Tuesday , June 28 2022
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Personal Development / Aneka Rupa Tangga

Aneka Rupa Tangga


Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Secara harfiah, tangga diartikan sebagai alat untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Misalnya tangga rumah. Tangga bambu. Tangga tali. Tangga kayu. Dan sebagainya. Meskipun bahan dan bentuknya berbeda-beda, tetapi struktur dasardan fungsinya sama, yaitu; memungkinkan seseorang untuk naik ke tingkatan yang lebih tinggi. Di kantor, urusan kenaikan karir pun berkaitan dengan tangga. Itulah sebabnya kenapa jenjang karir itu disebut sebagai career ladder alias tangga karir. Sangat sulit bagi Anda untuk naik kea tap rumah, jika tidak menggunakan tangga bukan? Maka sangat sulit juga bagi Anda untuk sampai di puncak karir, tanpa adanya alat bantu berupa career ladder itu. Pertanyaannya adalah; apakah Anda sudah mempunya tangga yang tepat untuk menapaki jenjang karir Anda?

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Baru-baru ini saya ada meeting dengan klien untuk urusan training. Karena klien saya ini agak spesifik, maka kami memandang perlu untuk duduk bersama membahas detailnya. Lokasi meetingnya di Cikarang. Mulai jam 2 siang, sampai jam 4 sore. Setelah selesai meeting itu, saya langsung melaju kembali kearah Jakarta. Anda yang sering melintasi jalan tol itu tentu paham jika sepanjang beton pembatas yang memisahkan kedua arus berlawanan di jalur toll itu sangat gersang sekali. Hanya ada beberapa pohon perdu kecil yang tampaknya kurang terawat. Tidak terlalu jelas antara tumbuh subur ataukah merana.

Yaa seperti karir kitalah. Nggak begitu jelas. Kemana sih arah karir ini? Buat kebanyakan karyawan sih, karir kan tidak lebih dari sekedar sandaran untuk mendapatkan penghidupan. Cari makan, begitulah bahasa lugasnya. Nggak lebih dari itu. Pokoknya, bisa dapat sejumlah uang untuk menutupi kebutuhan hidup selama sebulan. Karena kantor swasta menganut prinsip „kerja dulu baru gajian?, maka kita nunggu tanggal 25 setiap bulan untuk bisa menutupi kebutuhan selama sebulan itu. Makanya, begitu terima gaji tanggal 25 pagi, langsung ditransfer kesana-sini pada sore harinya. Setelah itu, ya mesti sabar sampai gajian lagi di tanggal 25 berikutnya. Begitulah kita menjalani rutinitas. Tanpa tahu, akan bagaimanakah masa depan karir ini.

Seperti pohon-pohon perdu di sepanjang jalan tol itu sih. Cuman bisa termangu disitu. Tanpa bisa bergerak kemana-mana. Sepanjang hari terhempas angin dari hembusan mobil-mobil yang pada ngebut. Terpapar terik matahari. Terkontaminasi polusi. Tanpa bisa beranjak pergi. Perhatikan saja; bukankah nasib kebanyakan karyawan sama merananya seperti itu. Sudah sepuluh tahun bekerja disitu-situ aja. Belasan tahun. Bahkan banyak yang sudah lebih dari seperempat abad. Mengerjakan tugas yang itu-itu saja. Setiap hari, kembali berkutat dengan yang itu, dan itu lagi. Bias antara hepi dan keki. Campur aduk antara bahagia dan merana.

“Kenapa karir gue tidak kunjung membaik?” Begitulah pertanyaan yang sering mengusiknya setiap kali merasa lelah atau jengah. “Karena gue jujur,” ada yang bilang begitu. Padahal, kejujuran justru menjadi faktor penunjang karir seseorang. “Karena gue bukan penjilat,” ada juga yang bilang demikian. Padahal, tidak semua orang yang sukses dalam karirnya diraih karena menjilat. “Karena gue nggak dekat dengan pengambil keputusan.” Dan ada seribu sembilan ratus tujuh puluh enam jawaban lainnya dalam benak kita. Intinya; karir kita tidak kunjung membaik karena tidak ada „tangga? yang bisa membantu kita menapak ke jenjang yang lebih tinggi. Maka, jadilah kita seperti pohon perdu disepanjang jalan tol itu. Antara ada dan tiada, nggak jelas bedanya.

Jalanan agak macet, sehingga saya mempunyai kesempatan untuk melihat-lihat. Tepat di antara kilometer 14.00 dan 14.200, saya melihat sebuah pemandangan yang menarik. Di sela-sela beton pembatas itu ada semacam pohon merambat. Yang membuatnya menarik adalah; pohon itu tidak merambat di beton-beton itu. Melainkan naik hingga hampir menyentuh kabel listrik yang tingginya saya perkirakan sekitar 4 atau 5 meter diatasnya. Batin saya tertegun. Bagaimana pohon itu bisa merambat naik? Padahal, saya sama sekali tidak melihat ada alat bantu apapun yang memungkinkan sulur-sulur pohonnya naik. Kalau ada tiang listrik, atau bambu atau apalah yang bisa menyangganya kan wajar. Tapi ini? Sama sekali nggak ada alat bantu. Magic? Mungkin.

Di banyak kantor, saya sering melihat „orang-orang yang sangat biasa?. Sekolahnya tidak tinggi. Awal karirnya, dimulai dari tingkatan yang paling rendah. Tapi, banyak diantara mereka yang bisa menapak hingga ke puncak. Ada yang dari office boy menjadi direktur. Ada yang dari salesman, menjadi Country Manager. Dan ada juga yang dari penjaga gudang, menjadi CEO perusahaan besar. Kalau orang yang sekolahnya tinggi, wajar kan? Kalau orang yang memulainya dari pekerjaan awal yang keren, masuk akal. Tapi ini? Sama sekali tidak ada pijakan yang kuat untuk menjadikan mereka orang sukses. Magic? Mungkin.

Meski perlahan, tapi kendaraan kami berjalan; sekalipun mesti sering injak pedal rem. Tapi justru keadaan itu membuat saya lebih leluasa memperhatikan. Sekarang, kendaraan saya merayap tepat disamping pohon merambat itu. Dan saya mempunyai pemandangan yang sempurna untuk melihat apa yang sesungguhnya tengah terjadi. Subhanallah. Pohon merambat itu ternyata melilit di sebuah benang layang-layang yang putus. Kerangka sisa layang-layang itu tersangkut di kabel listrik diatasnya. Sehingga benangnya menjuntai hingga menyentuh beton pembatas jalan. Masya Allah. Itu pohon merambat yang lemah dan tidak berbatang, melilitkan sulur-sulurnya. Kemudian berpegangan erat di benanya layang-layang itu.

Saya menyaksikan sendiri. Bagaimana orang-orang yang memulai karir dari bawah itu berpegang teguh kepada tekadnya yang kuat dan bulat. Untuk bisa sampai ke tingkatan yang lebih tinggi. Persis seperti sulur pohon merambat itu. Mereka sadar jika tidak ada tangga yang bisa jadi pijakan untuk naik. Maka mereka dengan sepenuh kesadaran mendaya gunakan apa saja yang ada disekitarnya untuk terus bertumbuh kembang. Pohon merambat itu, punya benang layang-layang. Sedangkan office boy itu, punya waktu luang untuk mempelajari banyak hal yang orang-orang keren di kantro itu bahkan tidak mau mencobanya sama sekali. Pohon merambat itu sadar, jika dirinya tidak punya batang yang kokoh untuk tumbuh. Penjaga gudang itu juga sadar, jika dirinya tidak mempunyai modal tampang, apalagi ijazah untuk dipertarungkan. Tapi keduanya – pohon merambat dan orang biasa itu – punya kemauan dan kegigihan yang tidak dimiliki oleh pohon lain dan karyawan lain dikantornya.

Saya bisa membayangkan di hari pertama sulur-sulur pohon itu bersentuhan dengan benar layang-layang itu. Pasti tidak mudah. Karena selain sangat kecil, juga tidak mau diam karena tertiup angin imbas dari mobil-mobil yang melintas. Saya juga bisa membayangkan di hari pertama pegawai-pegawai rendah itu memulai pekerjaannya. Pasti tidak gampang. Karena tugas yang harus dikerjakannya biasanya nggak menggugah selera. Mengerjakan hal-hal yang orang lain ogah melakukannya. Mengepel lantai. Mengangkut kardus. Mencuci piring dan gelas. Membersihkan toilet. Hiiiy….deh pokoknya.

Saya membayangkan. Setiap hari, pohon merambat itu tumbuh beberapa mili. Seperti Natin si office boy itu yang setiap hari, belajar hal-hal baru. Sehari satu mili atau satu senti sulur pohon itu bertambah tinggi. Dan sehari, satu ilmu didapatkan office boy itu. Sebulan kemudian, sulur pohon merambat itu sudah naik setengah meter lebih tinggi. Dalam tiga bulan, sulurnya sudah lebih tinggi dari pohon-pohon perdu yang memiliki batang kokoh itu. Seperti office boy itu. Perlahan tapi pasti, ilmunya bertambah. Pengetahuannya meningkat. Dan keterampilannya semakin canggih. Tiga tahun kemudian, dia bisa lebih baik daripada karyawan lain yang berpenampilan keren-keren itu.

Novel Remaja ”DING and HER GOKIL PAPA! ” Sudah terbit. Cocok Untuk Remaja di Rumah Anda. Bisa Anda beli disini.

Ketika saya melintas di kilometer 14.100 tol dari Cikarang menuju ke Cawang itu. Saya mendapati jika sulur pohon merambat itu sudah hampir menyentuh kabel listrik yang sangat tinggi posisinya. Ketika saya bertemu lagi dengan office boy itu beberapa belas tahun kemudian. Saya mendapati dirinya sudah boleh duduk di sebuah ruangan yang ditempatkan di pojokan. Lokasi pavorit setiap gedung perkantoran. Dengan kursi kulit yang bisa diatur posisinya. Dengan pemandangan seantero kota yang terpampang di dinding kaca yang menghiasinya. Seperti pohon merambat itu. Sekarang pegawai rendahan itu sudah berada di posisi yang lebih tinggi dari yang lainnya.

Arus lalu lintas mulai melonggar. Pedal gas sudah bisa diinjak. Namun sebelum itu. Saya melirik kearah pohon merambat itu. Mengangguk penuh hormat, sambil mengucapkan terimakasih kepadanya atas pelajaran hari ini. Sebuah pelajaran langit yang disampaikannya dengan bersahaja. Lalu saya melirik kearah pohon perdu itu. Tampaknya, dia masih bertanya-tanya; “Dimanakah tangga buat gua naik keatas?” Duhai pohon perdu. Kamu punya batang yang kuat. Maka tumbuhlah dengan batangmu. Karena batangmu adalah tanggamu. Wahai pohon perdu. Contohkan kami, bahwa degan memberdayakan dirimu; engkau akan menemukan tanggamu sendiri. Untuk tumbuh dan menapak lebih tinggi. Percayalah wahai perdu. Tuhan sudah menyediakan untukmu; aneka rupa tangga.

NB: Sudahkah anak remaja dan keponakan Anda membaca novel “DING and HER GOKIL PAPA!”? Mereka juga membutuhkan inspirasi kan? Hubungi kami.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 16 Juli 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Catatan Kaki:
Begitu banyak orang yang karirnya tidak berkembang. Dan mereka menemukan bahwa biang keladi penyebab kerdilnya karir itu adalah; tidak ada tangga yang tersedia untuk dirinya menanjak naik.

Ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Pesan sponsor: Berikan training yang layak kepada karyawan di perusahaan Anda. Jika Anda temukan training provider yang bagus, silakan panggil yang Anda kenal. Tapi, kenapa cari yang lain lagi? Kan ada saya. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327. Saya punya banyak topik Leadership dan Pengembangan diri yang bisa di tailor-made. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.