Tuesday , June 28 2022
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Spiritualism / Menjadi Penyeru Kebajikan

Menjadi Penyeru Kebajikan

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Penyeru kebajikan? Hmmh…. Kayaknya topik kita kali ini hanya cocok untuk para juru dakwah ya? Tidak juga. Karena cara menyeru kepada kebajikan itu tidak hanya dengan bicara di masjid, gereja, pura, atau vihara. Kita bisa menyeru orang lain untuk melakukan kebajikan tanpa bicara bahkan. Bisa? Bisa banget. Misalnya, dengan menunjukkan perilaku kita yang baik sehingga orang lain ikut menjadi pribadi yang lebih baik. Atau dengan menunaikan tugas dan tanggungjawab kita sebaik-baiknya. Lalu orang mencontoh. Menyeru kepada kebaikan juga kan? Hal ini memungkinkan orang-orang yang tidak pandai bicara untuk juga bisa menjadi seorang penyeru kebajikan. Tapi kan kita tidak dapat tambahan penghasilan hanya karena orang lain mencontoh kita? Betul. Makanya, setiap penyeru kebajikan itu layak mendapatkan lebih dari sekedar gaji dan tunjangan. Lebih dari sekedar imbalan berupa materi belaka. Karena nilai dari sebuah kebajikan yang kita sebarkan tidak bisa diukur dengan uang.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Saya pernah diminta untuk berceramah di sebuah masjid berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi. Saya bilang “saya ini bukan ulama. Mungkin bukan saya orang yang tepat berbicara di forum tersebut.” Sebenarnya mau saja sih, asal jangan menuntut saya bicara ilmu agama. Belum sampai ilmu saya. Ibadah wajib saja masih banyak yang mesti diperbaiki. Lagi pula, topik-topik pembicaraan di rumah-rumah ibadah sungguh bukan bidang keahlian saya. Namun, entah bagaimana caranya; tahu-tahu akhirnya kami sepakat untuk melakukannya! Oh. Saya mesti bicara apa?

Ya sudahlah. Anggap saja ini sebuah forum dimana orang awam bicara dihadapan para ahli. Ada juga kan forum seperti itu? Maka saya pun berdiri di sana. Namun sama sekali tidak bisa ‘nempel’ di podium yang sudah disediakan. Ya seperti ketika saya memfasilitasi kelas training saja. Berseliweran kesana kemari. Di kelas training, memang saya tidak bisa diam disatu titik lebih dari 3 menit. Saya pindah dari sini kesitu, kesana, atau pun kesono. Mungkin jamaah melihat keanehan dalam ceramah Maulid Nabi kali ini. Ya sudahlah, biarin aja. Emang panitianya salah memilih pembicara….

Setelah bicara itu, saya dihadiahi sebuah buku. Buku tentang ilmu agama tentu saja. Entah karena sesepuh mesjid menyediakan dari awal buku itu. Atau karena beliau kasihan melihat ilmu agama saya yang sedemikian ceteknya. Biarin. Pokoknya seneng banget deh menerimanya. Belum lolos dari rasa senang itu, saya kemudian ‘diamplopi’. Dug. Hati saya langsung berdegup. Terpana saja jadinya. Panitia yang melihat betapa kikuknya muka saya kemudian mengatakan; “Maaf Kang Dadang, memang hanya ini yang bisa kami berikan.”

“Oh, b-bukan itu…..” saya buru-buru menjelaskan. “Maksud saya… C-cukup buku ini saja untuk saya. Cukup buku ini saja….” Untuk beberapa waktu kemudian, kami sama-sama bersikeras. Lalu, saya pun bertanya;”Tolong kasih tahu saya, berapa isi amplop itu?” Pertanyaan yang tidak sopan banget kan? Biarin.

Setelah saling menatap dengan sesama panitia lainnya beliau berkata “Empat ratus ribu, Kang…..” Tangan beliau masih menyodorkan amplop itu kearah saya.

Ya Allaah….. hati saya sepertinya sedang dicubit. Betapa baiknya para jamaah itu. Dengan keadaan masjid yang masih membutuhkan ini dan itu. Dengan kondisi masjid yang sudah harus diperbaiki disana sini. Mereka masih berusaha keras agar bisa membekali saya dengan sesuatu yang mereka sebut ‘alakadarnya….’

Bukan hanya dengan niat baik mereka hati saya rasanya seperti sedang menjerit. Saya juga membayangkan bayaran itu. Betapa tugas mulia para juru dakwah itu memang sangat pantas untuk dihadiahi pahala yang tertinggi disisi Ilahi. Karena mereka menyeru manusia untuk lebih dekat dengan Tuhannya. Untuk menjadi umat yang lebih baik. Untuk menjadi rahmatan lil’alamin. Dan untuk tugas beratnya itu, mereka mendapatkan ‘amplop’ alakadarnya seperti itu.

Jika apa yang para ulama itu dapatkan dibandingkan dengan imbalan yang saya terima setiap kali bicara di perusahaan klien-klien saya. Nyaris seperti langit dan bumi. Saya tidak bicara tentang ayat-ayat suci. Tapi dibayar lebih tinggi. Saya tidak menyampaikan tentang ajaran Ilahi, tapi diamplopi dengan nilai yang entah berapa puluh kali lipatnya. Isi pembicaraan saya sebagai seorang trainer lebih banyak untuk urusan dunia. Sedangkan para ulama dan juru dakwah itu mengajak pendengarnya meraih kemuliaan hidup di akhirat.

Sungguh pantas jika para Ulama sejati. Dan para juru dakwah yang mencontoh seluruh gaya hidup Rasulullah yang Zuhud itu mendapatkan tempat terindah disamping kiri dan kanan Nabi. Nanti ketika zaman keabadian telah tiba. Karena seluruh kata yang mereka ucapkan, bukan untuk sekedar mencari uang. Setiap ayat yang mereka sampaikan bukan untuk ditukar dengan sejumlah bayaran. Melainkan untuk menyeru umat manusia lebih dekat dengan sebenar-benarnya Tuhan. Satu, dan hanya satu-satunya sembahan.

Pantaslah jika Allah berfirman dalam surah 41 (Fushilat) ayat 33 seperti ini: “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang-orang yang menyeru sesama manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Dan mengatakan sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang berserah diri……..”

Sudah lebih dari setahun kejadian itu berlalu. Dan saya masih saja memikirkannya. Sampai akhirnya saya ingat nasihat guru kehidupan saya yang mengatakan bahwa cara menyeru kebajikan itu bukan hanya dengan bicara. Melainkan juga dengan perbuatan atau amalan-amalan alias cara-cara kita sendiri menjalani keseharian. Lega rasanya saya mengingat nasihat itu. Karena sekalipun tidak bisa menjadi seperti para ulama dan juru dakwah itu; kita masih bisa ikut andil dalam proses penyebaran nilai-nilai yang disukai Ilahi.

Sahabatku, profesi kita mungkin sama sekali tidak ada kaitannya dengan soal agama. Namun, bekerja itu adalah juga perintah agama. Sehingga setiap perilaku kita di tempat kerja. Setiap tindakan kita di kantor, merupakan seruan tanpa kata. Karena baiknya perilaku kita memberi kesan baik kepada citra perusahaan, atau simbol-simbol dan kelompok yang kita wakili. Oleh karenanya, mari belajar menyeru kepada kebajikan. Melalui perilaku kerja dan sikap positif kita terhadap pekerjaan yang menjadi tanggungjawab yang kita emban. Sehingga hasil kerja kita, layak dihargai. Patut dicontoh. Dan pantas dikategorikan sebagai sebuah seruan kepada kebajikan. Bersedia?

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 23 Mei 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Catatan Kaki:
Selain dengan bicara dalam forum-forum religius, kita juga bisa menjadi penyeru kebajikan dengan memberi contoh yang baik kepada rekan-rekan di lingkungan kerja kita. Dan kita, layak mendapatkan pahala yang tidak kalah mulianya.

Ingin mendapatkan kiriman artikel “S (=Spiritualism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Pesan sponsor: Berikan training yang layak kepada karyawan di perusahaan Anda. Jika Anda temukan training provider yang bagus, silakan panggil yang Anda kenal. Tapi, kenapa cari yang lain lagi? Kan ada saya. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327. Saya punya banyak topik Leadership dan Pengembangan diri yang bisa di tailor-made. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:caricaturlondon.blogspot.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*