Tuesday , June 28 2022
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Spiritualism / Mengejar Jabatan Basah

Mengejar Jabatan Basah

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Jabatan basah. Tidak begitu jelas, mengapa disebut begitu. Yang jelas, orang berebutan untuk mendapatkan jabatan basah. Keliru, jika mengira jabatan basah itu dimonopoli oleh lembaga pemerintah. Di perusahaan swasta pun berserakan jabatan basah. Perebutan terhadap jabatan basah, sama serunya di sektor swasta dan pemerintah. Orang pada berebut karena katanya; duwitnya melimpah ruah. Tidak logis kan? Meskipun setiap fungsi dan posisi ada ‘harganya’ sendiri-sendiri; tetapi bedanya paling ya segitu-gitu aja. Nggak mungkin jomplang. Tapi nyatanya banyak pemegang jabatan basah yang kaya raya katanya. Yang tidak kaya, kelaut aja. Jika mendapatkan jabatan basah; apakah Anda sanggup menahan godaannya?

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Sore itu selepas sholat Ashar. Saya tergoda untuk duduk diselasar. Angin sepoi membeli membuat tubuh terasa segar. Sejuuuk sekali rasanya. Bukan hanya angin yang memanjakan badan. Tapi, mata ini juga dimanjakan oleh pemandangan yang indah. Memasuki musim hujan, rumput-rumpuh tumbuh menghijau. Dedaunan seperti sedang bersuka cita. Saya jadi teringat masa kecil. Ketika menggembalakan domba. Rumput hijau seperti itulah kesukaannya. Padahal hujan baru turun seminggu. Lahan luas dan lapangan yang gersang, kini kembali menghijau indah dipandang. Suhanallah. Betapa mudahnya Allah menumbuh suburkan bumi. DiturunkanNya hujan. Lalu menjadi basahlah bumi.

Tanah yang basah, menjadi subur. Ditanah subur itu tumbuhlah benih beragam tanaman. Tanaman itu membuat bumi terlihat indah, dengan hasil panennya yang melimpah ruah. Tanah yang basah. Mudah memahaminya. Tapi, jabatan yang basah? Darimana asal datangnya sebutan itu. Apakah orang menyandarkan sebutan itu kepada tanda-tanda kekuasaan Allah yang diperlihatkannya melalui tanah basah stelah disiram hujan penuh berkah? Au ah…..

Kira-kira 1 kilometer dari rumah kami, ada kampung yang setiap tahun selalu menjadi langganan banjir. Setiap kali musim hujan tiba, sudah hampir bisa dipastikan jika perkampungan itu kebanjiran. Ketika orang-orang dikampung kami bersuka cita menikmati turunnya hujan, tetangga dikampung itu justru pada belingsatan. Hidupnya tidak tenteram. Padahal, air yang turun dari langit adalah air yang sama dengan yang kami terima. Kejadian itu membuat saya paham, bahwa kita; membutuhkan air secukupnya saja. Bukan yang melimpah ruah seperti itu.

Sekarang, saya sedang belajar untuk memahami bahwa; kita membutuhkan uang secukupnya saja. Bukan yang melimpah ruah. Mengapa? Karena uang yang melimpah ruah belum tentu membawa berkah. Malah. Banyak contoh orang yang celaka karena keberlimpahan. Bukan keberlimpahannya yang membahayakan. Namun kesiapan mentalnya yang tidak sanggup mengimbangi keberlimpahan yang Tuhan berikan. Lihat saja bagaimana orang berubah sikapnya sejak menjadi kaya raya. Padahal sebelum kaya dulu, sikapnya sedemikian tawadlu. Banyak kan yang begitu? Uang berlimpah, tak ubahnya laksana air bah.

Kenapa tetangga kampung yang jaraknya hanya 1 kilo itu kok kebanjiran? Karena rumah mereka berada sangat dekat sekali dengan sungai Cisangkuy. Meskipun sudah diperingatkan. Dan dihimbau untuk pindah ke tempat yang lebih aman. Iiiih, tetap saja mereka bertahan. Mereka lebih suka dekat ke sungai katanya. Persis seperti kita yang sekarang pada rebutan jabatan yang basah. Meski sudah diperingatkan; hati-hati dengan jabatan itu, iiih tetep saja kita berjibaku saling berebutan. Kami yang mundur menjauh dari sungai tidak tersentuh oleh bujuk rayu air bah. Orang-orang yang jauh dari jabatan basah, tidak ternoda oleh godaan yang beraneka ragam.

Memangnya kalau diberi amanah menduduki jabatan basah mesti ditolak? Ooh, tidak. Jika diberi amanah ya terima saja. Toh bukan kita yang mengejar-ngejarnya kan? Boleh kok memegang jabatan basah. Lagipula, ada juga kok orang yang menduduki jabatan basah namun hidupnya lurus-lurus saja. Meskipun godaan datang bertubi-tubi dan silih berganti, tapi tetap saja dia istikomah. Sama seperti teman sekolah saya yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter saja dipinggir sungai itu. Bukan dia yang memilih, karena memang disanalah orang tuanya tinggal. Tapi, dia tidak pernah kebanjiran. Kenapa tidak kebanjiran seperti tetangganya yang tinggal dipinggir sungai yang sama?

Karena rumahnya terletak didataran yang lebih tinggi. Jadi, meski sungai itu meluap, airnya tidak sanggup menyentuh ketinggian tebing rumahnya. Jika tinggal dipinggir sungai, pastikan rumah Anda terletak didataran yang cukup tinggi. Jika tidak, maka rumah Anda akan tengggelam ditelah air bah. Jika menduduki jabatan yang basah, pastikan derajat keimanan Anda cukup tinggi. Jika tidak, maka harga diri Anda akan dengan mudah terbeli oleh godaan-godaan yang datang silih berganti.

Rumah orang tua saya tidak kebanjiran karena letaknya jauh dari sungai. Meski air kami tidak sebanyak para penduduk pinggir sungai, tapi kebutuhan air kami selalu tercukupi. Sama seperti orang-orang yang jauh dari jabatan basah. Meskipun jumlah uangnya tidak sebanyak para pemegang jabatan itu, tetapi rezekinya tercukupkan dengan nafkah yang berkah. Tidak kebeli rumah megah, tapi masih bisa tinggal di pondokan sakinah. Tidak sanggup membeli mobil mewah, tapi masih bisa pergi kesana sini dengan wajah sumeringah.

Novel Remaja ”DING and HER GOKIL PAPA! ” Sudah terbit. Cocok Untuk Remaja di Rumah Anda. Bisa Anda beli disini.

Boleh mendirikan rumah dipinggir sungai. Asal letaknya cukup tinggi untuk menghindari banjir. Boleh mengejar jabatan basah. Asal kualitas iman cukup tinggi untuk menghindari tergadainya harga diri. Jika diri kita sudah digadaikan, berarti tidak lagi sepenuhnya menjadi miliki kita kan? Setengahnya milik mereka yang telah membayarnya. Apalagi seandainya diri kita sudah bisa dibeli oleh para pemilik modal. Oh, masihkah tersisa yang kita miliki dari diri ini? Padahal, dalam surah 59 (Al-Hasyr) ayat 18 Allah sudah memperingatkan : “…hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok….”

Bagaimana kita bisa membawa pulang diri ini kepada Allah, jika kita sudah menggadaikannya kepada orang lain? Apalagi jika mengingat kalimah Allah diakhir ayat itu. “Sungguh,” demikian lanjutNya. “Allah Maha teliliti terhdap apa yang kamu kerjakan.” Jadi, bolehkah memegang jabatan yang basah? Boleh. Asal sanggup untuk menjaga amanah. Karena amanah itu akan kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah. Jika kita takut kepada Allah, pasti kita sanggup menjaga amanah. Tapi jika tidak mau menjaga amanah, maka itu artinya kita menantang Allah. Na’udzubillah.

Akhir tahun kantor Anda mengadakan annual business meeting ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA berbicara di forum itu? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 22 November 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Catatan Kaki:
Berhentilah mengejar jabatan basah, jika tujuannya untuk mengeruk harta melimpah ruah. Tapi bolehlah mengejar jabatan yang basah. Jika diniatkan untuk ibadah. Dan sanggup mempertanggungjawabkan amanah itu dihadapan Allah.

Ingin mendapatkan kiriman artikel “S (=Spiritualism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Pesan sponsor: Berikan training yang layak kepada karyawan di perusahaan Anda. Jika Anda temukan training provider yang bagus, silakan panggil yang Anda kenal. Tapi, kenapa cari yang lain lagi? Kan ada saya. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327. Saya punya banyak topik Leadership dan Pengembangan diri yang bisa di tailor-made. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:ainicahayamata.wordpress.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.