita juga begitu?

Hore,
Hari Baru!

Catatan kaki:

  1. Jalan tol. Jangan ditambah embel-embel ’ol’ dibelakangnya. Meskipun seringkali kita tidak mendapatkan situasi yang lebih baik dijalan tol dibandingkan dengan jalan reguler.
  2. Coba perhatikan, di jalan tol di negeri ini; orang boleh bebas membuang sampah, bahkan dari jendela mobil-mobil mewah. Lebih hebat lagi; bis kota boleh dengan leluasa menurunkan penumpangnya begitu saja. Dan lebih hebatnya lagi; pejalan kaki boleh dengan cueknya menyeberang seperti bebek. Dijalan tol dinegeri ini.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

3 comments

  1. bahasan yg menarik kang

    sayang ending (solusi) dari cerita ini tidak diceritakan, terusannya gmn tuh kang 🙂

  2. pembahasan yg bagus kang …
    seperti ilustrasi kang Dadang bahwa hidup juga perlu bekal karena kita tidak tau apakah kita sampai tujuan ?
    setiap hidup ada tujuan ya kang,…
    kalau engga ada tujuan buat apa hidup .. he he he.
    uda dulu kang.. uda kebelet pipis.

  3. bemby rudiansyah

    Hmmm gak mudah mencoba menjabarkan apa yg kira2 tersirat dalam tulisan ini… Tapi saya cukup yakin bahwa bekal kehidupan yang dimaksud adalah lebih dari sekedar bekal materi… Am I right ? Or totally wrong 😀