Wednesday , February 28 2024
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Cerita Pendek / Kambingan Mbah Nur

Kambingan Mbah Nur

“Alhamdulillah, anak saya diterima di fakultas kedokteran,” katanya. Tentu saja teman-teman panitia ikut senang mendengar kabar itu. Sahut-sahutan memberi ucapan selamat sebagai tanda empati bagi seorang ayah yang bangga anaknya diterima di perguruan tinggi negeri. Fakultas kedokteran pula. Selain anaknya tentu pintar, orang tuanya juga punya dana besar buat bayar-bayar. “Tapi itulah bapak-bapak, biayanya yang harus dikeluarkan tidak sedikit,” terangnya. “Belum lagi anak kami yang nomor dua mau masuk SMA. Jadi tahun ini terpaksa kami tidak ikut kurban dulu…” tambahnya.

Saat itu, tepat pada Iedul Adha tahun sebelumnya. Tahun lalu. Kami sibuk mengurus hewan kurban, membersihkan, lalu menimbang kemudian meletakkannya dalam besek-besek daun pisang untuk nantinya dibagikan. Sejak diberlakukan sistem kupon proses pembagian daging kurban jadi lebih gampang. Tak perlu lagi panitia mendatangi satu demi satu rumah penerima seperti dulu. “Permisi…, antaran daging kurban dari Pak Fulan.”

Jika kantor Anda ingin melakukan training bertema Leadership, Change Management & Organisation Transformation, dan People Development, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Kalau hewan kurbannya cuman dua. Atau tiga. Atau empat. Masih bisalah dengan cara itu. Tapi kalau sudah 10 ekor sapi dan 34 kambing, mana bisalah kita begitu-begitu lagi. Seingat kami, sejak 5 tahun terakhir di masjid kami tidak pernah kurang dari sejumlah itu. Makanya kita butuh banyak orang untuk mengurusnya agar bisa selesai pas masuk beduk dzuhur. Pembagian daging dilakukan setelah sholat ashar sampai menjelang magrib. Biasanya habis sholat dhuhur kami istirahat, makan nasi bungkus yang sudah ada gulai kambingnya juga. Sebagian bapak-bapak ada yang pulang ke rumah. Katanya mau mandi biar segar.

“Weeeh… mentang-mentang penganten baru. Pen pulang ke rumah aja bawaannya….” Candaan seperti ini dan yang mirip dengan ini sudah seperti sisipan standar dalam obrolan kami. Apalagi kalau yang bilang ‘mau mandi dulu’ itu punya istri muda. Beuh…, bakal ramailah dalam gelak tawa. Yang lain juga bukannya tidak kepengen. Tapi, itulah nasib bapak-bapak kalau istri pegang kendali. Sekedar bercandaan saja tidak berani didepan istri. Sampai-sampai, mesti pakai kode khusus segala. Istri muda kodenya ‘Kamar #2’ sedangkan istri tua kodenya ‘Ibu Polda’. Polisi dapur. Yang paling nyaring bicara soal kamar #2 itu pun hanya gagah berani dalam kumpul-kumpul seperti itu saja. Realisasinya, nol besar. Kalau didepan Ibu Polda, langsung meleyot kayak kerupuk kesiram air. Tapi kan lumayan juga ya, ada sedikit hiburan walau hanya berupa hayalan sebatas kehaluan.

“Assalaamualaikum…assalamualaikum,” terdengar suara dari luar. “Wa-alaikumussalaam,” kami serempak menjawab sambil menoleh kearahnya. Seorang nenek tua berdiri disisi luar pagar masjid. Tubuh rentanya melengkung hampir seperti sedang rukuk. Tangannya yang kurus terbalut kulit keriput berwarna semu hitam agak legam, menopang badannya sembari berpegangan ke tiang pagar. Punggung bungkuknya menyembul tertutup sehelai kain usang bermotif batik yang entah apa warna aslinya kecuali sekedar kelihatan belel pudarnya.

“Kurban, kurban!” teriaknya. Oalah ini nenek minta daging kurban kok keawalannya kebangetan. “Kurbannya masih minggu depan nek,” teriak seorang panitia. “Nanti minggu depan nenek datang lagi ya,” sambungnya. Nenek itu tidak bergeming. “Kurban, kurban!” katanya dengan gigihnya.

Mesti tahan sabar kalau berurusan dengan kaum papa seperti nenek tua itu. Masih mendinglah, ini sudah sepuh sekali. Kadang-kadang ada saja warga yang masih muda-muda juga datang seperti itu. Padahal kupon kurban sudah dititipkan kepada RT dan RW masing-masing. Sebagian dikirimkan juga ke masjid lain karena daging kurban kami teramatlah banyaknya. “Kurban, kurban!” kata nenek itu lagi. Kerasnya kehidupan membatukan tekadnya.

“Nenek dari RT berapa?” teriak panitia.
“RT02,” jawabnya. Dia beringsut membenahi kain batik kumal yang menutupi gundukan punggungnya yang melengkung akibat tulang-tulang yang mengalami pengapuran.

“Kuponnya sudah dititipkan kepada ketua RT02 ya nek. Nenek tinggal datang saja ke pak RT nanti disana dikasih kupon. Terus minggu depan pas hari lebaran nenek bawa kuponnya kesini buat ngambil daging….” Panitia menjelaskan. Rapat pun kami lanjutkan.

Selain warga komplek jamaah masjid, setiap tahun kami kedatangan volunteer dari warga sekitar. Mereka berharap dipekerjakan selama prosesi pengurusan hewan kurban itu. “Biar jadi ladang ibadah,” kata mereka. Ya begitulah yang biasa kita dengar setiap kali ada warga yang datang menyediakan diri. Tapi, ada kemungkinan amplop berisi 25 ribu ditambah bingkisan berupa besek extra daging kurban yang jadi alasan sesungguhnya. Bisa jadi itulah yang membuat warga berdatangan nyaris tiada henti sejak seminggu sebelum hari H untuk jadi volunteer. Meskipun begitu, kami tidak perlu menerka-nerka apa sesungguhnya niat mereka. Yang perlu kami pikirkan adalah bagaimana cara menolak mereka yang berduyun-duyun itu karena tidak mungkin mempekerjakan semuanya. Teorinya sih gampang. Tapi, tidak sedikit warga yang tidak mau mengerti ketika kami mengatakan pendaftaran sudah ditutup. Tak sedikit juga yang menuduh kami diskriminatif kala mengetahui tetangga sebelahnya dikasih kerja sedangkan dirinya tidak. “Orang mau ibadah kok dihalangi segala…,” gerutunya.

Seandainya ada apps yang bisa mendeteksi niat orang, mungkin seru juga ya. Panitia kurban bisa menyeleksi calon volunteer dengan apps itu. Apa sih sebenarnya motivasi mereka mendaftar jadi volunteer itu? Benarkah niatnya ibadah? Atau amplop yang 25 ribu itu? Kalau dipikir-pikir, pekerjaan mengurus hewan kurban itu berat juga loh. Apalagi bapak-bapak kompleks yang biasa dasian dan parfuman. Puyeng banget saat mencium bau telur sapi dan aroma domba. Belum lagi kalau kena tugas mengurusi jeroan. Pas buka isi perut dan membelek usus itu… hadeuuuh… bisa bikin pingsan orang-orang yang di rumahnya biasa memakai pewangi ruangan. Kalau nggak benar-benar ingin partisipasi, mereka mending menolak saja ajakan ketua DKM untuk menjadi panitia kurban.

Tapi. Bagi warga sekitar, hari raya kurban sepertinya menjadi saat yang paling di tunggu-tunggu dari tahun ke tahun. Antusiasme mereka melebihi warga komplek sendiri. Bila tidak diterima kerja di masjid kami, mereka mendatangi masjid-masjid komplek lainnya. Luar biasa keinginan mereka untuk mengurbankan tenaga. Meski pikirannya digiuri oleh amplop 25 ribu plus bingkisan daging extra itu, tetap saja tekadnya pantas diapresiasi.

Walau begitu, belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Panitia mesti memberdayakan remaja masjid untuk mengawasi secara ketat selama mereka bekerja. Maklumlah. Iblis tak pernah lelah menggoda. Ada saja orang yang kepergok menyelipkan bagian hewan kurban ke tas pinggang atau kresek hitam yang ditentengnya. Khususnya di bagian yang bertugas memotong daging. Jangan heran kalau ada jantung sapi yang tiba-tiba raib menggoib. Atau, sebongkah daging lemuru lenyap. Ketahuannya ketika jumlah timbangan tidak sesuai dengan perkiraan awal. Melesetnya terlalu jauh. Akhirnya kedapatanlah, ternyata para tukang cincang bayaran itu ada yang bertangan panjang. Bahkan pernah suatu kali kami mendapati segelondong utuh babat sapi nyelip di sela-sela pagar tertutupi rimbunan daun beluntas. Belajar dari pengalaman itu, kami tidak mau kecolongan lagi. Team pengawas yang terdiri dari remaja masjid, siap bertugas. Kalau torpedo kambing sih aman. Soalnya, ada team khusus yang secara refleks memotong dan mengumpulkan torpedo sejak karkas kambing-kambing itu masih digantung. Maklum. Itu aset penting.

Disela-sela rapat panitia kurban itu selalu ada canda. Dan hampir bisa dipastikan kalau ada saja pembahasan tentang kamar nomor 2. Entah kenapa, wacana tentang itu selalu muncul begitu saja. Semacam otomatis terlontar dari mulut bapak-bapak. Makanya dalam setiap rapat panitia, selalu meledak gelak tawa. Tapi tentu saja rapatnya sendiri sangat serius mengingat ini berkaitan dengan amanah dari para jamaah yang hendak berkurban. Ketua seksi bagian pendaftaran melaporkan bahwa sementara ini sudah ada 11 sapi dan 27 ekor kambing atau domba. Memang orang yang berkurban itu unik. Ada yang sukanya kambing, ada juga yang fanatik dengan domba. Katanya, daging domba lebih enak dari kambing. Terutama, urusan ‘torpedonya’, orang bilang; domba lebih jos efek malam harinya dibanding kambing. Dugaan sementara, itu hanya klaim sepihak dari bapak-bapak saja. Karena belum ada petugas khusus yang mengkonfirmasi kebenarannya kepada pihak ibu-ibu.

“Berarti ada kenaikan 10% kurban sapi dari tahun kemarin ya,” Kata prof, kependekan dari ‘profesor’. Teman-teman menyebutnya profesor bukan karena dia guru besar. Tapi karena rambut dikepalanya tinggal bersisa di bagian belakang dan pinggirannya saja. Untungnya dia tidak keberatan dengan sebutan itu. “Tapi jumlah kambing dan dombanya ada penurunan sekitar 20%,” katanya. Memang dia memiliki kemampuan analisis yang mendetail. Sungguh tidak sia-sia teman-temannya menyebutnya profesor. Semacam gelar honoris causa, begitulah kira-kira. Tapi ini masih 5 hari lagi sebelum hari H. Biasanya, ada saja orang yang menitipkan hewan kurban sampai mepet hari terakhir. Jadi masih ada harapan bertambah lagi.

“Kalau semua warga komplek pada berkurban, bisa dibayangkan berapa banyak hewan kurban kita ini,” kata Jack. Adapun nama asli Jack ini, selain Pak RT tentunya, hanya sedikit saja orang yang tahu. Orang tahunya ya Jack itu. “Bisa-bisa 200 sapi 500 kambing kurban kita,” tambahnya. Sebetulnya Jack bukan warga sesungguhnya. Di komplek kami dia hanya menunggui rumah salah seorang warga yang sering ditinggal pemiliknya. Anggota dewan dari partai yang terkenal royal bagi-bagi bingkisan setiap kali menjelang pemilu. Menurut cerita orang, bung anggota dewan itu punya banyak rumah dimana-mana. Dan kabarnya, punya banyak istri pula. Kata orang, kadang-kadang dia datang ke rumah yang dikomplek ini dengan istri yang berganti-ganti. Warga tahunya itu istri lainnya atau istri lainnya atau istri lainnya lagi. Jack sendiri tak tahu pasti seberapa sering bossnya gonta-ganti istri. Tapi ya karena Jack supel dalam bergaul jadinya tidak sungkan menjadi bagian dari kami.

“Kalau mengharapkan semua rumah pada kurban ya mustahil toh mas Jack,” kata pak ketua panitia. “Dengan yang ada saja sudah bersyukur sekali kita. Dagingnya masih bisa kita bagikan ke masjid-masjid lain yang kurbannya sedikit. Selama ini kita sering kelebihan kan ya.”

“Lha wajar saja kalau masjid sebelah sedikit yang kurban toh pak ketua,” bantah Jack. “Kan kita tahu kondisi ekonomi mereka seperti apa. Yang aneh itu ya warga kita ini loh pak ketua. Rumah pada megah kok kurban ogah. Bagaimana toh begini, kok mereka pada begitu?” Gayanya Jack kayak yang punya rumah di komplek saja.

“Yaaa barangkali setiap orang punya kebutuhan mendesak yang lebih urgen mas Jack. Kita husnudzhan saja….” Timpal pak ketua mengomentari begini begitunya Jack.

“Iya itu benar juga Pek Ket. Tapi masak sih sama sekali nggak mampu beli kambing seekor. Kalau nggak bisa yang super kan yang kecilan dikit juga nggak apa-apa iya toh? Kalau nggak mampu 1 kambing ya urunan sapi 7 orang kan ada yang jatuhnya lebih murah gitu loh pak. Masak mobilnya bagus-bagus begitu kok nggak sanggup kurban begini. Coba lihat mana rumah disini yang nggak ada mobilnya? Mustahil punya mobil bagus-bagus begitu kalau nggak punya duwit buat kurban begini kan pak ya?” cerocos Jack. “Dasar pecicilan!”

“Pecicilan bagaimana mas?” telisik pak ketua.

“Pecicilan pak ketu. Alias ‘penggemar cicilan’” Jawab Jack sambil cengengesan. “Kita ini kan hidup di era cicilan. Penghasilan besar, tapi ya langsung ditransfer buat cicil ini dan cicil itu. Parrah deh. ”

Teman-temannya pada terdiam. Seseorang sejak tadi berdehem-dehem. Menatap mata Jack. Lalu mengerdipkan matanya sambil menggoyang-goyangkan kepalanya ke arah orang yang duduk disebelah kanan. Awalnya Jack tidak paham. Tapi ketika yang menatap tadi memperagakan gerakan gaya anak SMA yang berubah menjadi mahasiswa kemudian berlaga memainkan stetoskop seperti dokter yang sedang memeriksa pasien, barulah dia paham. Maksudnya jangan ngungkit-ungkit soal itu. Kan tadi sebelum rapat dimulai salah seorang dari jamaah yang juga panitia kurban mengatakan kalau tahun ini tidak bisa kurban karena banyak kebutuhan. Maklum, anaknya baru diterima masuk kuliah. Ke fakultas kedokteran yang terkenal biayanya besar itu.

“Intinya, kita tidak mengetahui kondisi apa yang sedang dihadapi oleh warga mas Jack. Jadi tidak boleh apa itu namanya…. “ pak ketua berusaha menetralisir keadaan. Tapi karena kikuk ya jadinya perkataannya tidak begitu lancar.

“Kurban, kurban!” Oalah nenek tua itu rupanya masih berdiri ditempat yang tadi. Beberapa panitia berebut berdiri seolah-olah mau meladeni nenek bungkuk yang kumal itu. Padahal, semua orang juga tahu kalau omongan Jack terasa nyelekit di hati. Maklum, diantara panitia itu juga ada beberapa yang tidak bisa kurban tahun ini. Walaupun ada benarnya, tapi perkataan si Jack itu agak keterlaluan. Tahu apa dia soal kondisi keuangan orang komplek?

“Kurban atas nama Mbah Nur!” kata nenek tua itu. Mau atas nama Mbah Nur kek, atau atas nama siapapun juga ya nggak bisa dilayani dong. Kan belum waktunya kurban. Lagian juga belum tentu ada hewan kurban atas nama siapa itu, Mbah Nur.

Ayah sang calon dokter bergegas menemui nenek tua itu. Daripada mendengar ocehan si Jack, mungkin begitu pikirannya. Jaraknya kira-kira lima belas meteran sehingga orang-orang tidak bisa mendengar percakapan mereka. Seharusnya sih tidak terlalu lama. Tinggal dijelaskan saja kapan jadwal pembagian dagingnya. Kalau sudah mengerti, nenek itu pasti pergi juga.

Tapi ndilalah kok ayah calon dokter itu malah membawa si nenek kumel masuk ke beranda masjid. Ini gimana toh? Bisa repot panitia kalau semua orang yang minta daging kurban dilayani satu persatu kayak gitu. Bukannya pelit. Ini belum waktunya. Masih seminggu lagi gini kok sudah nyelonong saja.

“Ini Mbah sudah bawa kambingannya,” kata nenek tua itu sesampainya di selasar masjid. Kambingan? Apa lagi itu? Mau daging kambing? Boleh, tapi nanti kalau sudah waktunya. Nenek tua itu melepaskan kain batik lusuh yang melilit punggung bungkuknya. Dari balik kain itu menyembul bungkusan semacam sarung bantal kumal yang kedua ujungnya diikat dengan tambalan dan jahitan. Seluruh permukaannya penuh dengan gambar pulau-pulau berupa noda kecoklatan.

“Ini kambingan Mbah Nur,” katanya sambil menyodorkan gembolan. Belum juga ada yang paham apa maksudnya. “Mudah-mudahan cukup buat mbah kurban tahun ini,” lanjutnya. Semua panitia terperanjat. Rupanya nenek tua yang menyebut dirinya sebagai Mbah Nur ini mau ikut daftar berkurban. Dari tadi dia bilang “Kurban, atas nama Mbah Nur,” kok nggak ada yang mengerti maksudnya. Bagaimanalah ini. “Mbah Nur nabung di kambingan ini setiap hari sepuluh ribu…” katanya. Semua masih terpana. Sampai tidak sensitif lagi kalau Mbah Nur kepanasan, kelelahan, dan kehausan.

“Oalah itu namanya celengan, mbah…” kata marbot membuyarkan keterpanaan. “Kambingan Mas,” sanggahnya. “Ini halal, hasil jerih payah Mbah Nur ngumpulin sedikit-sedikit. Ini halal. Kambingan.” Tambahnya.
“Iya Mbah, itu kambingan. Halal.” Marbot mengalah. “Ini Mbah minum dulu,” sambungnya. Setelah menghela nafas sejenak Mbah Nur menerangkan niatnya untuk berkurban. Katanya sekalian minta tolong dihitungkan uang yang telah susah payah dikumpulkannya dalam cele mmmh…kambingan itu.

Rapat panitia kurban serta merta berhenti. Semuanya serentak menghitung uang yang terkumpul dalam sarung bantal kumal Mbah Nur. Seusai selesai menghitung termasuk lembaran kucel seribuan dan koin seratusan, totalnya ada 3.650.000. “Semuanya ada tiga juta enam ratus lima puluh ribu rupiah Mbah,” kata pak ketua setelah mendata hasil perhitungan setiap orang.

“Tiga juta…?” Nunut Mbah Nur….
“Enam ratus lima puluh ribu,” sambung pak ketua.
“Enam ratus lima puluh ribu,” Mbah Nur nunut lagi.
“Rupiah.”
“Rupiah. Ooo tiga juta enam ratus lima puluh ribu rupiah ya dapatnya…” seru Mbah Nur dengan raut wajah yang senang. “Apa cukup untuk kurban atas nama Mbah Nur?” ada keraguan di keriput yang menyelaputi wajah rentanya.

“Oooo cukup Mbah,” kata pak ketua. “Ada lebihnya, malah.”
“O ada lebihnya,” jawab Mbak Nur lembut bersemu getar-getar halus suaranya. Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Tahun ini Mbah Nur boleh kurban…” desahnya.

“Kambing atau domba yang tipe C harganya 3.500.000, Mbah.” kata pak ketua. “Jadi masih sisa 150 ribu lagi buat Mbah…”

“Masukkan saja ke kotak amal masjid,” kata Mbah Nur dengan suara mantap. Tak seorang pun bisa berkata-kata. Semua terkesima dengan nenek tua berhati lapang yang menjadi tamu tak diundang itu. Tidak disangka, kedermawanan tanpa batas justru datang dari orang seperti itu. Semua terdiam. “Besar kan kambingnya tipe apa itu tadi?” tanyanya.

“Ooo besar Mbah,” jawab ketua panitia. “Tipe C. Besar. Kalau yang kecil itu tipe D, harganya 3 jutaan Mbah…” lanjutnya. “Kalau Mbah mau kurban yang tipe D juga boleh berarti ada sisa uang sebany…”

“Astagfirullah jangan!” Mbah Nur buru-buru memotong. “Kalau uang kambingan Mbah Nur cukup untuk kambing besar kenapa kurban yang kecil toh Mas….” Sergahnya. Semua orang makin tergelagap. Ada bauran tebal di hati dan wajah mereka. Antara kagum dan malu dengan semangat nenek tua yang tinggal di bedengan-bedengan yang bertebaran di belakang komplek itu.

“Mbah,” suara pak profesor honoris causa memecah keheningan. “Bagai…mana… tabungan Mbah selama setahun itu kok bisa pas 3.650.000 rupiah seperti itu ya Mbah…?” dia menggaruk-garuk kepalanya pas di wilayah yang tidak ditumbuhi rambut. Ealaaah prof, prof. Lha kok perkara begini saja perlu dianalisis segala toh? Orang-orang saling berpandangan.

“Mbah Nur ngisi kambingan itu setiap hari 10 ribu, Mas…” katanya. Kami semua tertegun. Kembali terkubur melumut diantara sekantung kagum bercampur haru dan sejumput rasa malu.

“Nggak pernah terlewat sama sekali Mbah?” kata salah seorang dari panitia.
“Yaa endak juga mas. Lha Mbah Nur ini kan tidak setiap hari punya uang. Kalau pas nggak ada uang ya hari itu nggak ngambing,” jawabnya. Ngambing itu sebutan Mbah Nur untuk kegiatan memasukkan uang ke kambingannya. Kalau dipikir-pikir, nenek tua itu cerdas juga ya. Dia menyebutnya Kambingan, bukan Celengan. Kebayang kan kalau tiap hari harus nyeleng? Rasanya gimana gitu. Mulai sekarang, sepertinya kita perlu mengganti kata celengan dengan kambingan seperti yang dilakukan oleh Mbah Nur.

“Lah tapi gimana kok ini Mbah bisa dapat genap tiga juta enam ratus lima puluh ribu rupiah gitu lho mbah?” tanya panitia yang berbadan agak-agak bohay menegaskan perkataan profesor honoris causa. Tentunya dia lebih senang dibilang bohay daripada disebut gendut. “Berarti kan Mbah ngisi cele… emh kambingan itu tiap hari 10 ribu selama 365 hari gitu toh mbah?” paparnya.

“Walah Mas, Mbah Nur nggak tahu hitungan hari-hari. Pokoknya besok selepas motong kurban Mbah Nur sudah niat mau ngambing lagi 10 ribu sehari biar Iedul Adha tahun depan Mbah Nur boleh kurban lagi…” jawab Mbah Nur.

“Oooo berarti selama tahun lalu itu mbah selalu punya uang setiap hari ya mbah… syukur syukur.” Timpal Mas Bohay. “Saya seneng dengernya Mbah,” tambahnya.

“Tiap hari punya uang bagaimana toh Mas,” balas Mbah Nur. “Orang Mbah Nur seringnya hanya bisa makan nasi sama garam kok. Malahan kapan hari itu ya….” Mbah Nur berhenti sejenak seakan-akan sedang berusaha mengingat sesuatu. “Itu kapan itu Mbah Nur pernah nggak punya beras berhari-hari mas.” Penjelasannya membuat kami termangu. “Ya tapi nggak apa-apa juga orang Mbah Nur sudah biasa hidup kekurangan kok Mas. Tinggal puasa saja…” ringan saja si mbah mengatakannya.

Semua orang terkesima menyerimak cerita Mbah Nur selayaknya cucu-cucu sedang mendengarkan eyangnya mendongeng. Tak terkecuali Jack yang bertingkah tak jelas sambil memonyong dan memenyengkan mulutnya yang kalau dilihat oleh ahli fonetik pasti berkesimpulan bahwa gerak bibir Jack berarti “Apa kubilang tadi?!”

Dzulhijjah 5, 1444 Hijriyah.

Jika kantor Anda ingin melakukan training bertema Leadership, Change Management & Organisation Transformation, dan People Development, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.