Thursday , February 29 2024
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Cerita Pendek / SUKET (CERPEN – ESSAI)

SUKET (CERPEN – ESSAI)

Para lelaki lari berhamburan. Kaum perempuan menjerit-jerit. Anak-anak blingsatan. Orang jompo pada melongo. Di jalan becek itu dua laki-laki saling berkejaran. Yang depan memanggul karung. Yang dibelakang berteriak sambil menggenggam arit teracung-acung. Timan lari sekencang-kencangnya. Samin berlari lebih kencang lagi. Tapi ketika kakinya terperosok lubang berlumpur, dia pun jatuh tersungkur. Tubuh Samin membujur. Arit di tangan Timan, mulai terayun. Lalu meluncur…

Pak Lurah memberikan pengarahan pada pegawai kelurahan. “Dibawah kepemimpinan saya,” katanya, “tidak boleh ada warga yang kesulitan mendapatkan suket – surat keterangan. Dan dibawah kepemimpinan saya, tidak boleh ada pungutan sepeserpun untuk setiap pengurusan suket, semisal KTP atau Surat Kelakuan Baik.” Tegasnya. ” Ingat bapak-bapak, kita ini abdi masyarakat. Keberadaan kita disini adalah untuk melayani. Bukan menyusahkan mereka. Apalagi membebani masyarakat dengan pungutan, walaupun diperhalus dengan sebutan ‘biaya administrasi'”.

Jika kantor Anda ingin melakukan training bertema Leadership, Change Management & Organisation Transformation, dan People Development, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

“Maaf Pak Kades,” seorang peserta rapat menyela.

“Lurah, Pak.” Sergah Pak Lurah. “Saya ini Lurah, bukan Kades.” Tambahnya. “Ingat ya bapak-bapak, status daerah kita sudah naik. Kita ini bukan desa lagi. Daerah kita sudah menjadi kelurahan. Lebih bergengsi kan?” Pak Lurah berkata dengan badan yang digagah-gagahkan. “Sebagai lurah pertama, saya berkewajiban melakukan penataan dan perubahan supaya daerah ini menjadi lebih berperadaban.”

Setelah meminta maaf, orang itu melanjutkan. “Selama ini kami tidak meminta imbalan apapun untuk setiap pengurusan suket….” Katanya. “Adapun yang kami terima itu murni tanda kasih dari warga yang telah dibantu mendapat suket.”

“Nah, sikap mental seperti itu harus kita ubah Pak ya. Sesuai undang-undang, abdi negara tidak boleh menerima uang sebagai imbalan atas…”

“Maaf Pak Lurah, kami jarang menerima uang. Warga lebih sering menunjukkan rasa terimakasih berupa ayam, mentimun, lobak, cabe merah atau…”

“Ayaya saya mengerti pak ya. Saya mengerti. Apapun bentuknya itu tidak boleh. Karena semuanya itu dikategorikan sebagai gratifikasi,” Pak Lurah buru-buru menimpali.

Wajah peserta rapat terlihat datar. Sebagiannya nanar. Sesekali saling melirik dan mencolek. Entah apa kecamuk benak mereka. Andai bisa mengintip isi hati, tentu terdengar gerutu ini;”Pak Lurah sih dapat gaji dari pusat. Kami?!”

“Saya mengerti kegundahan bapak-bapak ya. Tapi bayangkan betapa banyak pahala yang kalian dapatkan setiap kali melayani masyarakat yang butuh suket.”

“Maaf Pak Lurah. Bukannya saya lancang,” kata orang itu. “Warga memaksa kami menerimanya. Kalau menolak, mereka tidak mau pulang. Untuk mengurus suket, mereka rela bolak balik berhari-hari atau berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sampai kami menerima pemberiannya…” Hanya orang itu yang memiliki nyali bertanya bahkan berbeda pendapat dengan Pak Lurah. Namanya Sudes. Sebelum lurah ditempatkan di desa itu – sekarang sudah menjadi kelurahan – Sudes sudah 3 kali menjabat sekretaris desa. Dengan berubahnya status desa menjadi kelurahan, pangkat Sudes pun berubah dari Sekdes menjadi Seklur. Walaupun dari segi bunyi seklur itu terdengar lebih merdu karena ada akhiran ‘lur’ yang berkonotasi sebagai dulur atau sedulur – yang bagi masyarakat desa yang sekarang sudah menjadi kelurahan itu berarti saudara – tapi kelihatannya Sudes kurang senang dengan jabatan baru itu.

“Begini Pak Seklur ya. Mengenai hal sebagaimana disebutkan itu saya sudah sepenuhnya paham. Yang mana tentunya hal itu menunjukkan jiwa kegotongroyongan warga kelurahan. Tetapi dalam teori manajemen pemerintahan modern, hal seperti itu kurang praktis sehingga tidak bisa kita lanjutkan….”

Ruang rapat mendadak riuh oleh gemuruh yang meluncur dari mulut orang-orang. Pak Lurah tak mau kehilangan kendali. “Bapak-bapak. Halow, bapak-bapak.” Suara Pak Lurah bertambah tinggi. “Saudara-saudara harap tenang. Harap tenang. Coba saudara yang disana itu,” telunjuk Pak Lurah menjentik. “Ya, saudara yang itu. Harap dengarkan dulu pengarahan dari saya. Maksudnya supaya saudara-saudara semuanya tidak salah paham. Sudah, sudah. Berhenti dulu kasak kusuknya.” Keadaan kembali sunyi. “Saya tadi mengatakan bahwa pemberian warga berupa ayam, pepaya, petei, cabei dan lain-lainnya memang sudah tidak sesuai lagi dengan zaman. Pssst… sst harap diam saudara-saudara. Diam dulu. Dengarkan dulu penjelasan saya sebagai pimpinan tertinggi di kelurahan ini.” Pak Lurah bangkit dari kursinya.

“Bapak-bapak. Kita akan terus menerima pemberian dari warga kelurahan.” Ruang rapat kembali riuh. Tapi kali ini dibarengi wajah sumeringah, senyuman dan suitan. “Yang penting pemberian itu jangan dikait-kaitkan dengan pelayanan untuk mendapatkan suket itu tadi bapak-bapak. Jadi sifatnya itu suka rela.” Hadirin bertepuk tangan. “Adapun sebagai pejabat yang ditugaskan disini saya akan melakukan perubahan mekanismenya sebagai berikut,” Pak Lurah mengeluarkan sebuah benda dari lemari. “Ini bapak-bapak,” katanya sembari meletakkan benda itu diatas meja. “Ini kotak khusus penampungan penerimaan sukarela dari warga kelurahan.” Hadirin terkesan. “Mulai saat ini, warga kelurahan dihimbau untuk memberikan tanda kasih sukarelanya tidak lagi dalam bentuk ayam, singkong atau benda lainnya. Untuk kepraktisan warga sendiri, kita sediakan kotak yang diatasnya sudah dipasangi lubang pemasukan uang.” Sesaat hadirin saling pandang. Lalu riuh lagi bertepuk tangan. Ide perubahan Pak Lurah demi kemajuan kelurahan memang mengagumkan.

“Sebaiknya kotak itu dikunci saja Pak Lurah, biar tidak mengalami kebocoran!” Teriak seseorang di belakang. Wajah Seklur memerah. “O tentu saja,” balas Pak Lurah. “Saya sudah menyiapkan gembok pengaman,” katanya. “Jadi kotaknya digembok seperti ini,” sambil menjengglekkan gembok itu. “Dan untuk alasan keamanan pula kuncinya saya pegang.” Ruang rapat kembali hening.

*
Di desa yang sudah menjadi kelurahan ini Pak Lurah baru 4 bulan menjabat. Sebagai pengganti Kades – Kepala Desa – yang sudah sangat tua namun telah berulang kali terpilih dan belum lama ini mangkat. Biasanya seorang Kades dipilih langsung oleh rakyat. Karena tidak ada yang lebih pantas menggantikannya, Kades yang sudah sepuh itu entah berapa kali terpilih lagi. Seperti peribahasa ‘kesedihan bagi seseorang merupakan sumber kegembiraan bagi seorang yang lainnya’, kematian Kades dalam usianya yang 90 lebih itu menyedihkan warga desa. Tapi kesedihan warga desa atas kematian Kades itu merupakan sumber kegembiraan bagi Sudes. Pasalnya, kemangkatan Pak Kades membuka jalan bagi Sudes untuk naik pangkat dari posisinya sebagai Sekdes. Sebagai Sekdes, Sudes hanya menjadi bayang-bayang dalam jalannya roda pemerintahan desa. Sebentar lagi dia akan menjadi pelaku utama. Paling lambat 3 hari setelah peringatan 7 hari kematian Kades, warga desa harus mengadakan pemilihan Kades baru. Sekedar formalitas saja. Sebab pada kenyataannya, yang menggantikan Kades, selalu Sekdes.

Tapi tampaknya takdir tidak berpihak pada Sudes. Tujuh hari setelah kemangkatan Kades datang surat dari Pak Camat yang menetapkan tidak ada pemilihan Kades pengganti. Dasar hukumnya adalah keputusan Bupati yang disahkan oleh Gubernur dan direstui Menteri Dalam Negeri yang pada intinya memuat tiga hal. Pertama, menaikkan status desa itu menjadi kelurahan. Kedua, pejabat tertinggi berubah dari kepala desa menjadi lurah. Dan ketiga, pejabat yang selanjutnya disebut Lurah itu – bukan Kepala Desa – merupakan orang berpendidikan khusus yang ditunjuk langsung dari pusat. Maka dapat dimengerti kalau sikap Sekdes – sekarang Seklur – sering tidak sejalan dengan Lurah.

Kepala lurah muda itu memang berisi banyak gagasan perubahan. Salah satu bentuk perubahan dalam program kerja 100 harinya adalah mengubah penampakan halaman kantor kelurahan. Tanah lapang yang sebelumnya rimbun ditumbuhi oleh rumput gajah dan rumput pakcong setinggi 2 meteran itu dirasanya kurang artistik. Makdarit Pak Lurah memandang perlu membabatnya lalu menggantinya dengan rumput hibrid yaitu kombinasi antara rumput sintetis dengan rumput alami yang memenuhi standar FLI – Federasi Lelurah Internasional.

Mulanya masyarakat keberatan dengan gagasan perubahan itu. Apalagi setelah tahu harganya yang sangat mahal karena rumput itu harus diimpor dari luar negeri sehingga tentunya akan menguras anggaran yang seharusnya dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tetapi setelah mendengar penjelasan Pak Lurah mengenai pentingnya penggantian dari rumput gajah dan rumput pakcong ke rumput hibrid itu – yaitu, citra kelurahan akan semakin tinggi dan tidak malu kalau ada utusan kelurahan negara lain yang study banding, ditambah lagi kalau suatu saat nanti Pak Menteri atau bahkan Bapak Presiden berkenan datang – akhirnya warga menyetujui ide cemerlang itu.

Memang ada beberapa warga yang ngeyel dengan alasan bahwa Pak Kades yang sudah mangkat itu sengaja menanam rumput gajah dan rumput pakcong dihalaman kantor kelurahan – dulu balai desa – agar masyarakat bisa memanfaatkannya sebagai pakan ternak. Berkat rumput gajah dan rumput pakcong yang ditanam mendiang Kades; ternak kambing dan sapi warga jadi gemuk-gemuk. Dari hasil ternak itu mereka bisa menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang lebih tinggi. Tapi setelah pendekatan persuasif ditambah dengan – meminjam istilah Pak Lurah – subsidi selama masa penyesuaian 1 bulan, orang-orang itu akhirnya sadar.

*
Pak Lurah meletakkan kotak yang sudah digembok itu didekat pintu masuk. Tepat didepan aula pelayanan. “Jadi, pertama-tama warga langsung menuju ke kotak ini. Kemudian setelah memasukkan tanda kasih sukarela barulah menuju ke meja pelayan untuk mengurus suket,” paparnya. “Dengan demikian, pelayanan suket tidak akan seret.” Seraya memasukkan kunci gembok kedalam saku celananya, Pak Lurah kembali melanjutkan rapat.

Namun suara Pak Lurah tersamarkan oleh kegaduhan di halaman kantor kelurahan. “Pak Lurah, tolong Pak Lurah!” mereka teriak histeris. Semua orang berhamburan keluar. Seluruh warga kelurahan berkerumun bersama cemas dan tangis.

“Ada apa ini? Ada apa?” kata Pak Lurah.
“Samin dan Timan Pak Lurah,” seseorang menyodorkan segembung karung dan sebatang arit. “Ini barang buktinya.”
“Barang bukti apa?”

“Timan menguber Samin dengan arit, Pak Lurah.”
“Lo kok begitu? Dizaman modern ini tidak cocok pakai cara seperti itu.”

“Ini gara-gara suket pak Lurah!” seru seseorang. “Iya Pak Lurah, ini gara-gara suket,” Gerowok yang lain. “Dari awal kami keberatan soal suket itu!” Timpal lainnya lagi.

“Nah kan, gara-gara suket!” Pak Lurah berbalik kearah pegawai kelurahan. “Makanya abdi negara mesti sigap melayani masyarakat. Jangan bikin njelimet pengurusan suket. Bikin rakyat mumet!”

“Pak Lurah,” tandas Sudes. “Warga desa ini setiap hari berurusan dengan suket. Maksud suket itu rumput.” Kejudesan Sudes membuat lurah yang berasal dari luar daerah itu pening kepala. “Samin dan Timan bertengkar gara-gara rebutan rumput, suket.” Sudes yang paham permasalahan, pola hidup, dan helaan nafas warga desa itu mendeledehkan. Sejak suket gajah dan suket pakcong diganti dengan rumput hibrid Pak Lurah, warga desa jadi sulit ngarit!

“Oalaahh… apa itu?!” Pak Lurah histeris. Matanya meneratap lapangan rumput hibrid yang diserbu sapi-sapi yang kelaparan. “Punya siapa sapi-sapi itu? Hush hush! Usir jangan sampai sapi kalian merusak rumput hibridku!”

Tak seorangpun merespon perintah Pak Lurah. “Ada apa dengan kalian ini?” Pak Lurah marah. Lalu menghardik sapi-sapi itu. “Woiy hush woiy sapi, pergi kalian dari sini!” Puluhan sapi mendongak ke arah pejabat kiriman dari pusat itu. Lantas secara serempak, mereka melenguh; “Emoooooooohh!!!”

Penulis: Deka Dadang Kadarusman
*) Suket dalam bahasa jawa artinya rumput.

~ Dari kumpulan cerita pendek DeKa ~

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-1989-9737. Sebutkan (1) Nama dan tulis (2) “Dekadarus And Friends Group”. Jumlah member terbatas.

Cerpen lainnya: https://www.dadangkadarusman.com/2023/07/04/manusia-pekerja-cerita-pendek/

#leadership, #leadershipdevelopment,

Jika kantor Anda ingin melakukan training bertema Leadership, Change Management & Organisation Transformation, dan People Development, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.