Tuesday , January 18 2022
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Personal Development / Lakukanlah Untuk Diri Sendiri

Lakukanlah Untuk Diri Sendiri

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Terdengar seperti pernyataan egois ya? Melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Memang demikian adanya. Kenyataannya, kita semua didorong oleh ego kok. Jika Anda merasa tidak memiliki dorongan ego, silakan uji sendiri kebenarannya. Ketika Anda melihat foto rame-rame bersama teman Anda; wajah siapa yang Anda cari pertama kali? Wajah Anda sendiri. Itu sudah pasti. Dan itu, menunjukkan bahwa ego merupakan bagian yang paling kuat di alam bawah sadar kita. Mau contoh lain? Baiklah. Ketika Anda melakukan sesuatu yang menguras energy dan waktu Anda; apakah hati kecil Anda bertanya ‘What In It For Me’? Apa sih gunanya gue melakukan semua ini? Tentu saja ya. Dan ketika merasa tidak ada faedahnya sama sekali buat diri kita sendiri, maka wajar jika kita tidak melakukannya. Atau… dilakukan sih. Tapi yaaa… alakadarnya saja. Namun kalau Anda lihat ada sesuatu yang bisa Anda peroleh dari melakukannya; biasanya Anda bersedia mengerahkan semua kemampuan Anda untuk meraihnya bukan?

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Tidak ada masalah loh, jika kita melakukan sesuatu dengan dorongan ego seperti itu. Justru kita membutuhkannya untuk bisa terus bertumbuhkembang. Bayangkan jika kita tidak punya ego. Kita tidak akan tertarik lagi untuk mendapatkan apapun. Namun, ego itu membutuhkan 2 penyeimbang. Penyeimbang pertama, adalah akhlak atau tingkah laku dan perangai yang baik. Dengan akhlak yang baik itu kita bisa memanfaatkan kekuatan ego tanpa menimbulkan efek sampingnya yang merugikan orang lain. Tanpa akhlak baik yang mendasarinya, bisa menjadikan seseorang egocentric. Yang mengukur segala sesuatunya atas dasar kepentingan pribadi semata. Semua manfaat dikeruknya. Dan lingkungannya dituntut untuk selalu mendahulukannya. Padahal, dengan memahami bahwa setiap pribadi memiliki egonya sendiri-sendiri, kita juga menjadi faham bahwa sikap egosentris hanya akan menimbulkan berbagai macam benturan.

Anda pernah melihat orang-orang yang serakah? Main embat apa saja yang diinginkannya. Tidak peduli orang lain susah karenanya. Yang penting, semua keinginannya terpenuhi. Kalau pun harus melanggar hak orang lain, tidak soal. Menodai nilai-nilai kesusilaan juga hayu aja. Pokoknya, apa yang dia mau; mesti didapatkan bagaimana pun caranya. Begitulah jadinya jika manusia membiarkan egonya berkeliaran sendirian tanpa bimbingan akhlak yang mulia. Pertanyaannya; jika kita berperilaku seperti itu, lantas apa bedanya kita dengan binatang ya? Bukankah Tuhan telah mencipatkan manusia dengan derajat yang lebih tinggi dari binatang?

Makanya, Tuhan mengingatkan kita dalam surah 95 (At-Tiin) Ayat 4 dan 5: “Sungguh Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk. Kemudian Kami kembalikan dia, ketempat yang serendah-rendahnya.” Kita ini diciptakan dengan derajat yang lebih tinggi dari binatang. Namun, perilaku kita. Menyebabkan nilai diri kita menjadi lebih rendah, bahkan dari binatang sekalipun. Begitulah jadinya, jika kita membiarkan ego menguasai diri kita tanpa penyeimbang berupa akhlak yang baik.

Penyeimbang kedua, adalah mental yang kuat. Kita membutuhkan mental yang kuat agar bisa memenuhi kebutuhan atas ego kita. Tanpa itu, kita akan menjadi orang yang cengeng. Makanya gampang menyerah pada keadaan. Lalu sembunyi saja dipojokan. Coba saja Anda perhatikan betapa banyak orang yang dulunya sangat positif. Sangat rajin. Sangat kompetitif. Tiba-tiba saja melempem begitu mendapatkan kekecewaan dari lingkungan kerjanya. Mungkin karena atasannya yang kurang baik. Mungkin karena kebijakan perusahaan yang tidak sesuai dengan harapannya. Mungkin karena belum juga dipromosikan meskipun hasil kerjanya selalu dipuji-puji sebagai yang terbaik. Atau, mungkin karena kekecewaan lainnya.

Perhatikan beberapa kalimat ini:”Ngapain gue kerja bagus-bagus, kalau boss gue saja kelakuannya seperti itu?” “Tahu gitu sih, gue nggak bakalan mau bantuin dia!” “Kurang apa coba? Gue sudah habis-habisan berusaha, eh nggak ada terimakasih sama sekali tahu!?” Rasanya tidak asing ditelinga kita ya? Setelah mengatakan itu, kita menjadi semakin giat dalam bekerja atau tidak ya? Semakin positif? Semakin baik? Tidak. Kita justru semakin menarik diri ke belakang. Lalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang menurut kita ‘sepadan’ dengan respon lingkungan kepada kita. Makanya, tidak mengherankan jika banyak orang yang punya potensi diri tinggi namun tidak mau mengerahkan segenap kemampuannya secara optimal. Karena mereka merasa, ‘imbalannya tidak sepadan dengan usaha atau kerja keras yang dilakukannya’.

Pertanyaannya adalah; “siapa yang paling rugi jika kita bersikap sedemikian?” Orang lain mungkin memang rugi, kalau tidak lagi mendapatkan pelayanan terbaik dari kita. Atasan juga rugi kalau kita tidak lagi menjadi anak buah yang bisa diandalkan. Perusahaan, rugi pula kalau kita tidak lagi berkontribusi secara maksimal. Tahu rasa deh mereka! Biar nyadar, kalau selama ini peran kita sangat penting buat mereka ya. Iya. Tapi pertanyaan kita bukan siapa yang rugi, melainkan siapa yang ‘paling’ rugi. Jika Anda punya potensi diri yang tinggi lalu Anda tidak mau mengoptimalkannya, apakah orang lain yang paling rugi? Atau diri Anda sendiri? Mestinya sih potensi setinggi itu bisa membawa Anda hingga ke puncak prestasi. Jika sekarang pencapaian kita masih segini-segini aja sih, yah… kita tahulah siapa yang paling rugi itu.

Biasanya, orang menyalahkan pihak lain untuk kegagalan yang dialami. Memang, kita tidak menuduhnya secara langsung. Tapi kita menjadikan mereka sebagai alasan untuk tidak melakukan hal terbaik dari kemampuan diri kita. Kita, menjadikan perlakuan buruk mereka kepada kita sebagai alasan; untuk bekerja asal-asalan. Dan kita, menjadikan semua hal ‘nyebelin’ mereka sebagai alasan; untuk tidak menunjukkan bahwa kita ini adalah pribadi yang memiliki sedemikian banyak keunggulan. Sehingga ketika keadaan kita stagnan, kita menjadikan orang lain atau kebijakan perusahaan sebagai kambing hitamnya. Begitulah jadinya, jika kita tidak memiliki mental yang kuat sebagai penyeimbang ego kita.

Sahabatku, kini sudah saatnya bagi kita untuk menggunakan kedua penyeimbang itu. Mulai sekarang, lakukanlah segala sesuatu itu untuk diri kita sendiri. Karena ego, membuat kita selalu bersedia melakukan apapun juga untuk mencapai keinginan diri kita sendiri bukan? Untuk diri sendiri, pastinya kita akan mengejar apapun sampai dapat. Namun, mari imbangi ego itu dengan akhlak mulia. Supaya kita tetap bisa menjaga nilai-nilai kemanusiaan kita. Dan imbangi pula dengan mental yang kuat. Supaya ketika menghadapi situasi-situasi yang kurang menyenangkan, kita tetap punya gairah untuk terus mengejar dorongan ego itu dengan sebaik-baiknya. Karena ego yang diimbangi dengan akhlak mulia dan mental yang tangguh, bisa menjadikan diri kita sebagai insan agung yang sanggup memenuhi fitrahnya, sebagai; sebaik-baik mahluk yang Tuhan ciptakan….

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 16 April 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Catatan Kaki:
Tanpa ego, kita tidak akan punya gairah untuk meraih apapun dalam hidup. Namun tanpa diimbangi dengan akhlak yang baik dan mental yang kuat, ego itu akan menyeret kita kepada derajat yang lebih rendah dari binatang.

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Pesan sponsor: Berikan training leadership kepada para leader di perusahaan Anda. Jika Anda temukan training provider yang bagus, silakan panggil yang Anda kenal. Tapi, kenapa cari yang lain lagi? Kan ada saya. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327. Saya punya banyak topik Leadership dan Pengembangan diri yang bisa di tailor-made. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:background-pictures.feedio.net

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*